<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Vavai &#187; tips</title>
	<atom:link href="http://vavai.com/blog/v2/tag/tips/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://vavai.com/blog/v2</link>
	<description>Serendipity of Life</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Jan 2011 00:13:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Menambahkan Kode PHP &amp; Javascript pada Template Smarty</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/12/menambahkan-kode-php-javascript-pada-template-smarty/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/12/menambahkan-kode-php-javascript-pada-template-smarty/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 03:43:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linux]]></category>
		<category><![CDATA[opensuse]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1388</guid>
		<description><![CDATA[Saya mengelola beberapa website dan ada diantaranya yang menggunakan Serendipity blog engine atau  Pligg. Kedua engine tersebut menggunakan Smarty framework yang dibangun dari kode  PHP. Meski menggunakan kode PHP, Smarty memiliki pendekatan yang berbeda dalam menggunakannya. Smarty menggunakan tags-tags khusus yang nantinya diparsing menjadi tampilan html, akibatnya kita tidak bisa secara langsung menambahkan kode PHP [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mengelola beberapa website dan ada diantaranya yang menggunakan <a href="http://s9y.org">Serendipity blog engine</a> atau  <a href="http://pligg.com">Pligg</a>. Kedua engine tersebut menggunakan Smarty framework yang dibangun dari kode  PHP. Meski menggunakan kode PHP, Smarty memiliki pendekatan yang berbeda dalam menggunakannya. Smarty menggunakan tags-tags khusus yang nantinya diparsing menjadi tampilan html, akibatnya kita tidak bisa secara langsung menambahkan kode PHP atau Javascript seperti biasanya</p>
<p>Jika kita ingin menambahkan kode PHP tau Javascript, gunakan tips berikut :</p>
<ol>
<li>Buka file TPL yang diinginkan (tpl adalah ekstension file untuk template Smarty) dan gunakan tags {php} dan {/php} untuk mengapit kode PHP yang diinginkan, contoh :
<pre class="brush: php">
{php}include(&#039;/home//vavai/vavai.net/myphpfile.php&#039;);{/php}
</pre>
<p>Perhatikan bahwa saya lebih cenderung menggunakan path absolute dan bukan path relative untuk penulisan folder</li>
<li>Buka file TPL yang diinginkan dan gunakan tags {literal} dan {/literal} untuk menambahkan kode Javascript seperti contoh berikut ini :
<pre class="brush: php">
{literal}&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;// &lt;![CDATA[
initializetabcontent(&quot;tags_comments&quot;)
// ]]&gt;&lt;/script&gt;{/literal}
</pre>
</li>
</ol>
<p>Pada contoh pertama, kita bisa saja menambahkan kode PHP secara langsung diantara 2 tags namun saya lebih prefer untuk menggunakan file php yang diinclude karena kode jadi lebih bersih, mudah dibaca dan mudah dikelola.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/12/menambahkan-kode-php-javascript-pada-template-smarty/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kurang Produktif = Tidak Memiliki Nilai Tambah</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/08/kurang-produktif-tidak-memiliki-nilai-tambah/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/08/kurang-produktif-tidak-memiliki-nilai-tambah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 02:58:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1349</guid>
		<description><![CDATA[Pada artikel sebelumnya, ada seorang rekan yang balik bertanya, &#8220;Penggunaan internet yang produktif itu seperti apa sih?&#8221;. Wah, ini pertanyaan sulit dan bisa membawa susulan pertanyaan, apapun jenis jawaban yang diberikan. Meski demikian, saya tetap menjawabnya dalam jawaban ringkas, bahwa penggunaan internet yang produktif adalah yang memberikan nilai tambah. Sebenarnya jawaban ini tidak khusus untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada artikel <a href="http://vavai.com/blog/v2/2010/01/06/pengguna-internet-di-indonesia-besar-tapi-kurang-produktif/">sebelumnya</a>, ada seorang <a href="http://pebbie.wordpress.com/">rekan</a> yang balik bertanya, &#8220;Penggunaan internet yang produktif itu seperti apa sih?&#8221;.</p>
