<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Vavai &#187; Personal</title>
	<atom:link href="http://vavai.com/blog/v2/category/personal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://vavai.com/blog/v2</link>
	<description>Serendipity of Life</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Jan 2011 00:13:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Survei Co-Location Server</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/14/survei-co-location-server/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/14/survei-co-location-server/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 06:32:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Co-Location Server]]></category>
		<category><![CDATA[opensuse]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>
		<category><![CDATA[Virtualisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Zimbra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1390</guid>
		<description><![CDATA[Siang ini saya berencana berkunjung ke gedung Cyber untuk survei penyedia layanan co-location server. Pembicaraan via telepon dan email sudah dilakukan tapi sepertinya memang lebih enak kalau lihat langsung. Rencananya co-location server ini diperuntukkan sebagai backup data dan pemusatan semua website group perusahaan. Ada kemungkinan  saya nimbrung memasang harddisk untuk mirror dan repository  komunitas openSUSE [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang ini saya berencana berkunjung ke gedung Cyber untuk survei penyedia layanan co-location server. Pembicaraan via telepon dan email sudah dilakukan tapi sepertinya memang lebih enak kalau lihat langsung.</p>
<p>Rencananya co-location server ini diperuntukkan sebagai backup data dan pemusatan semua website group perusahaan. Ada kemungkinan  saya nimbrung memasang harddisk untuk mirror dan repository  komunitas openSUSE Indonesia dan Zimbra Indonesia, hehehe&#8230;</p>
<p>Saat ini memang belum ada aplikasi yang urgent yang akan dipasang namun nantinya ada rencana menjadi server co-location ini sebagai pusat data online untuk kebutuhan customer perusahaan, misalnya jika mereka ingin secara langsung mengakses data laporan yang selama ini digenerate dari aplikasi di kantor.</p>
<p>Ada rekomendasi apa saja yang perlu dipertimbangkan selain stabilitas, kapasitas dan bandwidth yang diberikan ? Jika ada rekomendasi penyedia layanan co-location server di Indonesia yang layanannya memuaskan dengan biaya relatif bersaing tentu akan sangat saya hargai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/14/survei-co-location-server/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Meningkatkan Jumlah Pengunjung Blog</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/11/tips-meningkatkan-jumlah-pengunjung-blog/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/11/tips-meningkatkan-jumlah-pengunjung-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 11:07:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[opensuse]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1380</guid>
		<description><![CDATA[Awal tahun ini saya punya project kecil-kecilan, yaitu meningkatkan jumlah pengunjung salah satu blog saya menjadi sekitar 2X lipat. Target ini sebenarnya ambisius buat saya pribadi, namun masih memungkinkah untuk bisa saya capai. Jumlah pengunjungnya sendiri belum terlalu besar jadi target jumlah pengunjung 2X lipat hanya terlihat besar dari sisi angka meski nyatanya masih tetap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Awal tahun ini saya punya project kecil-kecilan, yaitu meningkatkan jumlah pengunjung <a href="http://vavai.net" mce_href="http://vavai.net">salah satu blog saya</a> menjadi sekitar 2X lipat.</p>
