<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Vavai &#187; Work</title>
	<atom:link href="http://vavai.com/blog/v2/category/work/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://vavai.com/blog/v2</link>
	<description>Serendipity of Life</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Jan 2011 00:13:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian Kedua, Mestakung</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-kedua-mestakung/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-kedua-mestakung/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 03:13:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Work]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1340</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan Pertama : Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian 1, Man Jadda Wa Jadda Mestakung : Semesta Mendukung Terakhir, awal November 2009 yang baru lalu, saya berpikir untuk merealisasikan rencana lama saya untuk membuat warnet. Saya memang sudah punya warnet di rumah sekarang, namun modalnya dari bapak mertua dan dikelola oleh bapak mertua yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan Pertama : <a href="http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-1-man-jadda-wa-jadda/">Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian 1, Man Jadda Wa Jadda</a></p>
<p><strong>Mestakung : Semesta Mendukung</strong></p>
<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/sunrise.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1341" style="margin: 10px;" title="sunrise" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/sunrise.jpg" alt="" width="406" height="304" /></a>Terakhir, awal November 2009 yang baru lalu, saya berpikir untuk merealisasikan rencana lama saya untuk membuat warnet. Saya memang sudah punya warnet di rumah sekarang, namun modalnya dari bapak mertua dan dikelola oleh bapak mertua yang memang baru saja pensiun. Saya dan Zeze Vavai lebih bertindak sebagai technical support.</p>
<p>Niat saya adalah membuat warnet di rumah orang tua saya di Tambun. Ada banyak alasan untuk membuatnya. Alasan pertama adalah membantu kondisi finansial keluarga. Adik saya masih ada yang sekolah. Keuangan saya terbatas untuk membantu secara penuh. Dalam bayangan saya, membuat warnet sedikit banyak bisa membantu kondisi finansial ini. Alasan kedua adalah agar adik-adik, keluarga dan lingkungan tempat lahir saya bisa belajar banyak soal komputer dan internet, paling tidak saya bisa memberikan tambahan kail bagi mereka dalam berupaya meningkatkan kualitas pekerjaan dan penghidupan.</p>
<p>Membuat warnet merupakan angan jauh saya. Tabungan pribadi (bukan tabungan keluarga) saya hanya ada sekitar 11 jutaan. Uang 11 juta hanya cukup untuk membeli beberapa komputer saja, tapi saya masih cukup beruntung. Ibu saya punya tempat (ruko) yang bisa saya gunakan. Saat orang tua saya bertanya, &#8220;Ini ruko dikontrakkan saja ya, kalau mau bikin warnet nanti saja, kalau uangnya sudah cukup&#8221;, saya jawab, &#8220;Jangan, sekarang saja. Saya akan berusaha untuk bisa jalan pada pertengahan Desember 2009&#8243;</p>
<p>Angan yang mungkin terlalu muluk, bahkan saya juga belum punya bayangan apa mungkin bisa direalisasikan. Tapi saya maju terus. Dengan modal hanya 11 juta, saya memulai cita-cita membuat warnet. 5 juta terambil untuk renovasi bangunan, hanya tersisa 6 juta. Saya belikan komputer, hanya dapat 2 unit, karena saya membeli accessories komputer dan lain-lain, itupun sudah saya kurangi sana-sini.</p>
<p>Meja komputer belum ada, AC belum ada, pintu depan belum ada, instalasi listrik belum dipasang sementara uang tabungan sudah habis hingga kedasarnya. Saya cari akal. Saya membuat training mengenai Zimbra Mail Server. Dapat tambahan yang bisa saya gunakan untuk membeli meja komputer. Warnet belum bisa berjalan karena masih belum beres di fasilitas utama.</p>
<p>Atas dasar perhitungan keuangan pribadi, saya gunakan kartu kredit saya untuk membeli AC. Kini tinggal 2 fasilitas utama yang belum selesai, yaitu pintu depan dan instalasi listrik. Pintu aluminium membutuhkan biaya sekitar 3 juta sementara instalasi listrik antara 1.5 s/d 2 juta. Total sekitar 3 juta.</p>
<p>Beruntung, ada perusahaan yang meminta saya melakukan setting sistem Zimbra Mail Server di kantornya. Sayangnya uangnya menunggu proses penyelesaian bagian keuangan mereka. Karena hasrat saya sudah sedemikian besar, saya rasa akan terlalu lama jika menunggu uang tersebut masuk ke rekening saya. Atas jaminan pendapatan itu, saya meminjam dari seorang teman di kantor dan bisa mendapatkan 2 juta rupiah. Ditambah dengan pendapatan online, uangnya bisa menutup pembuatan pintu aluminium sedangkan instalasi listrik bisa dilakukan dengan pembayaran melalui tempo waktu.</p>
<p>Pertengahan Desember 2009, warnet yang saya cita-citakan mulai berjalan dengan hanya 3 unit komputer. Adik saya yang kebagian tugas sebagai operator ﻿bolak-balik telepon saya, katanya banyak pengunjung yang datang dan terpaksa menunggu giliran.</p>
<p>Saya melihat hal ini sebagai peluang dan kesempatan yang jika tidak segera diambil momentumnya akan  hilang. Atas dasar jaminan project saya yang lain (project migrasi sistem Windows ke Linux, pekerjaan selesai diakhir Desember, estimasi uang masuk diakhir Desember), saya coba menghubungi salah seorang kenalan saya, seorang direktur utama sebuah perusahaan. Saya gambarkan kondisi saya dan kemudian menanyakan apakah memungkinkan jika saya meminjam uang sebesar 10 juta rupiah untuk keperluan menambah komputer.</p>
<p>Ia bertanya apakah uang itu cukup yang saya jawab bahwa uang itu cukup untuk menambah paling tidak 3-4 komputer dan saya masih punya cadangan untuk menggantinya. Ia merespon pinjaman saya dengan baik dan bahkan memberikan 7 buah CPU second dan 2 buah monitor second yang masih bagus dari kantornya. Berkat tambahan biaya dan CPU yang diberikan, saya bisa menambah komputer dari 3 menjadi 12 unit sekaligus melengkapi berbagai accessories komputer yang dibutuhkan.</p>
<p>1 Minggu menjelang bulan Desember 2009, warnet yang saya cita-citakan bisa berjalan penuh dengan jumlah komputer yang memadai. Uang pinjaman dari teman kantor sudah saya kembalikan dan uang pinjaman dari direktur utama yang terakhir saya pinjam sudah saya siapkan pengembaliannya.</p>
<p>Belajar dari hal diatas, saya jadi teringat pada ucapan professor  Yohannes Surya soal Mestakung, yang artinya Semesta Mendukung. Kalau kita punya cita-cita yang kelihatan sulit namun kita bersungguh-sungguh untuk mencapainya, niscaya alam semesta akan mendukung. Ada saja bantuan dan cara yang membantu kita meraih cita-cita dan keinginan tersebut. Mestakung bisa juga disebut sebagai LoA atau Law of Attraction. Saya jadi ingat tulisannya <a href="http://tirtaamijaya.wordpress.com/2008/12/15/tentang-istilah-semesta-mendukung/">pak Nurhana Tirtaamijaya soal Mestakung</a> :</p>
<blockquote><p>Wah, saya jadi sangat tertarik dengan istilah yang baru saya dengar ini…lalu saya minta penjelasan apa makna dari “SEMESTA MENDUKUNG”….</p>
<p>Beliau menjelaskan bahwa dalam fenomena “Innamaa amruhu idza arada syaan anyakulalahu..kun fayakun…” yang artinya ” Bilamana Allah menghendaki sesuatu terjadi dan berfirman terjadi..maka terjadilah..” (ayat 82 Surat Yasiin), implementasi perwujudan didunia ini harus melalui fenomena Hukum Alam “Semesta Mendukung”…yaitu harus didukung oleh situasi dan kondisi kehidupan masyarakat dunia (Ideologi, Politik, Ekonomi, Budaya/spiritual/agama, Keamanan) yang kondusif/sesuai pula….</p></blockquote>