<p>Wah, ini pertanyaan sulit dan bisa membawa susulan pertanyaan, apapun jenis jawaban yang diberikan. Meski demikian, saya tetap menjawabnya dalam jawaban ringkas, bahwa penggunaan internet yang produktif adalah yang memberikan nilai tambah.</p>
<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/productif-prioritas.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1350" title="productif-prioritas" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/productif-prioritas.jpg" alt="" width="300" height="400" /></a>Sebenarnya jawaban ini tidak khusus untuk penggunaan internet namun juga untuk semua pekerjaan. Semua orang pasti tahu bahwa tidak mungkin ada suatu kondisi dan keadaan yang cocok pada semua orang, jadi soal produktif atau tidak kembali pada kepentingan si pengguna atau pelakunya.</p>
<p>&#8220;Lho, bagi saya Facebook dan games online produktif kok. Saya bisa mendapat bisnis dari situ, saya juga bisa mendapat banyak manfaat dari situ. Games online juga penting buat hiburan, masya sih jadi orang harus selalu serius, rigid dan nggak bisa santai&#8221;.</p>
<p>Ya, memang benar, karena sayapun tidak mengatakan bahwa Facebook dan games online itu tidak produktif 100%. Ada konteks pembicaraan disitu, yaitu bahwa saya melihatnya dalam situasi dimana Facebook dan games online digunakan sehari-hari secara kurang pas.</p>
<p>Mungkin saja saya bisa salah sangka. Wajar, karena saya tidak mungkin melakukan sensus pada setiap orang.</p>
<p>Kembali pada soal kurang produktif tadi. Masalahnya sebenarnya bisa diperluas bukan hanya soal Facebook dan games online, namun juga pada social media lain, pada soal chatting, pada soal pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan secara harian. Jangan sampai sesuatu yang sifatnya menghibur, mendukung dan membantu kita justru malah menenggelamkan kita.</p>
<p>Pekerjaan yang kurang produktif juga bukan hanya untuk sesuatu yang sifatnya mendukung dan menghibur, melainkan dalam bentuk pekerjaan yang hanya dikerjakan sebatas standar pekerjaan itu saja.</p>
<p>Contoh kasus misalnya dikantor saya. Staff IT saya minta untuk membuat laporan tahunan apa saja yang dikerjakan selama tahun 2009. Ada staff IT yang menulis kegiatan seperti memperbaiki komputer rusak, memperbaiki bug program, jaringan yang bermasalah, pasang pita printer dll.</p>
<p>Apakah itu salah ? Tentu saja tidak, karena itu memang mereka lakukan. Apakah itu produktif ? Tidak, karena apa yang mereka lakukan merupakan sesuatu pekerjaan yang standar, sudah baku, tidak bisa tidak harus dilakukan. Mereka harus lebih produktif dibandingkan sekedar melakukan pekerjaan harian.</p>
<p>Contohnya misalnya, membuat project atau improvement untuk meningkatkan usia penggunaan komputer sekaligus meningkatkan kecepatan respon dan replacement. Kalau dulu membutuhkan waktu hingga 3 jam untuk instalasi sistem dan mengembalikannya pada pihak klien, semestinya ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas pekerjaannya. Beberapa hal berikut bisa menjadi contoh suatu kegiatan dari project improvement yang dimaksud :</p>
<ol>
<li>Membuat duplikat sistem dalam bentuk image virtual yang berisi salinan sistem yang baku. Hal ini akan mengurangi waktu install dan waktu setup</li>
<li>Tidak menyimpan data pada komputer klien. Semua data disimpan di server sehingga komputer klien dapat diganti kapan saja tanpa perlu menyalin data yang selama ini digunakan</li>
<li>Menggunakan model thin-client/LTSP. Selain akan memperpanjang usia penggunaan suatu hardware juga akan mengurangi biaya investasi (harddisk misalnya) sekaligus mengurangi waktu proses untuk deployment sistem</li>