<p>Target ini sebenarnya ambisius buat saya pribadi, namun masih memungkinkah untuk bisa saya capai. Jumlah pengunjungnya sendiri belum terlalu besar jadi target jumlah pengunjung 2X lipat hanya terlihat besar dari sisi angka meski nyatanya masih tetap kecil.</p>
<p>Pada bukan Desember 2009 jumlah pengunjung blog tersebut rata-rata 200-500 orang. Target saya adalah menjadikan jumlah rata-rata pengunjung per hari sebanyak 1000 pengunjung, tentu saja pengunjung dalam kategoru <i>unique visitor</i>. Target sampingan lainnya adalah meningkatkan PageRank (saat ini PR3) dan Alexa Rank. Target akhirnya adalah menghidupi blog tersebut, kekekeke&#8230;.</p>
<p>Ada beberapa kesulitan yang menghadang upaya ini. Kesulitan terbesar adalah karena blog saya itu merupakan blog untuk belajar bahasa Inggris, jadi saya harus terseok-seok membuat artikel yang unik (karena saya tidak mau copy-paste artikel). Setiap saya menulis artikel pasti ada tab Google Translate yang terbuka, itupun mungkin hasilnya membuat orang tambah pusing memahami tulisan saya, hehehe&#8230;</p>
<p>Kesulitan kedua adalah dari sisi isi. Blog saya itu difeed di <a href="http://planetsuse.org" mce_href="http://planetsuse.org">Planetsuse</a> untuk kategori artikel yang berkaitan dengan openSUSE. Karena PlanetSUSE juga terkait dengan mailing list, forum dan openSUSE weekly news, cukup banyak trafik yang datang ke blog saya yang direfer oleh PlanetSUSE. Syaratnya, saya harus menulis artikel yang bukan saja unik tapi juga memiliki isi yang terkait dengan openSUSE agar tidak mengacak-acak tema PlanetSUSE secara keseluruhan, meski kadang saya nakal juga menyelipkan satu-dua tulisan non openSUSE agar difeed disana <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Apa saja yang saya lakukan untuk bisa merealisasikan harapan saya ini ? Berikut adalah beberapa langkah standar :</p>
<ol>
<li><b>Melakukan update posting secara rutin</b>. Cara paling mudah adalah menerjemahkan tulisan-tulisan yang sudah ada di blog saya. Cara lain adalah dengan melihat suatu artikel atau berita tertentu yang kira-kira menarik kemudian mengungkapkannya dalam bahasa saya sendiri. Minimal update adalah 1 hari 1 artikel. Saat ini baru ada 164 artikel. Target saya akhir tahun 2010 saya bisa mendapatkan 1000 artikel yang artinya saya harus meningkatkan jumlah artikel paling tidak&nbsp; 3X sehari.</li>
<li><b>Aktif pada Forum &amp; Mailing List</b>. Saya bisa submit link artikel (dilakukan secara elegan, bukan nye-pam meski mungkin bedanya samar-samar <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' />  ) atau menjawab pertanyaan tertentu dengan merefernya ke blog saya. Tidak lupa saya menempatkan signature berisi alamat blog saya. Cara ini cukup efektif untuk bisa meraih tambahan pengunjung sekaligus mencari info soal artikel yang bisa ditulis</li>
<li><b>Posting ke Facebook &amp; Twitter</b>. Tak ada salahnya saya posting link artikel saya ke FB &amp; Twitter, bisa menambah beberapa puluh pengunjung, apalagi kalau ada yang retweet</li>
<li><b>Fokus pada Tutorial &amp; Tips</b>. Kedua jenis artikel ini bisa bertahan lama dan mendatangkan jumlah pengunjung secara tetap. Mungkin karena dari sifatnya sendiri yang diperlukan orang</li>
<li><b>Mengganti Layout Blog</b>. Ini sebenarnya kurang relevan sebagai tips tapi kalau orang yang berkunjung sulit melakukan navigasi, apa nggak mumet. Bisa-bisa pengunjung malas datang karena tampilannya kurang menarik atau sulit melakukan navigasi artikel.</li>
</ol>
<p>Tidak ada yang baru dari keempat tips diatas karena memang penekanannya lebih pada pelaksanaan. Tips apapun tidak akan berjalan jika tidak dilaksanakan.</p>