<p>Jadi, jangan menyerah pada kekurangan yang ada. Segala sesuatu yang tidak mengakhiri hidup kita hanya akan memperkuat diri kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-kedua-mestakung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian 1, Man Jadda Wajada</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-1-man-jadda-wa-jadda/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-1-man-jadda-wa-jadda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 02:48:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Work]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1339</guid>
		<description><![CDATA[Mumpung masih suasana tahun baru 2010, saya menulis artikel ini. Niatnya sebenarnya hendak saya tulis pada tanggal 1 Januari 2010 namun apa daya, saya lupa, . Karena terlalu panjang, tulisannya saya bagi menjadi 2 bagian. Mohon dipahami bahwa tulisan saya difokuskan dan diniatkan sebagai upaya berbagi, tanpa maksud mengurangi atau melebih-lebihkan sesuatu. *** Kudengar gemuruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mumpung masih suasana tahun baru 2010, saya menulis artikel ini. Niatnya sebenarnya hendak saya tulis pada tanggal 1 Januari 2010 namun apa daya, saya lupa, <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  . Karena terlalu panjang, tulisannya saya bagi menjadi 2 bagian.</p>
<p>Mohon dipahami bahwa tulisan saya difokuskan dan diniatkan sebagai upaya berbagi, tanpa maksud mengurangi atau melebih-lebihkan sesuatu.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;"><em>Kudengar gemuruh ombak lautan</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Nyanyian daun-daun dan serangga malam</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Angin mendesau membisikkan sesuatu</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Dan bau tanah pegunungan memanggiliku</em></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><em>Maka kutinggalkan rumah dan ranjang mimpi</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Pergi mengembara ke belantara sunyi</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Menyeret ransel sarat beban</em></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><em>Oh, apa yang sebenarnya kau buru</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Lakon apa yang ingin kau mainkan</em></p>
<p style="text-align: left;">
<p><em>Ya, akulah si pengembara</em></p>
<p><em>Terus bergerak kearah cakrawala</em></p>
<p><em>Walau beribu kali tersungkur kenyataan</em></p>
<p><em>Jiwaku menolak kebuntuan jalan&#8230;</em></p>
<p><strong>Man Jadda WaJadda, Siapa Bersungguh-Sungguh akan Berhasil</strong></p>
<p>Puisi diatas saya sarikan dari salah satu episode Balada si Roy. Ceritanya memang tentang seorang pendaki, pencinta petualangan (avonturir, adventure) tapi yang lebih saya tekankan adalah 2 baris terakhir.</p>
<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/sunrise.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1341" style="margin: 10px;" title="sunrise" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/sunrise.jpg" alt="" width="406" height="304" /></a>Saya kerap mendengar teman-teman mahasiswa dan teman-teman kerja yang mengeluh soal fasilitas, soal peluang dan soal pekerjaan. Yang mahasiswa mengeluh karena ia tidak punya cukup uang untuk membiayai kuliahnya. Ia tidak bisa menguasai materi-materi ilmu komputer karena tidak punya perangkat komputer. Tidak bisa menggunakan email karena tidak punya uang untuk ke warnet. Yang sudah bekerja mengeluh karena pekerjaannya tidak bonafid. Tidak bekerja di gedung bertingkat. Tidak bekerja sesuai keinginan, latar belakang pendidikan dan kemampuan. Ada lagi yang mengeluh karena orang tuanya hanya bisa memberikan biaya sekolah sebatas sekolah menengah. Mau bekerja sulit karena perusahaan justru banyak yang mengurangi pekerjanya. Mau berusaha sulit karena tidak punya modal.</p>
<p>Sebenarnya masalahnya apa sih ? Saya melihat masalahnya bukan pada kesempatan yang tidak ada melainkan pada kekalahan dan penyerahan diri pada kekurangan hidup.</p>
<p>Tidak usah menunggu nasib berubah dengan sendirinya. Tidak usah menunggu segala fasilitas ada. Apa yang bisa kita lakukan harus kita lakukan.</p>
<p>Terus terang saya aneh kalau mendengar ada orang yang sampai kelaparan atau ada anak muda yang terpaksa berbuat kejahatan hanya karena lapar. Bukan saya tidak simpati pada mereka namun semestinya ada jalan lain untuk mengatasi kesulitan hidup.</p>
<p>Saya memang orang asli Bekasi yang lahir dan besar di Bekasi dan belum pernah merantau seperti hanya rekan-rekan yang lain tapi saya pernah membayangkan bahwa andaikata saya merantau kesuatu tempat dan tidak punya uang untuk menyambung hidup, saya akan pergi ke pasar untuk menjual jasa saya. Apakah saya membantu-bantu pedagang atau melakukan pekerjaan kasar lainnya. Saya tidak akan merasa hina melakukan hal demikian karena saya mempergunakan akal, kemampuan dan daya guna saya untuk mengatasi masalah saya sendiri.</p>
<p>Saya pernah menemukan seorang teman saya di kampus. Ia menjadi office boy di kampus, saat siang hingga sore hari ia berjualan cabai dan bawang di depan pasar baru Bekasi. Ternyata malamnya ia kuliah. Selesai kuliah ia bisa mengembangkan usaha dia. Saya benar-benar appreciate. Dia orang pendatang. Kalau dia tidak berusaha dia tidak akan sukses, salah-salah dia bisa terkubur ditempat rantaunya. Ya, dia memang capai dan lelah tapi apa bedanya toh tidak berbuat apa-apa juga tetap lelah kok.</p>
<p>Kadang saya ingin bilang pada mahasiswa, kalau kalian memang kuliah dibidang ilmu komputer, usahakan punya komputer. Kalau tidak punya uang untuk membelinya, jangan patah semangat. Ada berbagai cara untuk bisa mendapatkannya secara halal. Bisa dengan menulis artikel, bisa dengan memberikan kursus, private, menjadi operator warnet dan lain-lain.</p>
<p>Saya masih ingat, pada pertengahan tahun 1999, saya belum punya komputer, padahal saya kuliah dibidang komputer. Saya bingung dan khawatir, ijazah saya nantinya memang sarjana komputer tapi kalau saya tidak familiar dan kurang menguasai komputer, apa saya bisa percaya diri untuk bekerja dibidang itu ?</p>
<p>Akhirnya saya ambil kesempatan menjadi Assisten lab komputer karena menjadi assisten lab artinya saya bisa menggunakan komputer sepuasnya. Lama-lama saya kepikiran untuk membeli komputer tapi gaji sebagai assisten hanya cukup untuk biaya makan (saya kelahiran Tambun-Bekasi tapi indekost di Bekasi dekat kampus). Berpikir sana-sini ternyata jalannya ada, yaitu saya mengajar private. Saya masih ingat mengajar private untuk persiapan anak-anak yang hendak membuat skripsi. Saya memberikan private bahasa pemrogramman. Saya mendapatkan uang sekitar 1.5 juta untuk 4 orang.</p>
<p>Uang sebesar itu saya belikan komputer bekas, dapat komputer pentium III. Saya cicil tambahannya, saya sisihkan gaji assisten untuk bisa membeli monitor, keyboard, mouse, joystick dan menambah memori.</p>
<p>Punya komputer membuat saya lebih produktif. Saya bisa membuat aplikasi sistem untuk perusahaan. Uang yang didapatkan bisa saya gunakan untuk membeli komputer yang lebih cepat. Dengan komputer yang lebih cepat saya bisa belajar lebih banyak. Terus menerus terduplikasi.</p>