</ol>
<p>Jadi bisa dilihat, dari suatu kegiatan sepele dan biasa-biasa saja bisa dilakukan berbagai hal untuk menghindari masalah.</p>
<p>Dalam sistem Gemba Kaizen, segala hal yang tidak produktif dan tidak memberikan nilai tambah dinamakan muda. Muda bisa berarti pemborosan. Pemborosan waktu, biaya, tenaga, sumber daya, momentum dan lain-lain. Kemampuan melakukan Gemba Kaizen dan mendeteksi muda atau hal-hal yang tidak produktif ini akan sangat bermanfaat bagi kita dalam merumuskan perbaikan-perbaikan sistem.</p>
<p>Kembali ke soal kegiatan yang kurang produktif. Contoh yang paling mudah adalah membuka situs porno. Apakah ini tidak boleh ? Jawabannya tentu kembali kepada diri masing-masing. Apakah membuka situs tersebut akan membuat anda tambah produktif atau justru membuat anda terlena ?</p>
<p>Ada lagi yang perlu diperhatikan, yaitu segala yang berlebihan akan berakibat pada hal yang kurang produktif disisi lain. Ada satu kegiatan positif saya yang jika tidak dikelola dengan baik bisa membuat kegiatan umum saya menjadi kurang produktif, yaitu hobby membaca buku. Jika saya terus menerus membaca buku, mungkin saya akan terlena dan tidak sempat mengerjakan hal-hal prioritas lain yang mestinya saya kerjakan. Membaca buku memang memberikan nilai tambah pengetahuan, hiburan dan kesenangan bagi saya, namun kalau berlebihan saya malah jadi tidak produktif disisi lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/08/kurang-produktif-tidak-memiliki-nilai-tambah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian Kedua, Mestakung</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-kedua-mestakung/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-kedua-mestakung/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 03:13:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Work]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1340</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan Pertama : Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian 1, Man Jadda Wa Jadda Mestakung : Semesta Mendukung Terakhir, awal November 2009 yang baru lalu, saya berpikir untuk merealisasikan rencana lama saya untuk membuat warnet. Saya memang sudah punya warnet di rumah sekarang, namun modalnya dari bapak mertua dan dikelola oleh bapak mertua yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan Pertama : <a href="http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-1-man-jadda-wa-jadda/">Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian 1, Man Jadda Wa Jadda</a></p>
<p><strong>Mestakung : Semesta Mendukung</strong></p>
<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/sunrise.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1341" style="margin: 10px;" title="sunrise" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/sunrise.jpg" alt="" width="406" height="304" /></a>Terakhir, awal November 2009 yang baru lalu, saya berpikir untuk merealisasikan rencana lama saya untuk membuat warnet. Saya memang sudah punya warnet di rumah sekarang, namun modalnya dari bapak mertua dan dikelola oleh bapak mertua yang memang baru saja pensiun. Saya dan Zeze Vavai lebih bertindak sebagai technical support.</p>
<p>Niat saya adalah membuat warnet di rumah orang tua saya di Tambun. Ada banyak alasan untuk membuatnya. Alasan pertama adalah membantu kondisi finansial keluarga. Adik saya masih ada yang sekolah. Keuangan saya terbatas untuk membantu secara penuh. Dalam bayangan saya, membuat warnet sedikit banyak bisa membantu kondisi finansial ini. Alasan kedua adalah agar adik-adik, keluarga dan lingkungan tempat lahir saya bisa belajar banyak soal komputer dan internet, paling tidak saya bisa memberikan tambahan kail bagi mereka dalam berupaya meningkatkan kualitas pekerjaan dan penghidupan.</p>