<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/vvai-net-stats.jpeg" mce_href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/vvai-net-stats.jpeg"><img src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/vvai-net-stats.jpeg" mce_src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/vvai-net-stats.jpeg" title="vvai-net-stats" class="alignnone size-full wp-image-1384" height="302" width="458"></a></p>
<p>Satu minggu penerapan tips diatas, jumlah pengunjung rata-rata pada kisaran 600-700 namun akan drop ke 400-500 jika saya tidak mengisi artikel. 2 minggu kemudian jumlah pengunjung ada pada kisaran 700-800 dan kini (3 minggu berjalan) sudah menyentuh angka 900 pengunjung. Sampai akhir Januari 2010 ini harapannya bisa mencapai 1000 pengunjung dan saya akan berusaha keras mencapainya.</p>
<p>Salah satu yang saya sukai adalah kenyataan jarang ada copy-paste artikel. Banyak forum atau website lain yang merujuk ke blog saya dengan mengambil excerpt dan menambahkan live linknya. Berbeda kondisinya dengan artikel-artikel saya di <a href="http://vavai.com/v2" mce_href="http://vavai.com/v2">Blog Migrasi Linux</a> yang banyak terkena duplikasi content dan tidak ada backlink yang masuk (kalaupu mereka tulis sumber cuma tulisan teks tanpa hyperlink, contoh : sumber : vavai.com)</p>
<p>Pengunjung yang banyak memang bukan harga mati blog bagus tapi blog tanpa pengunjung akan sangat garing lha ya <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/11/tips-meningkatkan-jumlah-pengunjung-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pekerjaan Akhir Pekan</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/09/pekerjaan-akhir-pekan/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/09/pekerjaan-akhir-pekan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 08:06:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Linux]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[opensuse]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1367</guid>
		<description><![CDATA[Akhir pekan ini saya isi dengan pekerjaan, bukan dengan hiburan . Pagi-pagi saya sudah meluncur ke daerah Sudirman Jakarta, ada finalisasi project pemindahan server kedalam mesin virtual. Prosesnya sudah pernah saya tulis disini. Pemindahannya sudah selesai saya lakukan namun aktivasi untuk penggunaan secara penuh dilakukan hari ini. Saat coba saya aktifkan, ternyata ada masalah. LAN [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/weekend.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1371" title="weekend" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/weekend.jpg" alt="" width="500" height="450" /></a></p>
<p>Akhir pekan ini saya isi dengan pekerjaan, bukan dengan hiburan <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  .</p>
<p>Pagi-pagi saya sudah meluncur ke daerah Sudirman Jakarta, ada finalisasi project pemindahan server kedalam mesin virtual.</p>
<p>Prosesnya sudah pernah saya tulis <a href="http://vavai.com/blog/v2/2010/01/03/memindahkan-server-linux-fisik-menjadi-server-virtual/">disini</a>. Pemindahannya sudah selesai saya lakukan namun aktivasi untuk penggunaan secara penuh dilakukan hari ini.</p>
<p>Saat coba saya aktifkan, ternyata ada masalah. LAN Card-nya tidak terdeteksi oleh Guest OS (openSUSE 11.1 64 bit) dengan pesan &#8220;no kernel module&#8221;. Usut punya usut, ternyata IT kantor ini sebelumnya pernah mencoba upgrade kernel namun tidak tuntas. Karena kebetulan membutuhkan akses ke partisi Ext4 di harddisk lain, sekalian saja saya <a href="http://vavai.com/blog/v2/2010/01/09/mengaktifkan-dukungan-partisi-ext4-pada-opensuse-11-1-kebawah/">upgrade kernelnya</a>.</p>