<p>Prinsip yang sama berlaku saat saya membeli rumah yang sekarang saya tempati. Saya masih ingat, saat saya tanya pada pemilik sebelumnya, berapa biayanya, saya hanya bisa tersenyum getir karena harganya lebih dari 20X dari total tabungan saya. Saya katakan pada isteri saya, ini <em>mission impossible</em>, lebih baik lupakan mimpi-mimpi membeli rumah seperti itu. Mungkin bisa membeli rumah yang lebih jauh di pelosok dengan ukuran yang sederhana. Karena isteri bilang, lebih baik berusaha dulu, ok, saya usahakan. Saya kumpulkan semua tabungan, saya upayakan segala cara (yang normal dan halal), saya cari tahu mekanisme pembiayaan yang bisa saya peroleh, akhirnya rumah tersebut bisa saya dapatkan, meski awalnya masih kosong melompong dan saya sempat tidur melantai beberapa waktu.</p>
<p>Soal pekerjaan juga mirip. Jangan mengeluh hanya karena kita bekerja di perusahaan yang biasa-biasa saja. Lihatlah hal tersebut sebagai kesempatan bagi kita untuk bisa lebih mengembangkan kualitas pribadi dan lebih dikenal oleh atasan. Jangan terpengaruh pada kesan negatif lingkungan atau orang sekitar. Ingat selalu, hidup susah ataupun senang, kita juga yang menjalaninya.</p>
<p>Saat pertama bekerja, saya masih sebagai operator produksi, level paling bawah dalam sistem manufaktur. Kalau saya sekarang bisa bekerja dengan staff sebanyak 8 orang itu setelah menjalani proses selama 6 tahun. Orang lain mungkin sudah jauh lebih tinggi namun dengan berkaca pada pengalaman pribadi saya, saya menikmati pekerjaan saya sekarang ini.</p>
<p>Dari pengalaman diatas saya jadi ingat buku Negeri Lima Menara dengan prinsip utama Man Jadda Wajada, pepatah Arab yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Ya, kalau kita bersungguh-sungguh, akan selalu ada jalan atas setiap kesulitan yang kita alami.</p>
<p>Berlanjut ke bagian kedua : <a href="http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-kedua-mestakung/">Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian Kedua, Mestakung</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-1-man-jadda-wa-jadda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Improvement Sistem : Antara Kepekaan &amp; Genchi Genbutsu</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/05/improvement-sistem-antara-kepekaan-genchi-genbutsu/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/05/improvement-sistem-antara-kepekaan-genchi-genbutsu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 21:33:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Work]]></category>
		<category><![CDATA[Genchi Genbutsu]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1330</guid>
		<description><![CDATA[Tadi malam saya mengantar Zeze Vavai ke dokter untuk check up kesehatan di salah satu Rumah Sakit Ibu &#38; Anak di Bekasi. Zeze Vavai batuk dan pilek beberapa hari belakangan ini. Sampai di RSIA sekitar pukul 18:30, kami langsung ke ruang pendaftaran. Ternyata disana sudah ada kerumunan orang (pasien atau keluarga pasien) yang mengurus pendaftaran. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tadi malam saya mengantar Zeze Vavai ke dokter untuk check up kesehatan di salah satu Rumah Sakit Ibu &amp; Anak di Bekasi. Zeze Vavai batuk dan pilek beberapa hari belakangan ini.</p>
<p>Sampai di RSIA sekitar pukul 18:30, kami langsung ke ruang pendaftaran. Ternyata disana sudah ada kerumunan orang (pasien atau keluarga pasien) yang mengurus pendaftaran. Karena tidak ada jalur antrian, kebanyakan para pendaftar berkerumun di depan petugas.</p>
<p>Saya lihat jumlah dan kecepatan pelayaran para petugas pendaftaran tidak memadai karena proses untuk mengurus pendaftaran ini cukup lama, belum lagi ditambah dengan pembayaran di jalur terpisah. Setiap pendaftar yang selesai mendaftarkan diri harus beralih ke meja kasir untuk melakukan pembayaran biaya konsultasi dokter.</p>
<p>Selesai melakukan pembayaran, kami ke tempat penimbangan anak yang ada di samping ruang konsultasi dokter. Penimbangan belum bisa dilakukan karena kartu rekam medisnya belum dikirim dari bagian pendaftaran ke bagian penimbangan anak. Kami menunggu dulu, baru kemudian berkas kami masuk ke dalam antrian konsultasi dokter.</p>
<p>Ternyata pasien dokter anak cukup banyak, mungkin karena cuaca pancaroba yang menyebabkan banyak anak dan bayi sakit. Kami menunggu beberapa lama dan baru bisa terlayani sekitar pukul 20.00 WIB. Zeze Vavai sudah komplain, &#8220;Pap, kok lama amat ya&#8230;&#8221; dan saya bolak-balik menghibur dia dengan apa saja yang bisa saya lakukan. Ternyata Zeze Vavai lebih senang memainkan HP saya dan alamak, dia mengirimkan beberapa sms berisi huruf-huruf aneh ke beberapa alamat contact saya. Terpaksa saya mengirimkan pesan permohonan maaf kebeberapa rekan karenanya <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Selesai konsultasi dan pemeriksaan dokter, kami beranjak ke apotik dan menunggu proses pengambilan obat sesuai resep dokter. Kami baru sampai di rumah sekitar pukul 21.00 WIB. Jarak rumah kami ke RSIA tersebut lk 5-10 menit perjalanan menggunakan sepeda motor atau mobil.</p>
<p>Pulang dari rumah sakit, saya memikirkan mengenai birokrasi dan proses pelayanan yang diberikan. Semestinya ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kualitas layanannya. Pengurusan pendaftaran misalnya, semestinya dibedakan antara pasien baru dengan pasien yang sudah pernah mendaftar. Saat ini memang sudah dibedakan jalurnya, namun baru pada pemisahan pelayanan pasien perusahaan dan pasien umum.</p>
<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/gemba-room.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1331" style="margin: 10px;" title="gemba-room" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/gemba-room.jpg" alt="" width="315" height="210" /></a>Layanan kasir pendaftaran juga seharusnya bisa langsung diintegrasikan. Pendaftar yang sudah selesai mengurus pendaftaran bisa langsung diproses administrasi pembayarannya, tidak usah menyerahkan form pendaftaran ke pendaftar baru nanti si pendaftar ke kasir untuk membayar.</p>
<p>Pemecahan fungsi pendaftaran dengan kasir mungkin sudah cukup baik secara teori agar prosesnya tidak menyita waktu namun prakteknya justru malah redundan alias duplikasi proses.</p>
<p>Jarak antara ruang penimbangan anak &amp; konsultasi dokter dengan ruang pendaftaran yang memperlama proses penyerahan rekam medis juga semestinya bisa diatasi dengan pengiriman data secara elektronik, dalam bentuk penyediaan komputer di tempat penimbangan anak dan ruang konsultasi dokter. Adanya dokter yang mungkin kurang familiar dengan komputer bisa diatasi melalui tersedianya asisten perawat yang mendampinginya.</p>
<p>Pada prinsipnya, memang butuh kepekaan untuk melihat proses-proses yang memerlukan improvement sistem. Saya belajar banyak dari pengalaman ini dan membandingkannya dengan proses yang ada di tempat kerja saya sendiri. Tanpa kepekaan melihat hal-hal yang menghambat implementasi sistem, kualitas yang prima mungkin hanya menjadi slogan dan angan-angan belaka.</p>
<p>Hal yang tidak kalah pentingnya adalah soal Genchi Genbutsu (現地現物), melihat langsung ke lokasi penerapan sistem. Genchi Genbutsu berarti &#8220;Go and See for yourself&#8221;. Manajer tidak bisa hanya duduk dibelakang meja dan membayang-bayangkan perbaikan apa yang bisa dilakukan tanpa melakukan pengamatan langsung di lapangan. Secara teori bisa saja namun ada kemungkinan kesimpulan yang didapat tidak lengkap.</p>