<p>Membuat warnet merupakan angan jauh saya. Tabungan pribadi (bukan tabungan keluarga) saya hanya ada sekitar 11 jutaan. Uang 11 juta hanya cukup untuk membeli beberapa komputer saja, tapi saya masih cukup beruntung. Ibu saya punya tempat (ruko) yang bisa saya gunakan. Saat orang tua saya bertanya, &#8220;Ini ruko dikontrakkan saja ya, kalau mau bikin warnet nanti saja, kalau uangnya sudah cukup&#8221;, saya jawab, &#8220;Jangan, sekarang saja. Saya akan berusaha untuk bisa jalan pada pertengahan Desember 2009&#8243;</p>
<p>Angan yang mungkin terlalu muluk, bahkan saya juga belum punya bayangan apa mungkin bisa direalisasikan. Tapi saya maju terus. Dengan modal hanya 11 juta, saya memulai cita-cita membuat warnet. 5 juta terambil untuk renovasi bangunan, hanya tersisa 6 juta. Saya belikan komputer, hanya dapat 2 unit, karena saya membeli accessories komputer dan lain-lain, itupun sudah saya kurangi sana-sini.</p>
<p>Meja komputer belum ada, AC belum ada, pintu depan belum ada, instalasi listrik belum dipasang sementara uang tabungan sudah habis hingga kedasarnya. Saya cari akal. Saya membuat training mengenai Zimbra Mail Server. Dapat tambahan yang bisa saya gunakan untuk membeli meja komputer. Warnet belum bisa berjalan karena masih belum beres di fasilitas utama.</p>
<p>Atas dasar perhitungan keuangan pribadi, saya gunakan kartu kredit saya untuk membeli AC. Kini tinggal 2 fasilitas utama yang belum selesai, yaitu pintu depan dan instalasi listrik. Pintu aluminium membutuhkan biaya sekitar 3 juta sementara instalasi listrik antara 1.5 s/d 2 juta. Total sekitar 3 juta.</p>
<p>Beruntung, ada perusahaan yang meminta saya melakukan setting sistem Zimbra Mail Server di kantornya. Sayangnya uangnya menunggu proses penyelesaian bagian keuangan mereka. Karena hasrat saya sudah sedemikian besar, saya rasa akan terlalu lama jika menunggu uang tersebut masuk ke rekening saya. Atas jaminan pendapatan itu, saya meminjam dari seorang teman di kantor dan bisa mendapatkan 2 juta rupiah. Ditambah dengan pendapatan online, uangnya bisa menutup pembuatan pintu aluminium sedangkan instalasi listrik bisa dilakukan dengan pembayaran melalui tempo waktu.</p>
<p>Pertengahan Desember 2009, warnet yang saya cita-citakan mulai berjalan dengan hanya 3 unit komputer. Adik saya yang kebagian tugas sebagai operator ﻿bolak-balik telepon saya, katanya banyak pengunjung yang datang dan terpaksa menunggu giliran.</p>
<p>Saya melihat hal ini sebagai peluang dan kesempatan yang jika tidak segera diambil momentumnya akan  hilang. Atas dasar jaminan project saya yang lain (project migrasi sistem Windows ke Linux, pekerjaan selesai diakhir Desember, estimasi uang masuk diakhir Desember), saya coba menghubungi salah seorang kenalan saya, seorang direktur utama sebuah perusahaan. Saya gambarkan kondisi saya dan kemudian menanyakan apakah memungkinkan jika saya meminjam uang sebesar 10 juta rupiah untuk keperluan menambah komputer.</p>
<p>Ia bertanya apakah uang itu cukup yang saya jawab bahwa uang itu cukup untuk menambah paling tidak 3-4 komputer dan saya masih punya cadangan untuk menggantinya. Ia merespon pinjaman saya dengan baik dan bahkan memberikan 7 buah CPU second dan 2 buah monitor second yang masih bagus dari kantornya. Berkat tambahan biaya dan CPU yang diberikan, saya bisa menambah komputer dari 3 menjadi 12 unit sekaligus melengkapi berbagai accessories komputer yang dibutuhkan.</p>
<p>1 Minggu menjelang bulan Desember 2009, warnet yang saya cita-citakan bisa berjalan penuh dengan jumlah komputer yang memadai. Uang pinjaman dari teman kantor sudah saya kembalikan dan uang pinjaman dari direktur utama yang terakhir saya pinjam sudah saya siapkan pengembaliannya.</p>