<p>Tahap berikutnya adalah memindahkan data dari harddisk yang lama (500 GB raid-1)  ke harddisk baru (1 TB raid-1). Nantinya sistem akan berjalan dengan openSUSE 11.2 sebagai host, menggunakan 4 harddisk. Masing-masing dipasangkan sebagai raid-1. raid pertama untuk sistem dan raid kedua berisi data. Skenario ini paling tidak memberikan pengamanan yang lebih tinggi karena saya mempunyai cadangan harddisk raid dan mesin virtual selain backup standar. Bagi teman-teman yang ingin menerapkan sistem raid di openSUSE bisa membaca tulisannya <a href="http://vavai.net/2009/12/30/implementing-software-raid-on-opensuse-11-2/">disini</a>.</p>
<p>Proses memindahkan data memerlukan waktu karena saya memindahkan sekitar 400 GB data, sebagian besar merupakan file CAD (Computer Aided Design) dan file foto, mengingat perusahaan ini bergerak dibidang design interior.</p>
<p>Saya memang masih mengujicoba sejauh mana kualitas akses server fisik dibandingkan dengan akses server virtual ini, mengingat trafik data dikantor ini cukup tinggi, ditambah lagi bossnya minta saya untuk tidak menempatkan data didalam mesin virtual. Data-data tersimpan di raid kedua dan dimount kedalam mesin virtual. Apakah ini akan mengganggu kinerja atau tidak, saat ujicoba sih baik-baik saja, belum dicoba kalau diakses secara penuh saat semua staff disini masuk nantinya. Untuk keperluan ujicoba seminggu ini, adik saya yang akan melakukan pendampingan.</p>
<p>Sedikit banyak, pola yang saya gambarkan diatas mungkin bisa bermanfaat bagi para sysadmin yang hendak mengurangi waktu recovery dan meningkatkan keamanan backup datanya. Harapannya, tidak ada waktu delay terlalu lama untuk recovery jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/09/pekerjaan-akhir-pekan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kurang Produktif = Tidak Memiliki Nilai Tambah</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/08/kurang-produktif-tidak-memiliki-nilai-tambah/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/08/kurang-produktif-tidak-memiliki-nilai-tambah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 02:58:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1349</guid>
		<description><![CDATA[Pada artikel sebelumnya, ada seorang rekan yang balik bertanya, &#8220;Penggunaan internet yang produktif itu seperti apa sih?&#8221;. Wah, ini pertanyaan sulit dan bisa membawa susulan pertanyaan, apapun jenis jawaban yang diberikan. Meski demikian, saya tetap menjawabnya dalam jawaban ringkas, bahwa penggunaan internet yang produktif adalah yang memberikan nilai tambah. Sebenarnya jawaban ini tidak khusus untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada artikel <a href="http://vavai.com/blog/v2/2010/01/06/pengguna-internet-di-indonesia-besar-tapi-kurang-produktif/">sebelumnya</a>, ada seorang <a href="http://pebbie.wordpress.com/">rekan</a> yang balik bertanya, &#8220;Penggunaan internet yang produktif itu seperti apa sih?&#8221;.</p>
<p>Wah, ini pertanyaan sulit dan bisa membawa susulan pertanyaan, apapun jenis jawaban yang diberikan. Meski demikian, saya tetap menjawabnya dalam jawaban ringkas, bahwa penggunaan internet yang produktif adalah yang memberikan nilai tambah.</p>
<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/productif-prioritas.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1350" title="productif-prioritas" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/productif-prioritas.jpg" alt="" width="300" height="400" /></a>Sebenarnya jawaban ini tidak khusus untuk penggunaan internet namun juga untuk semua pekerjaan. Semua orang pasti tahu bahwa tidak mungkin ada suatu kondisi dan keadaan yang cocok pada semua orang, jadi soal produktif atau tidak kembali pada kepentingan si pengguna atau pelakunya.</p>