<p>Manajer atau pimpinan harus mau turun langsung melihat kondisi saat suatu sistem berjalan. Ia tidak bisa sekedar meminta anak buahnya melapor jika ada suatu masalah. Ia harus bisa mendeteksi adanya pemborosan proses dan pelaksanaan sistem yang tidak efisien. Ia juga tidak bisa menerapkan suatu sistem untuk berjalan sekali jadi dan benar terus menerus. Sistem yang baik masih memungkinkan ditingkatkan kualitasnya.</p>
<p>Akan sangat berbahaya jika manajer/pimpinan justru menganggap inefisiensi sebagai suatu tindakan lumrah dan sudah umum terjadi dimana-mana. Jika itu yang terjadi, kita tidak bisa berharap adanya peningkatan kualitas sistem yang  diperbaiki secara terus menerus. Perusahaan atau entitas bisnis mungkin hanya menunggu kemunduran bisnisnya jika menganggap inefisiensi sebagai suatu kodrat semata.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/05/improvement-sistem-antara-kepekaan-genchi-genbutsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengeluaran yang Sia-Sia, Kaizen dan Gaya Hidup Minimalis</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2009/12/14/pengeluaran-yang-sia-sia-kaizen-dan-gaya-hidup-minimalis/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2009/12/14/pengeluaran-yang-sia-sia-kaizen-dan-gaya-hidup-minimalis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 22:03:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Work]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup Minimalis]]></category>
		<category><![CDATA[Kaizen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1292</guid>
		<description><![CDATA[Seperti yang saya singgung pada posting sebelumnya, saya berupaya menerapkan gaya hidup minimalis untuk memperbaiki kualitas hidup. Bukan hanya untuk keuntungan pribadi dalam konteks menekan biaya pengeluaran namun juga dalam upaya kontribusi pada kehidupan di sekitar dan sebagai upaya menghindari pengeluaran yang sia-sia. Jadi, istilah gaya hidup minimalis yang saya maksudkan bisa dirangkum dalam 2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2009/12/kaizen.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1293" title="kaizen" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2009/12/kaizen.jpg" alt="kaizen" width="300" height="301" /></a>Seperti yang saya singgung pada posting sebelumnya, saya berupaya menerapkan gaya hidup minimalis untuk memperbaiki kualitas hidup. Bukan hanya untuk keuntungan pribadi dalam konteks menekan biaya pengeluaran namun juga dalam upaya kontribusi pada kehidupan di sekitar dan sebagai upaya menghindari pengeluaran yang sia-sia.</p>
<p>Jadi, istilah gaya hidup minimalis yang saya maksudkan bisa dirangkum dalam 2 arti yang sederhana. Pertama : menggunakan segala sesuatu sesuai kebutuhan dan kedua, menghindari pengeluaran yang sia-sia. Bagi para penggemar cerita dan inspirasi kisah manajemen, hal ini semestinya tidak asing lagi karena umum diterapkan diperusahaan-perusahaan. Salah satu esensi Toyota Way dan Kaizen misalnya, menitikberatkan pada upaya improvement dalam mengurangi pemborosan dan menghindari kesia-siaan. Untuk sebuah pabrik, upaya mengurangi dan membatasi stock bahan baku  agar sesuai dengan kebutuhan merupakan bagian dari upaya Kaizen menghindari biaya. Penyediaan bahan baku hanya sesuai kebutuhan dengan memperhitungkan aspek produk fast moving dan slow moving akan mengurangi biaya pembelian bahan baku, biaya penyimpanan, biaya perawatan dan biaya investasi yang macet (karena stock yang terlalu besar sama dengan investasi yang macet)</p>
<p>Fenomena diatas secara prinsip bisa diterapkan juga dilingkungan kehidupan pribadi dan keluarga, dalam hal ini penerapannya berupa gaya hidup minimalis. Implementasinya sederhana. Belilah keperluan sesuai kebutuhan. Jangan duplikasi atau redundan. Sebagai contoh, ketika semalam pulang dari rumah family di Pondok Labu Jakarta Selatan, isteri saya bertanya, kira-kira mau beli apa untuk makan malam. Dulu-dulu, saya bisa menggunakan kesempatan pulang ini sebagai wisata kuliner, mencicipi makanan di beberapa tempat jajan yang enak di Bekasi. Kalaupun tidak makan ditempat, makanan bisa dipesan untuk dibungkus dan perhitungannya adalah jumlah maksimal, jangan sampai ada yang kurang. Hal berbeda saya lakukan tadi malam. Alih-alih memesan dala jumlah maksimal, saya bilang pada isteri untuk memesan hanya sesuai jumlah yang bisa kami makan. Kalaupun besok butuh untuk makan pagi atau siang, jauh lebih mudah untuk memasak makanan fresh.</p>
<p>Contoh lain yang sederhana adalah, alih-alih membeli makanan lengkap, bisa juga kita memilih untuk membeli lauk tanpa nasi. Meski mungkin nilainya tidak seberapa, akan menjadi sebuah kesia-siaan jika ternyata dirumah juga memasak nasi.</p>
<p>Contoh-contoh diatas tentu saja disesuaikan dengan batas kewajaran, bukan berarti segalanya harus diminimalkan sehingga kita menjadi kaku seperti robot. Alamiah saja, apa yang bisa dihemat sebaiknya dihemat, jika butuh 1 ya beli 1 jangan 2. Menyimpan untuk stock memang bagus sebagai tindakan berjaga-jaga tapi juga jangan berlebihan.</p>
<p>Perbaikan memang tidak bisa secara drastis dilakukan, jadi jangan menjadi putus asa jika ternyata kita tidak bisa 100% memenuhi semua kaidah gaya hidup minimalis atau memenuhi kaidah-kaidah Kaizen. Santai saja. Apa yang bisa kita lakukan untuk kebaikan, meski itu nilainya relatif kecil, lakukan saja. Sekecil apapun nilainya, segala bentuk tindakan kebaikan bukan merupakan tindakan sia-sia, jauh lebih bermanfaat dibandingkan memboroskan sesuatu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2009/12/14/pengeluaran-yang-sia-sia-kaizen-dan-gaya-hidup-minimalis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Menentukan Kapasitas Harddisk untuk Zimbra</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2009/10/08/tips-menentukan-kapasitas-harddisk-untuk-zimbra/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2009/10/08/tips-menentukan-kapasitas-harddisk-untuk-zimbra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 03:06:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Masim &#34;Vavai&#34; Sugianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linux]]></category>
		<category><![CDATA[Work]]></category>
		<category><![CDATA[Zimbra]]></category>
		<category><![CDATA[opensuse]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>
		<category><![CDATA[Virtualisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1131</guid>
		<description><![CDATA[Menentukan kapasitas harddisk untuk instalasi Zimbra Mail Server &#38; Collaboration Suite sebenarnya mudah, namun memang perlu mempertimbangkan beberapa hal. Penentuan kapasitas disk yang kurang tepat dapat berimplikasi pada kualitas Zimbra Mail Server dan juga bisa menjadi masalah jika belum berapa lama operasional namun terpaksa turun mesin karena harus mengganti harddisk dengan kapasitas yang lebih besar. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://download.zimbra.web.id/"><img class="alignright" style="margin: 5px;" src="http://www.zimbra.web.id/wp-content/uploads/2009/04/zimbra_badge_large_1.png" alt="Zimbra Flag" width="121" height="240" /></a>Menentukan kapasitas harddisk untuk instalasi Zimbra Mail Server &amp; Collaboration Suite sebenarnya mudah, namun memang perlu mempertimbangkan beberapa hal. Penentuan kapasitas disk yang kurang tepat dapat berimplikasi pada kualitas Zimbra Mail Server dan juga bisa menjadi masalah jika belum berapa lama operasional namun terpaksa turun mesin karena harus mengganti harddisk dengan kapasitas yang lebih besar.</p>