<p>Belajar dari hal diatas, saya jadi teringat pada ucapan professor  Yohannes Surya soal Mestakung, yang artinya Semesta Mendukung. Kalau kita punya cita-cita yang kelihatan sulit namun kita bersungguh-sungguh untuk mencapainya, niscaya alam semesta akan mendukung. Ada saja bantuan dan cara yang membantu kita meraih cita-cita dan keinginan tersebut. Mestakung bisa juga disebut sebagai LoA atau Law of Attraction. Saya jadi ingat tulisannya <a href="http://tirtaamijaya.wordpress.com/2008/12/15/tentang-istilah-semesta-mendukung/">pak Nurhana Tirtaamijaya soal Mestakung</a> :</p>
<blockquote><p>Wah, saya jadi sangat tertarik dengan istilah yang baru saya dengar ini…lalu saya minta penjelasan apa makna dari “SEMESTA MENDUKUNG”….</p>
<p>Beliau menjelaskan bahwa dalam fenomena “Innamaa amruhu idza arada syaan anyakulalahu..kun fayakun…” yang artinya ” Bilamana Allah menghendaki sesuatu terjadi dan berfirman terjadi..maka terjadilah..” (ayat 82 Surat Yasiin), implementasi perwujudan didunia ini harus melalui fenomena Hukum Alam “Semesta Mendukung”…yaitu harus didukung oleh situasi dan kondisi kehidupan masyarakat dunia (Ideologi, Politik, Ekonomi, Budaya/spiritual/agama, Keamanan) yang kondusif/sesuai pula….</p></blockquote>
<p>Jadi, jangan menyerah pada kekurangan yang ada. Segala sesuatu yang tidak mengakhiri hidup kita hanya akan memperkuat diri kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-kedua-mestakung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian 1, Man Jadda Wajada</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-1-man-jadda-wa-jadda/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-1-man-jadda-wa-jadda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 02:48:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Work]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1339</guid>
		<description><![CDATA[Mumpung masih suasana tahun baru 2010, saya menulis artikel ini. Niatnya sebenarnya hendak saya tulis pada tanggal 1 Januari 2010 namun apa daya, saya lupa, . Karena terlalu panjang, tulisannya saya bagi menjadi 2 bagian. Mohon dipahami bahwa tulisan saya difokuskan dan diniatkan sebagai upaya berbagi, tanpa maksud mengurangi atau melebih-lebihkan sesuatu. *** Kudengar gemuruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mumpung masih suasana tahun baru 2010, saya menulis artikel ini. Niatnya sebenarnya hendak saya tulis pada tanggal 1 Januari 2010 namun apa daya, saya lupa, <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  . Karena terlalu panjang, tulisannya saya bagi menjadi 2 bagian.</p>
<p>Mohon dipahami bahwa tulisan saya difokuskan dan diniatkan sebagai upaya berbagi, tanpa maksud mengurangi atau melebih-lebihkan sesuatu.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;"><em>Kudengar gemuruh ombak lautan</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Nyanyian daun-daun dan serangga malam</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Angin mendesau membisikkan sesuatu</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Dan bau tanah pegunungan memanggiliku</em></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><em>Maka kutinggalkan rumah dan ranjang mimpi</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Pergi mengembara ke belantara sunyi</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Menyeret ransel sarat beban</em></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><em>Oh, apa yang sebenarnya kau buru</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Lakon apa yang ingin kau mainkan</em></p>
<p style="text-align: left;">
<p><em>Ya, akulah si pengembara</em></p>
<p><em>Terus bergerak kearah cakrawala</em></p>
<p><em>Walau beribu kali tersungkur kenyataan</em></p>
<p><em>Jiwaku menolak kebuntuan jalan&#8230;</em></p>
<p><strong>Man Jadda WaJadda, Siapa Bersungguh-Sungguh akan Berhasil</strong></p>
<p>Puisi diatas saya sarikan dari salah satu episode Balada si Roy. Ceritanya memang tentang seorang pendaki, pencinta petualangan (avonturir, adventure) tapi yang lebih saya tekankan adalah 2 baris terakhir.</p>