<p>&#8220;Lho, bagi saya Facebook dan games online produktif kok. Saya bisa mendapat bisnis dari situ, saya juga bisa mendapat banyak manfaat dari situ. Games online juga penting buat hiburan, masya sih jadi orang harus selalu serius, rigid dan nggak bisa santai&#8221;.</p>
<p>Ya, memang benar, karena sayapun tidak mengatakan bahwa Facebook dan games online itu tidak produktif 100%. Ada konteks pembicaraan disitu, yaitu bahwa saya melihatnya dalam situasi dimana Facebook dan games online digunakan sehari-hari secara kurang pas.</p>
<p>Mungkin saja saya bisa salah sangka. Wajar, karena saya tidak mungkin melakukan sensus pada setiap orang.</p>
<p>Kembali pada soal kurang produktif tadi. Masalahnya sebenarnya bisa diperluas bukan hanya soal Facebook dan games online, namun juga pada social media lain, pada soal chatting, pada soal pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan secara harian. Jangan sampai sesuatu yang sifatnya menghibur, mendukung dan membantu kita justru malah menenggelamkan kita.</p>
<p>Pekerjaan yang kurang produktif juga bukan hanya untuk sesuatu yang sifatnya mendukung dan menghibur, melainkan dalam bentuk pekerjaan yang hanya dikerjakan sebatas standar pekerjaan itu saja.</p>
<p>Contoh kasus misalnya dikantor saya. Staff IT saya minta untuk membuat laporan tahunan apa saja yang dikerjakan selama tahun 2009. Ada staff IT yang menulis kegiatan seperti memperbaiki komputer rusak, memperbaiki bug program, jaringan yang bermasalah, pasang pita printer dll.</p>
<p>Apakah itu salah ? Tentu saja tidak, karena itu memang mereka lakukan. Apakah itu produktif ? Tidak, karena apa yang mereka lakukan merupakan sesuatu pekerjaan yang standar, sudah baku, tidak bisa tidak harus dilakukan. Mereka harus lebih produktif dibandingkan sekedar melakukan pekerjaan harian.</p>
<p>Contohnya misalnya, membuat project atau improvement untuk meningkatkan usia penggunaan komputer sekaligus meningkatkan kecepatan respon dan replacement. Kalau dulu membutuhkan waktu hingga 3 jam untuk instalasi sistem dan mengembalikannya pada pihak klien, semestinya ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas pekerjaannya. Beberapa hal berikut bisa menjadi contoh suatu kegiatan dari project improvement yang dimaksud :</p>
<ol>
<li>Membuat duplikat sistem dalam bentuk image virtual yang berisi salinan sistem yang baku. Hal ini akan mengurangi waktu install dan waktu setup</li>
<li>Tidak menyimpan data pada komputer klien. Semua data disimpan di server sehingga komputer klien dapat diganti kapan saja tanpa perlu menyalin data yang selama ini digunakan</li>
<li>Menggunakan model thin-client/LTSP. Selain akan memperpanjang usia penggunaan suatu hardware juga akan mengurangi biaya investasi (harddisk misalnya) sekaligus mengurangi waktu proses untuk deployment sistem</li>
</ol>
<p>Jadi bisa dilihat, dari suatu kegiatan sepele dan biasa-biasa saja bisa dilakukan berbagai hal untuk menghindari masalah.</p>
<p>Dalam sistem Gemba Kaizen, segala hal yang tidak produktif dan tidak memberikan nilai tambah dinamakan muda. Muda bisa berarti pemborosan. Pemborosan waktu, biaya, tenaga, sumber daya, momentum dan lain-lain. Kemampuan melakukan Gemba Kaizen dan mendeteksi muda atau hal-hal yang tidak produktif ini akan sangat bermanfaat bagi kita dalam merumuskan perbaikan-perbaikan sistem.</p>
<p>Kembali ke soal kegiatan yang kurang produktif. Contoh yang paling mudah adalah membuka situs porno. Apakah ini tidak boleh ? Jawabannya tentu kembali kepada diri masing-masing. Apakah membuka situs tersebut akan membuat anda tambah produktif atau justru membuat anda terlena ?</p>