<p>Berikut adalah beberapa pertimbangan dalam menentukan kapasitas harddisk :</p>
<ol>
<li>Tentukan jumlah account/user yang akan menggunakan, plus kemungkinan jumlah penambahannya</li>
<li>Tentukan apakah klien mengakses Zimbra melalui email client (Zimbra Desktop, Thunderbird, Evolution atau Outlook) atau melalui Webmail. Pertimbangan ini penting karena akses melalui webmail akan menyebabkan semua data email disimpan di server sedangkan akses melalui mail client umumnya akan menyebabkan email ditarik ke klien, kecuali memilih opsi <strong>&#8220;leave message on server&#8221;</strong></li>
<li>Tentukan apakah opsi &#8220;leave message on server&#8221; dipilih atau tidak. Jika opsi ini dipilih, server harus disiapkan untuk menampung email backup yang disimpan di server</li>
<li>Tentukan jumlah kapasitas inbox masing-masing user. Kita bisa menentukan setting kapasitas secara global melalui Zimbra Admin, misalnya tiap user diberi kapasitas 250 MB. Jika ada user tertentu menggunakan kapasitas yang berbeda (misalnya boss diberi kapasitas 1 GB), kita bisa mengubahnya melalui preferences masing-masing user</li>
<li>Tentukan apakah server didedikasikan khusus untuk Zimbra atau difungsikan untuk keperluan lain. Jika digabung dengan file server misalnya, sebaiknya file server menggunakan partisi terpisah. Rekomendasi : Sebaiknya Zimbra Mail Server menggunakan server yang dikhususkan, dioptimasi dan didedikasikan untuknya. Jangan ada service lain yang dijalankan agar fungsinya berjalan optimal.</li>
<li>Tentukan berapa lama suatu email dipertahankan. Email junk misalnya, secara default akan dihapus secara otomatis 1 bulan sekali.</li>
<li>Tentukan batas besaran dan tipe attachment yang diperbolehkan. Jika tanpa batasan, hal ini bisa berbahaya karena semakin lama mailbox semakin besar yang akan berimplikasi pada performance dan daya tampung harddisk. Tipe attachment juga bisa menjadi salah satu pertimbangan, karena umumnya attachment bertipe AVI atau MP3 rata-rata berukuran cukup besar</li>
</ol>
<p>Berikut adalah contoh simulasi penentuan kapasitas harddisk yang dibutuhkan :</p>
<p>Default setup : 200 MB dan 500 users</p>
<ul>
<li>Sistem Operasi : 10 GB</li>
<li>Data USer : 500 users X 200 MB = 100 GB user data</li>
<li>Data MySQL : 5% of 100 GB (User Data): 5 GB</li>
<li>Binary Zimbra : 10 GB</li>
<li>Log Zimbra : 20 GB</li>
<li>Index Zimbra : 25% of 100GB (User Data) = 25 GB</li>
</ul>
<p>SUBTOTAL: 10+100 + 5 + 10 + 20 + 25 = 170 GB</p>
<p>Pertimbangkan juga kapasitas backup jika backup dilakukan dikomputer yang sama (nantinya backup harus disimpan ditempat lain)</p>
<p>Jika menggunakan skenario diatas, saran saya jangan menggunakan kapasitas harddisk 250 GB meski masih mencukupi, karena akan bermasalah jika kita melakukan proses backup. Gunakan harddisk 500 GB jika menemui skenario diatas.</p>
<p>Silakan lakukan penyesuaian jika menggunakan skenario lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2009/10/08/tips-menentukan-kapasitas-harddisk-untuk-zimbra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Data Rumah Sakit di Bekasi</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2009/10/06/data-rumah-sakit-di-bekasi/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2009/10/06/data-rumah-sakit-di-bekasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 03:45:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Masim &#34;Vavai&#34; Sugianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Work]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1119</guid>
		<description><![CDATA[Tadi pagi saya menerima salinan data rumah sakit rujukan dari staff HRD di kantor. Karena menganggapnya penting untuk diketahui bagi pihak-pihak yang membutuhkan, saya mengcapture bagian data rumah sakit yang ada di Bekasi. Selain saya tuliskan di blog pribadi, rencananya saya upload juga ke blog Komunitas Blogger Bekasi. Selain memuat  nama rumah sakit berikut alamat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://files.vavai.net/images/bekasi/rumah-sakit.jpg" alt="Rumah Sakit" /><br />
Tadi pagi saya menerima salinan data rumah sakit rujukan dari staff HRD di kantor. Karena menganggapnya penting untuk diketahui bagi pihak-pihak yang membutuhkan, saya mengcapture bagian data rumah sakit yang ada di Bekasi. Selain saya tuliskan di blog pribadi, rencananya saya upload juga ke <a href="http://bloggerbekasi.com">blog Komunitas Blogger Bekasi</a>.</p>
<p>Selain memuat  nama rumah sakit berikut alamat dan nomor telepon, data ini juga mencantumkan estimasi biaya perawatan (tarif kamar) dan kelas-kelas yang tersedia.</p>
<p>Mohon untuk melakukan konfirmasi pada  rumah sakit bersangkutan mengenai tarif maupun kelas yang tersedia. Jika ada data rumah sakit yang belum ditambahkan atau datanya belum lengkap silakan sampaikan melalui halaman komentar.</p>
<p>Silakan mendownload datanya, file PDF berukuran 40 KB, <a href="http://files.vavai.net/files/daftar-rumah-sakit-di-bekasi.pdf">Data Rumah Sakit di Bekasi</a></p>
<p>Catatan : gambar ilustrasi diambil dari <a href="http://www.piperreport.com/archives/Images/Hospital%20Outside%20-%20Cartoon.jpg">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2009/10/06/data-rumah-sakit-di-bekasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Naik Bus dari Tanjung Priok ke Bekasi</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2009/09/11/tips-naik-bus-dari-tanjung-priok-ke-bekasi/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2009/09/11/tips-naik-bus-dari-tanjung-priok-ke-bekasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 02:20:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Masim &#34;Vavai&#34; Sugianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Work]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1016</guid>
		<description><![CDATA[Saat bekerja di Cikarang (PT. Ochiai Menara Indonesia dan PT. Grand Dinamika Manufacturing Indonesia), saya setengah bersumpah untuk tidak mau bekerja di daerah Jakarta dan Tangerang, terutama daerah Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Alasan utama adalah karena jauh dan capek dijalan jika ulang-alik ke Bekasi. Diantara kedua pilihan tadi, salah satu lokasi yang paling saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2009/04/patas-ac.jpg" alt="Bis Patas AC" /></p>
<p>Saat bekerja di Cikarang (PT. Ochiai Menara Indonesia dan PT. Grand Dinamika Manufacturing Indonesia), saya setengah bersumpah untuk tidak mau bekerja di daerah Jakarta dan Tangerang, terutama daerah Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Alasan utama adalah karena jauh dan capek dijalan jika ulang-alik ke Bekasi. Diantara kedua pilihan tadi, salah satu lokasi yang paling saya hindari adalah Tanjung Priok, karena saya mudah panik dijalan kalau ketemu truk container. Saya akan lebih memilih daerah Karawang, Cikampek maupun Purwakarta dibandingkan dengan bekerja di Jakarta meski secara jarak lebih dekat. </p>
<p>Macet di Cikarang saja sudah membuat saya lelah lahir dan batin apalagi kalau kena macet di Jakarta, mungkin sebagian besar hidup saya akan saya habiskan dijalan, diantara deru kendaraan bermotor dan polusi udara <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ternyata sumpah tersebut dikabulkan oleh yang maha kuasa. Saya diterima bekerja di kantor sekarang yang berlokasi di daerah Cakung. Alamat resmi perusahaan sih memang Cakung yang notabene ada di Jakarta Timur, namun yang menjadi masalah, lokasi ini ada di tepi perbatasan Cakung dengan Tanjung Priok, tepatnya di jalan raya Cakung-Cilincing alias Rorotan. </p>