<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/sunrise.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1341" style="margin: 10px;" title="sunrise" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/sunrise.jpg" alt="" width="406" height="304" /></a>Saya kerap mendengar teman-teman mahasiswa dan teman-teman kerja yang mengeluh soal fasilitas, soal peluang dan soal pekerjaan. Yang mahasiswa mengeluh karena ia tidak punya cukup uang untuk membiayai kuliahnya. Ia tidak bisa menguasai materi-materi ilmu komputer karena tidak punya perangkat komputer. Tidak bisa menggunakan email karena tidak punya uang untuk ke warnet. Yang sudah bekerja mengeluh karena pekerjaannya tidak bonafid. Tidak bekerja di gedung bertingkat. Tidak bekerja sesuai keinginan, latar belakang pendidikan dan kemampuan. Ada lagi yang mengeluh karena orang tuanya hanya bisa memberikan biaya sekolah sebatas sekolah menengah. Mau bekerja sulit karena perusahaan justru banyak yang mengurangi pekerjanya. Mau berusaha sulit karena tidak punya modal.</p>
<p>Sebenarnya masalahnya apa sih ? Saya melihat masalahnya bukan pada kesempatan yang tidak ada melainkan pada kekalahan dan penyerahan diri pada kekurangan hidup.</p>
<p>Tidak usah menunggu nasib berubah dengan sendirinya. Tidak usah menunggu segala fasilitas ada. Apa yang bisa kita lakukan harus kita lakukan.</p>
<p>Terus terang saya aneh kalau mendengar ada orang yang sampai kelaparan atau ada anak muda yang terpaksa berbuat kejahatan hanya karena lapar. Bukan saya tidak simpati pada mereka namun semestinya ada jalan lain untuk mengatasi kesulitan hidup.</p>
<p>Saya memang orang asli Bekasi yang lahir dan besar di Bekasi dan belum pernah merantau seperti hanya rekan-rekan yang lain tapi saya pernah membayangkan bahwa andaikata saya merantau kesuatu tempat dan tidak punya uang untuk menyambung hidup, saya akan pergi ke pasar untuk menjual jasa saya. Apakah saya membantu-bantu pedagang atau melakukan pekerjaan kasar lainnya. Saya tidak akan merasa hina melakukan hal demikian karena saya mempergunakan akal, kemampuan dan daya guna saya untuk mengatasi masalah saya sendiri.</p>
<p>Saya pernah menemukan seorang teman saya di kampus. Ia menjadi office boy di kampus, saat siang hingga sore hari ia berjualan cabai dan bawang di depan pasar baru Bekasi. Ternyata malamnya ia kuliah. Selesai kuliah ia bisa mengembangkan usaha dia. Saya benar-benar appreciate. Dia orang pendatang. Kalau dia tidak berusaha dia tidak akan sukses, salah-salah dia bisa terkubur ditempat rantaunya. Ya, dia memang capai dan lelah tapi apa bedanya toh tidak berbuat apa-apa juga tetap lelah kok.</p>
<p>Kadang saya ingin bilang pada mahasiswa, kalau kalian memang kuliah dibidang ilmu komputer, usahakan punya komputer. Kalau tidak punya uang untuk membelinya, jangan patah semangat. Ada berbagai cara untuk bisa mendapatkannya secara halal. Bisa dengan menulis artikel, bisa dengan memberikan kursus, private, menjadi operator warnet dan lain-lain.</p>
<p>Saya masih ingat, pada pertengahan tahun 1999, saya belum punya komputer, padahal saya kuliah dibidang komputer. Saya bingung dan khawatir, ijazah saya nantinya memang sarjana komputer tapi kalau saya tidak familiar dan kurang menguasai komputer, apa saya bisa percaya diri untuk bekerja dibidang itu ?</p>
<p>Akhirnya saya ambil kesempatan menjadi Assisten lab komputer karena menjadi assisten lab artinya saya bisa menggunakan komputer sepuasnya. Lama-lama saya kepikiran untuk membeli komputer tapi gaji sebagai assisten hanya cukup untuk biaya makan (saya kelahiran Tambun-Bekasi tapi indekost di Bekasi dekat kampus). Berpikir sana-sini ternyata jalannya ada, yaitu saya mengajar private. Saya masih ingat mengajar private untuk persiapan anak-anak yang hendak membuat skripsi. Saya memberikan private bahasa pemrogramman. Saya mendapatkan uang sekitar 1.5 juta untuk 4 orang.</p>