<p>Ada lagi yang perlu diperhatikan, yaitu segala yang berlebihan akan berakibat pada hal yang kurang produktif disisi lain. Ada satu kegiatan positif saya yang jika tidak dikelola dengan baik bisa membuat kegiatan umum saya menjadi kurang produktif, yaitu hobby membaca buku. Jika saya terus menerus membaca buku, mungkin saya akan terlena dan tidak sempat mengerjakan hal-hal prioritas lain yang mestinya saya kerjakan. Membaca buku memang memberikan nilai tambah pengetahuan, hiburan dan kesenangan bagi saya, namun kalau berlebihan saya malah jadi tidak produktif disisi lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/08/kurang-produktif-tidak-memiliki-nilai-tambah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian Kedua, Mestakung</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-kedua-mestakung/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-kedua-mestakung/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 03:13:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Work]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1340</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan Pertama : Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian 1, Man Jadda Wa Jadda Mestakung : Semesta Mendukung Terakhir, awal November 2009 yang baru lalu, saya berpikir untuk merealisasikan rencana lama saya untuk membuat warnet. Saya memang sudah punya warnet di rumah sekarang, namun modalnya dari bapak mertua dan dikelola oleh bapak mertua yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan Pertama : <a href="http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-1-man-jadda-wa-jadda/">Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian 1, Man Jadda Wa Jadda</a></p>
<p><strong>Mestakung : Semesta Mendukung</strong></p>
<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/sunrise.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1341" style="margin: 10px;" title="sunrise" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/sunrise.jpg" alt="" width="406" height="304" /></a>Terakhir, awal November 2009 yang baru lalu, saya berpikir untuk merealisasikan rencana lama saya untuk membuat warnet. Saya memang sudah punya warnet di rumah sekarang, namun modalnya dari bapak mertua dan dikelola oleh bapak mertua yang memang baru saja pensiun. Saya dan Zeze Vavai lebih bertindak sebagai technical support.</p>
<p>Niat saya adalah membuat warnet di rumah orang tua saya di Tambun. Ada banyak alasan untuk membuatnya. Alasan pertama adalah membantu kondisi finansial keluarga. Adik saya masih ada yang sekolah. Keuangan saya terbatas untuk membantu secara penuh. Dalam bayangan saya, membuat warnet sedikit banyak bisa membantu kondisi finansial ini. Alasan kedua adalah agar adik-adik, keluarga dan lingkungan tempat lahir saya bisa belajar banyak soal komputer dan internet, paling tidak saya bisa memberikan tambahan kail bagi mereka dalam berupaya meningkatkan kualitas pekerjaan dan penghidupan.</p>
<p>Membuat warnet merupakan angan jauh saya. Tabungan pribadi (bukan tabungan keluarga) saya hanya ada sekitar 11 jutaan. Uang 11 juta hanya cukup untuk membeli beberapa komputer saja, tapi saya masih cukup beruntung. Ibu saya punya tempat (ruko) yang bisa saya gunakan. Saat orang tua saya bertanya, &#8220;Ini ruko dikontrakkan saja ya, kalau mau bikin warnet nanti saja, kalau uangnya sudah cukup&#8221;, saya jawab, &#8220;Jangan, sekarang saja. Saya akan berusaha untuk bisa jalan pada pertengahan Desember 2009&#8243;</p>
<p>Angan yang mungkin terlalu muluk, bahkan saya juga belum punya bayangan apa mungkin bisa direalisasikan. Tapi saya maju terus. Dengan modal hanya 11 juta, saya memulai cita-cita membuat warnet. 5 juta terambil untuk renovasi bangunan, hanya tersisa 6 juta. Saya belikan komputer, hanya dapat 2 unit, karena saya membeli accessories komputer dan lain-lain, itupun sudah saya kurangi sana-sini.</p>