<p>Selain dikabulkan bekerja di Jakarta Timur (yang sebenarnya sama saja bohong karena saya justru lebih dekat ke Tanjung Priok Jakarta Utara <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' />  ), saya juga mendapat bonus tambahan dalam bentuk container. Ternyata kantor ini merupakan kandangnya truck container segede gaban, karena kantor sekarang merupakan Tempat Penimbunan Pabean (TPP). TPP adalah lokasi penyimpanan peti kemas yang ditarik dari pelabuhan dan diawai oleh DJBC (Direktorat Jenderal Bea &amp; Cukai)</p>
<p>Kalau dulu saya rada ilfil jika bertemu dengan container di jalan raya, sekarang saya malah bergaul akrab dengan truk-truk tersebut <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>1-2 bulan terakhir saya mondar-mandir ke daerah dekat pelabuhan, tepatnya didekat Walikota Jakarta Utara karena kantor membuka sister company disana yang masih ada kaitannya dengan kegiatan bongkar muat pelabuhan. Karena malas membawa Jupiter MX melewati jalur-jalur sempit di Semper atau jalur rawan di Cakung-Cilincing-Tanjung Priok, saya memutuskan untuk pulang pergi naik Bis Patas Bekasi-Tanjung Priok.</p>
<p>Ternyata keputusan ini membawa dampak yang kurang menyenangkan buat saya. Untuk berangkat dari Bekasi ke Tanjung Priok relatif tidak bermasalah karena rumah saya dekat Terminal Bekasi dan bisa nyaman tenteram duduk manis di bis Patas. Sayangnya, patas AC 25 jurusan Bekasi-Tanjung Priok PP dan Bis patas non AC 31 jurusan Bekasi-Tanjung Priok PP ini jumlahnya terbatas sehingga saya bisa keriting menunggunya.</p>
<p>Masalah lebih besar saya alami saat pulang dari Tanjung Priok. Dalam salah satu episode hidup saya <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  , saya menunggu bis patas AC sampai keriting selama 1.5 jam. Karena lama ditunggu tidak datang-datang, saya memutuskan naik taksi saja. Eh, baru saja hendak menyetop taksi, ada bis patas AC yang berhenti, jadi saya batal naik taksi dan memutuskan tetap naik bis. Keputusan yang saya sesali karena busnya berjubelan, jalannya lambat dan malah mogok 2x dijalan tol. Sejak saat itu, saya kapok naik bis Patas dari Tanjung Priok.</p>
<p>Kebiasaan saya di bis adalah membaca buku tapi naik Patas AC 25 Tanjung Priok-Bekasi ini membuat saya harus merelakan kesempatan tersebut. Sudah berdiri, susah berpindah posisi, berdesak-desakan pula seperti ikan sarden  sementara si kondektur masih teriak-teriak lantang, &#8220;Bekasi-Bekasi, kosong-kosong-kosong&#8230;&#8221;. Ya iya kosong kalau mau naik  keatas atap bis <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Akibatnya bisa ditebak, penumpang menggerutu (ya, nasib penumpang angkutan umum di Indonesia hanya bisa menggerutu) dan acap kali terjadi perang mulut antara kondektur dengan penumpang.</p>
<p>Atas informasi dari seorang staff Warehouse yang tinggal di Tanjung Priok, saya mengikuti sarannya dengan menunggu bus didekat Polres Jakarta Utara atau didepan Gereja Santo Fransiskus Xaverius. Disini saya bisa naik bis jurusan Cikarang, Karawang, Purwakarta, Cikampek dan Subang dan kemudian turun di Jatibening (tol Pondok Gede Timur). Dari Jatibening saya bisa naik bis ke Bekasi.</p>
<p>Ternyata memang jauh lebih nyaman dan menyenangkan. Bis-bis antar kota jauh lebih lega jarak antar tempat duduknya sehingga kaki saya tidak terlalu pegal. Sayapun selalu dapat tempat duduk dan tidak pernah berdesak-desakan. Saya hanya perlu menambah biaya Rp. 3000-5000 untuk kenyamanan ini. Pilihan yang tentu saja saya ambil daripada menjadi ayam sayur berdesakan di bis.</p>
<p>Salah satu favorit saya adalah bus AC Agra Mas. Bus ini desain interiornya lega dan nyaman dan biasanya merupakan pilihan utama saya kalau hendak berangkat dari Bekasi ke Tangerang. Yang saya naiki dari Tanjung Priok biasanya Bus Agra Mas jurusan Tanjung Priok-Karawang.</p>
<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2009/09/agra-mas.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1017" title="agra-mas" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2009/09/agra-mas.jpg" alt="agra-mas" width="480" height="320" /></a></p>
<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2009/09/agra-mas-interior.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1018" title="agra-mas-interior" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2009/09/agra-mas-interior.jpg" alt="agra-mas-interior" width="480" height="360" /></a></p>
<p>Selain kenyamanan dari sisi interior, jumlah penumpang yang relatif tidak berdesakan, naik bus antar kota ini juga jauh lebih cepat sampai ditujuan karena langsung masuk tol yang ada didepan GRJU (Gelanggang Remaja Jakarta Utara), sedangkan kalau naik bis Patas baru akan masuk tol di pintu tol Sunter Podomoro, dengan resiko terjebak kemacetan di simpang Semper, di daerah Plumpang (pusat distribusi Pertamina) dan di pintu masuk Mal Artha Gading.</p>
<p>Jadi tipsnya sederhana saja. Gunakan bis-bis antar kota sebagai gateway meski harus menambah biaya yang perlu dikeluarkan, daripada pulang kerja menjadi pengalaman yang tak menyenangkan.</p>
<p>BTW, Jatibening saat ini merupakan salah satu pintu tol paling sibuk di tol Jakarta Cikampek karena sebagian besar bis ke kota-kota di Jawa melewati jalur ini. Saya yang pulang ke Bekasi bisa dengan leluasa memilih bis yang keluar di pintu tol Bekasi Barat maupun Bekasi Timur.</p>
<p>Semoga bisa bermanfaat jika satu waktu ada yang terdampar di Tanjung Priok <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Catatan : 2 foto terakhir credit to Forum BisMania. yang pertama dari <a href="http://www.bismania.com/index.php?option=com_fireboard&amp;Itemid=45&amp;func=view&amp;id=90595&amp;catid=58&amp;limit=10&amp;limitstart=0">thread ini</a> dan yang kedua dari <a href="http://www.bismania.com/index.php?option=com_fireboard&amp;Itemid=45&amp;func=view&amp;id=66584&amp;catid=9">thread ini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2009/09/11/tips-naik-bus-dari-tanjung-priok-ke-bekasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penggunaan PDT (Portable Data Terminal) untuk Lingkungan Warehouse</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2009/08/21/penggunaan-pdt-portable-data-terminal-untuk-lingkungan-warehouse/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2009/08/21/penggunaan-pdt-portable-data-terminal-untuk-lingkungan-warehouse/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 02:41:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Work]]></category>
		<category><![CDATA[opensuse]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=961</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu project besar yang menjadi tanggung jawab saya saat belum lama bergabung dengan perusahaan sekarang adalah melakukan improvement terhadap proses sistem pada berbagai gudang/warehouse. Bentuk nyatanya adalah implementasi input data online menggunakan PDT. Apa itu PDT ? PDT atau Portable Data Terminal adalah perangkat komputer mobile yang digunakan untuk melakukan entry data, umumnya memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2009/08/ck31.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-962" title="ck31" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2009/08/ck31.jpg" alt="ck31" width="229" height="240" /></a>Salah satu project besar yang menjadi tanggung jawab saya saat belum lama bergabung dengan perusahaan sekarang adalah melakukan improvement terhadap proses sistem pada berbagai gudang/warehouse. Bentuk nyatanya adalah implementasi input data online menggunakan PDT.</p>