<p>Uang sebesar itu saya belikan komputer bekas, dapat komputer pentium III. Saya cicil tambahannya, saya sisihkan gaji assisten untuk bisa membeli monitor, keyboard, mouse, joystick dan menambah memori.</p>
<p>Punya komputer membuat saya lebih produktif. Saya bisa membuat aplikasi sistem untuk perusahaan. Uang yang didapatkan bisa saya gunakan untuk membeli komputer yang lebih cepat. Dengan komputer yang lebih cepat saya bisa belajar lebih banyak. Terus menerus terduplikasi.</p>
<p>Prinsip yang sama berlaku saat saya membeli rumah yang sekarang saya tempati. Saya masih ingat, saat saya tanya pada pemilik sebelumnya, berapa biayanya, saya hanya bisa tersenyum getir karena harganya lebih dari 20X dari total tabungan saya. Saya katakan pada isteri saya, ini <em>mission impossible</em>, lebih baik lupakan mimpi-mimpi membeli rumah seperti itu. Mungkin bisa membeli rumah yang lebih jauh di pelosok dengan ukuran yang sederhana. Karena isteri bilang, lebih baik berusaha dulu, ok, saya usahakan. Saya kumpulkan semua tabungan, saya upayakan segala cara (yang normal dan halal), saya cari tahu mekanisme pembiayaan yang bisa saya peroleh, akhirnya rumah tersebut bisa saya dapatkan, meski awalnya masih kosong melompong dan saya sempat tidur melantai beberapa waktu.</p>
<p>Soal pekerjaan juga mirip. Jangan mengeluh hanya karena kita bekerja di perusahaan yang biasa-biasa saja. Lihatlah hal tersebut sebagai kesempatan bagi kita untuk bisa lebih mengembangkan kualitas pribadi dan lebih dikenal oleh atasan. Jangan terpengaruh pada kesan negatif lingkungan atau orang sekitar. Ingat selalu, hidup susah ataupun senang, kita juga yang menjalaninya.</p>
<p>Saat pertama bekerja, saya masih sebagai operator produksi, level paling bawah dalam sistem manufaktur. Kalau saya sekarang bisa bekerja dengan staff sebanyak 8 orang itu setelah menjalani proses selama 6 tahun. Orang lain mungkin sudah jauh lebih tinggi namun dengan berkaca pada pengalaman pribadi saya, saya menikmati pekerjaan saya sekarang ini.</p>
<p>Dari pengalaman diatas saya jadi ingat buku Negeri Lima Menara dengan prinsip utama Man Jadda Wajada, pepatah Arab yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Ya, kalau kita bersungguh-sungguh, akan selalu ada jalan atas setiap kesulitan yang kita alami.</p>
<p>Berlanjut ke bagian kedua : <a href="http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-kedua-mestakung/">Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian Kedua, Mestakung</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-1-man-jadda-wa-jadda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pencari Kerja dan Lowongan Pekerjaan</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2008/12/12/pencari-kerja-dan-lowongan-pekerjaan/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2008/12/12/pencari-kerja-dan-lowongan-pekerjaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 08:10:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Masim &#34;Vavai&#34; Sugianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Work]]></category>
		<category><![CDATA[job]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Bukan sekali dua saya mendengar dan membaca keluhan mengenai sulitnya mendapat pekerjaan. Krisis finansial yang berimbas pada kondisi ekonomi di Indonesia membuat hal ini semakin menjadi. Saya tentu bersimpati pada teman-teman yang sedang dalam posisi mencari kerja karena saya pernah dan ada kemungkinan mengalami kondisi yang sama. Saya tidak membahas aspek krisis finansial yang terjadi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-59 alignleft" style="margin: 5px;" title="jobless-1" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2008/12/jobless-1.jpg" alt="jobless-1" width="180" height="200" />Bukan sekali dua saya mendengar dan membaca keluhan mengenai sulitnya mendapat pekerjaan. Krisis finansial yang berimbas pada kondisi ekonomi di Indonesia membuat hal ini semakin menjadi. Saya tentu bersimpati pada teman-teman yang sedang dalam posisi mencari kerja karena saya pernah dan ada kemungkinan mengalami kondisi yang sama.</p>