<p>Apa itu PDT ?</p>
<p>PDT atau Portable Data Terminal adalah perangkat komputer mobile yang digunakan untuk melakukan entry data, umumnya memiliki kemampuan scanner barcode. Bentuknya bisa sederhana, dalam bentuk scanner barcode mobile dengan tampilan DOS. Data disimpan didalam PDT untuk kemudian diupload/download ke komputer.</p>
<p>Bentuk yang lebih modern secara bentuk, tampilan dan penggunaan sama persis dengan PDA (Personal Digital Assistant). Kelebihan PDT dibanding PDA adalah kemampuan scan barcode dan lebih tahan banting (rugged). Meski dapat tetap menggunakan dock untuk melakukan transfer data, umumnya PDT mengutamakan Wireless LAN sebagai media komunikasi data. Beberapa model PDT dapat juga dilengkapi dengan Sim card GSM untuk komunikasi jarak jauh.</p>
<p>PDT dapat mempercepat proses entry dan meningkatkan akurasi data karena entry data dilakukan secara on the spot dan data langsung tersimpan di server. Di kantor, PDT digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari entry data transaksi bongkar-muat; Stock Opname; Check data barang, Chek lokasi barang hingga sebagai media guide bagi para petugas lapangan jika mereka diminta melakukan pengambilan data. Media guide ini akan membimbing petugas lapangan melakukan pengambilan barang pada lokasi atau rak tertentu dengan mempertimbangkan berbagai aspek, misalnya pertimbangan urutan pengambilan agar efisien dan pertimbangan mengenai lokasi terdekat.</p>
<p>PHP dijadikan sebagai engine utama untuk web programming  yang akan diakses melalui PDT. Pertimbangan  utama pemilihan PHP sebenarnya atas alasan praktis. PHP bisa langsung diaplikasikan tanpa harus menunggu proses belajar jika berusaha melakukan implementasi berbasis J2ME.</p>
<p>Penggunaan web application ini sebenarnya mengurangi arti strategis dari PDT sendiri, karena fungsi utama yang digunakan hanya browser dan sifat mobile plus scanner barcodenya. Makanya saya pernah sampaikan ke supplier kami, PT. Solusi Periferal bahwa sebaiknya kami diberikan penawaran PDT berbasis Linux saja, atau sistem operasi non Windows lainnya yang lebih murah <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  dan hanya mengutamakan fungsi-fungsi pekerjaan.</p>
<p>Sistem operasi Windows Mobile yang ada di PDT memang tidak kami gunakan dan malah kami kerepotan harus menonaktifkan pilihan games dan recording yang sering disalahgunakan <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Untuk saat ini saya menggunakan campuran perangkat yang digunakan. PDT digunakan jika membutuhkan scanner barcode, sedangkan untuk entry data non barcode menggunakan PDA merk Pidion yang harganya setengah dari harga PDT.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2009/08/21/penggunaan-pdt-portable-data-terminal-untuk-lingkungan-warehouse/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Genchi Genbutsu (現地現物) dan Implementasi IT di Lapangan</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2009/08/14/genchi-genbutsu-%e7%8f%be%e5%9c%b0%e7%8f%be%e7%89%a9-dan-implementasi-it-di-lapangan/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2009/08/14/genchi-genbutsu-%e7%8f%be%e5%9c%b0%e7%8f%be%e7%89%a9-dan-implementasi-it-di-lapangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 07:30:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Work]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>
		<category><![CDATA[Virtualisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=922</guid>
		<description><![CDATA[Genchi Genbutsu (現地現物)artinya pergi dan lihat sendiri. Terkenal sebagai salah satu falsafah manajemen yang mendasari prinsip Toyota Way, Genchi Genbutsu semestinya menjadi prinsip utama jika kita menginginkan implementasi suatu rencana berhasil dijalankan atau jika kita ingin melakukan optimalisasi dan improvement atas suatu sistem yang sedang berjalan. 2 hari terakhir ini saya berada disalah group perusahaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2009/08/genchi-genbutsu.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-924" title="genchi-genbutsu" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2009/08/genchi-genbutsu.jpg" alt="genchi-genbutsu" width="530" height="363" /></a></p>
<p>Genchi Genbutsu (現地現物)artinya pergi dan lihat sendiri. Terkenal sebagai salah satu falsafah manajemen yang mendasari prinsip Toyota Way, Genchi Genbutsu semestinya menjadi prinsip utama jika kita menginginkan implementasi suatu rencana berhasil dijalankan atau jika kita ingin melakukan optimalisasi dan improvement atas suatu sistem yang sedang berjalan.</p>
<p>2 hari terakhir ini saya berada disalah group perusahaan yang berada di Tanjung Priok. Meski satu group, pola sistem dan <em>main business</em>nya agak sedikit berbeda sehingga sistem yang diterapkan dikantor Cakung Cilincing  perlu penyesuaian yang cukup besar. Jika di Cakung Cilincing bisnis utama adalah dibidang Tempat Penimbunan Pabean (TPP), kantor yang ada di daerah Tanjung Priok ini fungsi utamanya adalah TPS atau Tempat Penimbunan Sementara, yaitu tempat barang-barang dari Pelabuhan di terima sebelum didistribusikan ke masing-masing <em>consignee</em>.</p>
<p>Perbedaan utama adalah dari segi trafik. Di TPP, barang bisa disimpan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun sedangkan di TPS, barang seringkali tidak membutuhkan waktu lebih dari 1 hari disimpan di Gudang. Sebagian barang malah hanya menjadikan TPS sebagai tempat <em>cross-dock</em>, tempat perpindahan dari proses bongkar dari container / trailer untuk kemudian dimuat kembali ke truk-truk <em>consignee</em> yang berukuran lebih kecil.</p>
<p>Trafik yang tinggi ini tentu saja membutuhkan kesiap sediaan sistem yang lebih padu dan lebih responsif. Ketika 2 hari yang lalu saya menerima telepon mengenai sistem yang kurang responsif dan pada gilirannya mengganggu opersionalisas secara keseluruhan, saya langsung memilih pendekatan Genchi Genbutsu dengan datang langsung ke lokasi dan kemudian memperhatikan kegiatan operasional yang dilakukan.</p>
<p>Dari 2 hari observasi disini saya bisa mendapatkan fakta yang sulit didapatkan jika hanya menerima laporan dari staff saya. Dari sekian banyak masalah yang mengganggu kelancaran sistem, ada beberapa hal sepele yang terjadi, seperti masalah listrik yang kurang stabil, kesalahan ketik maupun kesalahan tulis hingga kurangnya komunikasi antar bagian. Masalah yang lebih bersifat teknis adalah optimalisasi  database MySQL Server dimana saya harus meningkatkan parameter jumlah maksimum koneksi karena beberapa kali terjadi kemacetan sistem akibat &#8220;<em>Too many Connection</em>&#8220;. Selain meminta staff programmer melakukan clean-up coding yang digunakan, saya juga memperhatikan tingkat utilisasi database MySQL Server yang berjalan di Server IBM dengan sistem operasi openSUSE 11.1 64 bit.</p>