<p>Saya tidak membahas aspek krisis finansial yang terjadi. Saya justru ingin menyoroti mengenai fakta timpangnya kebutuhan tenaga kerja dengan jumlah tenaga kerja yang sesuai.</p>
<p>Tiap ada job fair pelamar kerja memang membludak. Tiap ada lowongan cukup banyak pelamar yang datang. Yang menjadi masalah, banyak perusahaan yang kesulitan mencari tenaga kerja yang sesuai dengan spesifikasi teknis yang diinginkan.</p>
<p><img class="size-full wp-image-60 alignright" style="margin: 5px;" title="jobless" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2008/12/jobless.jpg" alt="jobless" width="400" height="260" />Contoh paling mudah adalah bagian IT tempat dimana saya melakukan interview. Mencari kandidat programmer dan technical support sangat sulit. Faktor salary memang menjadi salah satu <em>bottleneck</em> namun masalahnya bukan sekedar salary. Justru lebih sering saya menolak kandidat karena mereka gagal di soal test algoritma dasar dan programming dasar.</p>
<p>Fenomena ini tidak hanya terjadi pada bagian IT. Bagian Workshop dan Warehouse ditempat saya juga mengalami hal yang sama. Jadi, kesimpulan awal saya adalah adanya pola yang tidak sinkron antara kualifikasi pelamar kerja yang sedemikian banyak dengan spesifikasi kualifikasi yang dibutuhkan.</p>
<p>Jika anda menjadi salah satu dari sekian banyak pelamar kerja, sudah berusaha melamar kerja namun belum berhasil, sudah beberapa kali interview tapi gagal, coba pertimbangkan dan renungkan kembali sebab kegagalan anda. Berikut adalah beberapa hal yang bisa menjadi masukan :</p>
<ol>
<li>Check apakah kualifikasi sudah sesuai dengan yang dibutuhkan atau tidak ? Jika belum, upayakan agar kita bisa menguasainya. Saat ini gagal insya Allah nantinya berhasil. Banyak pelamar kerja yang membiarkan kegagalan karena kualifikasi ini namun membiarkannya menjadi sebab yang menahun. Jika perlu kursus, ambillah kursus. Kalau perlu beli buku, belilah buku</li>
<li>Check apakah lamaran kerja anda sudah mencerminkan kualitas anda. Banyak dari pelamar kerja yang bahkan salah menulis nama perusahaan karena kebiasaan copy-paste. Jadikan lamaran kerja anda sebagai sesuatu yang benar-benar personal. Periksa kembali apakah kata-kata dan susunan kalimatnya sudah benar. Periksa kembali apakah cerminan kata-kata sudah sesuai dengan yang anda maksudkan. Jangan malas mengubah kalimat, layout dan menambah isi lamaran kerja jika hal tersebut bisa melengkapi kualifikasi anda. Lamaran kerja dan CV merupakan media awal perkenalan anda, jadi, buatlah sebaik mungkin</li>
<li>Fokus. Jika anda ingin bekerja di dunia IT, fokuslah pada kualifikasi yang dibutuhkan. Saya tidak melarang jika anda dengan melamar juga posisi lain sebagai batu loncatan tapi jangan lakukan hal tersebut atas sebab sekedar mengisi waktu, atau sekedar iseng siapa tahu berhasil, atau karena kepepet. Lakukan setiap pekerjaan dengan fokus penuh dan lakukan segalanya secara serius. Upaya yang buruk akan menghasilkan bentuk yang buruk pula. Meski tidak langsung, hal ini akan membebani anda dikemudian hari</li>
<li>Jangan lupa berdoa. Berdoalah, meski anda tidak yakin sekalipun. Berdoa adalah bagian dari kepercayaan diri kita</li>
<li>Evaluasi setiap kegagalan. Jangan tenggelam pada kegagalan dan jangan biarkan sebab kegagalan. Janganlah anda gagal dua kali untuk sebab yang sama</li>
</ol>
<p>Pelamar kerja mungkin berjumlah ribuan atau ratusan ribu, tapi jika anda memiliki kualifikasi yang cemerlang dan kualitas yang baik, cepat atau lambat perusahaan akan memanggil anda. Jikapun tidak, anda akan menemukan banyak peluang dengan kemampuan anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2008/12/12/pencari-kerja-dan-lowongan-pekerjaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