<p><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2009/08/intermec-pdt.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-926" title="intermec-pdt" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2009/08/intermec-pdt.jpg" alt="intermec-pdt" width="221" height="223" /></a>Pengguna utama sistem bukanlah workstation yang digunakan sebagai terminal input melainkan perangkat mobile PDT (Portable Data Terminal) yang memiliki kemampuan scan barcode. PDT ini sama persis seperti PDA hanya saja mampu melakukan scan barcode dan lebih <em>rugged</em> (kuat dan tahan banting) karena memang disiapkan untuk industri. Akses utama PDA ini menggunakan wireless LAN sehingga Access Point bertebaran diberbagai sudut warehouse.</p>
<p>Ketika kemarin ada beberapa kendala koneksi, saya mencoba menelusurinya satu persatu bersama salah seorang staff Technical Support sampai menemukan ada salah satu Access Point yang bertindak sebagai bridge namun setting Gateway-nya looping ke Access Point lain yang sudah dipindah.</p>
<p>Hal mendasar lain yang bisa didapatkan dari proses Genchi Genbutsu adalah soal utilitas dan penggunaan sistem. Staff programmer saya bisa belajar banyak mengenai fungsionalitas sistem karena ia berhadapan langsung dengan implementasi dilapangan. Aplikasi yang diimplementasi dan diadaptasi dari penggunaan dilapangan memang lebih tepat guna daripada aplikasi yang banyak aspek kosmetikanya.</p>
<p>Mudah-mudahan sistem ini bisa berjalan lancar sehingga keberangkatan saya ke Surabaya untuk memberi <a href="http://vavai.com/blog/v2/2009/08/11/training-zimbra-di-surabaya-16-agustus-2009/">training Zimbra Mail Server pada hari Minggu 16 Agustus 2009 di Surabaya</a> bisa berjalan lancar.</p>
<p>Bagi anda yang selama ini lebih banyak melakukan analisa dari belakang meja, Genchi Genbutsu merupakan inspirasi yang menarik untuk diimplementasikan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2009/08/14/genchi-genbutsu-%e7%8f%be%e5%9c%b0%e7%8f%be%e7%89%a9-dan-implementasi-it-di-lapangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aplikasi To-Do List Online Paling Efisien</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2009/05/13/aplikasi-to-do-list-online-paling-efisien/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2009/05/13/aplikasi-to-do-list-online-paling-efisien/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 May 2009 04:24:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Work]]></category>
		<category><![CDATA[opensuse]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=662</guid>
		<description><![CDATA[Sejak pertama kali menggunakan komputer, salah satu aplikasi yang paling sering saya gunakan adalah aplikasi untuk mencatat kegiatan dan daftar pekerjaan sehari-hari alias aplikasi to-do list. Mulai dari catatan sederhana menggunakan Spreadsheet (Excel atau Open Office), Outlook Task List semasa menggunakan Windows, KDE PIM/Kontact hingga yang terakhir menggunakan Tomboy alias Gnome Note Taker. Saya juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak pertama kali menggunakan komputer, salah satu aplikasi yang paling sering saya gunakan adalah aplikasi untuk mencatat kegiatan dan daftar pekerjaan sehari-hari alias aplikasi to-do list.</p>
<p>Mulai dari catatan sederhana menggunakan Spreadsheet (Excel atau Open Office), Outlook Task List semasa menggunakan Windows, KDE PIM/Kontact hingga yang terakhir menggunakan Tomboy alias Gnome Note Taker.</p>
<p>Saya juga pernah mencoba berbagai aplikasi to-do list online mulai dari yang populer hingga yang statusnya baru &#8220;terdengar&#8221; dengan satu kesimpulan sementara : Masing-masing aplikasi punya kelebihan dan kekurangan namun tak satupun yang bisa tepat sesuai dengan yang saya inginkan. Satu-satunya aplikasi yang mendekati keinginan saya adalah Tomboy/Gnome Note Taker.</p>
<p>Saya bahkan pernah melakukan coding sendiri dengan kesimpulan akhir : Saya yang coding saja bisa nggak sesuai dengan keinginan, hehehe&#8230;</p>
<p>Apa saja sih spesifikasi aplikasi To-Do list yang saya inginkan ? Berikut adalah beberapa syaratnya :</p>
<ol>
<li>Simple. Saya tidak butuh aplikasi to-do list yang pencatatannya rumit dan terlalu banyak isian. Saya hanya butuh isian mengenai daftar pekerjaan yang harus saya lakukan. Kalaupun ada tambahan paling sekedar prioritas dan tanggal. Untuk menandai sudah selesai atau belum hanya perlu dicentang/contreng <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Multi Sistem Operasi. Tomboy aka Gnome Note Taker memang nyaman saya gunakan di openSUSE dan bisa saya jalankan di Windows namun sayangnya proses sinkroniasinya tidak mudah. Paling tidak saya butuh akses SSH atau WebDav. Aplikasi to-do list online bisa sesuai dengan keinginan saya namun gagal di syarat pertama</li>
<li>Bisa diakses dengan mudah. Mudah diakses disini dalam arti mudah diluncurkan, diisi dan dikelola. Tak perlu setiap saat login.</li>
<li>Bisa sinkronisasi dengan mudah. Saya tak perlu pusing melakukan setup webdav maupun melakukan akses SSH hanya untuk sekedar melakukan sinkronisasi</li>
</ol>
<p>Kemarin ketika browsing saya menemukan website <a href="http://todoist.com">todoist</a>. Bisa dibilang si todoist ini 95% sesuai dengan keinginan saya.</p>
<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2009/05/todoist.jpeg"><img class="alignnone size-full wp-image-663" title="todoist" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2009/05/todoist.jpeg" alt="todoist" width="327" height="438" /></a></p>
<p>Proses registrasinya mudah, aksesnya cepat, tampilannya simple dan yang lebih mantap adalah bahwa si Todoist ini bisa diintegrasikan dengan Firefox dan Gmail.</p>
<p>Saat menggunakan Firefox, todoist dapat ditempatkan dibagian sidebar. Kita dapat mengakses, menambah, menghapus dan memodifikasi item daftar to-do list dengan mudah dan cepat. Akses yang sama dapat dilakukan langsung pada websitenya.</p>
<p>Proses sinkronisasi berlangsung secara langsung. Saat kita menambah, memodifikasi atau menghapus, pada saat yang sama data diupdate secara online.</p>
<p>Kemudahan lain adalah adanya penyederhanaan proses input. Misalnya aktivasi berbagai keyboard shortcut yang mempermudah orang-orang yang lebih prefer pada penggunaan keyboard pada saat mengetik. Tombol ALT+Q untuk membuka, ALT+A untuk menambah Item dan tombol CTRL+Tanda Panah untuk menggeser item menjadi sub item dan sebaliknya.</p>
<p>Keuntungan lain adalah proses pembuatan sub project atau sub task sehingga daftar pekerjaan bisa dikelompokkan dalam kelompok tertentu. Kita juga dapat dengan mudah menggunakan beberapa prefix tertentu untuk entry, misalnya untuk data tanggal, kita menggunakan tulisan tod untuk today atau tom untuk tommorow.</p>
<p>Hal lain yang menarik dari todoist ? Prinsip Zen-nya <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<blockquote>
<h4>The Zen of Todoist</h4>
<p>Now is better than later.<br />
Later is better than never.<br />
Organized is better than messy.<br />
Big things are composed by smaller things.<br />
Smaller things are done by action.<br />
Think like a person of action.<br />
Act like a person of thought.<br />
The beginning is half of every action.<br />
The longest journey starts with the first step.<br />
Everything should be made as simple as possible.<br />
But not simpler.<br />
Celebrate any progress.<br />
Don&#8217;t wait to get perfect.<br />
Deadlines and stress are a part of life.</p></blockquote>
<p>Mau coba Todoist ? Silakan meluncur ke <a href="http://todoist.com">websitenya</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2009/05/13/aplikasi-to-do-list-online-paling-efisien/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