<p>Meja komputer belum ada, AC belum ada, pintu depan belum ada, instalasi listrik belum dipasang sementara uang tabungan sudah habis hingga kedasarnya. Saya cari akal. Saya membuat training mengenai Zimbra Mail Server. Dapat tambahan yang bisa saya gunakan untuk membeli meja komputer. Warnet belum bisa berjalan karena masih belum beres di fasilitas utama.</p>
<p>Atas dasar perhitungan keuangan pribadi, saya gunakan kartu kredit saya untuk membeli AC. Kini tinggal 2 fasilitas utama yang belum selesai, yaitu pintu depan dan instalasi listrik. Pintu aluminium membutuhkan biaya sekitar 3 juta sementara instalasi listrik antara 1.5 s/d 2 juta. Total sekitar 3 juta.</p>
<p>Beruntung, ada perusahaan yang meminta saya melakukan setting sistem Zimbra Mail Server di kantornya. Sayangnya uangnya menunggu proses penyelesaian bagian keuangan mereka. Karena hasrat saya sudah sedemikian besar, saya rasa akan terlalu lama jika menunggu uang tersebut masuk ke rekening saya. Atas jaminan pendapatan itu, saya meminjam dari seorang teman di kantor dan bisa mendapatkan 2 juta rupiah. Ditambah dengan pendapatan online, uangnya bisa menutup pembuatan pintu aluminium sedangkan instalasi listrik bisa dilakukan dengan pembayaran melalui tempo waktu.</p>
<p>Pertengahan Desember 2009, warnet yang saya cita-citakan mulai berjalan dengan hanya 3 unit komputer. Adik saya yang kebagian tugas sebagai operator ﻿bolak-balik telepon saya, katanya banyak pengunjung yang datang dan terpaksa menunggu giliran.</p>
<p>Saya melihat hal ini sebagai peluang dan kesempatan yang jika tidak segera diambil momentumnya akan  hilang. Atas dasar jaminan project saya yang lain (project migrasi sistem Windows ke Linux, pekerjaan selesai diakhir Desember, estimasi uang masuk diakhir Desember), saya coba menghubungi salah seorang kenalan saya, seorang direktur utama sebuah perusahaan. Saya gambarkan kondisi saya dan kemudian menanyakan apakah memungkinkan jika saya meminjam uang sebesar 10 juta rupiah untuk keperluan menambah komputer.</p>
<p>Ia bertanya apakah uang itu cukup yang saya jawab bahwa uang itu cukup untuk menambah paling tidak 3-4 komputer dan saya masih punya cadangan untuk menggantinya. Ia merespon pinjaman saya dengan baik dan bahkan memberikan 7 buah CPU second dan 2 buah monitor second yang masih bagus dari kantornya. Berkat tambahan biaya dan CPU yang diberikan, saya bisa menambah komputer dari 3 menjadi 12 unit sekaligus melengkapi berbagai accessories komputer yang dibutuhkan.</p>
<p>1 Minggu menjelang bulan Desember 2009, warnet yang saya cita-citakan bisa berjalan penuh dengan jumlah komputer yang memadai. Uang pinjaman dari teman kantor sudah saya kembalikan dan uang pinjaman dari direktur utama yang terakhir saya pinjam sudah saya siapkan pengembaliannya.</p>
<p>Belajar dari hal diatas, saya jadi teringat pada ucapan professor  Yohannes Surya soal Mestakung, yang artinya Semesta Mendukung. Kalau kita punya cita-cita yang kelihatan sulit namun kita bersungguh-sungguh untuk mencapainya, niscaya alam semesta akan mendukung. Ada saja bantuan dan cara yang membantu kita meraih cita-cita dan keinginan tersebut. Mestakung bisa juga disebut sebagai LoA atau Law of Attraction. Saya jadi ingat tulisannya <a href="http://tirtaamijaya.wordpress.com/2008/12/15/tentang-istilah-semesta-mendukung/">pak Nurhana Tirtaamijaya soal Mestakung</a> :</p>
<blockquote><p>Wah, saya jadi sangat tertarik dengan istilah yang baru saya dengar ini…lalu saya minta penjelasan apa makna dari “SEMESTA MENDUKUNG”….</p>
<p>Beliau menjelaskan bahwa dalam fenomena “Innamaa amruhu idza arada syaan anyakulalahu..kun fayakun…” yang artinya ” Bilamana Allah menghendaki sesuatu terjadi dan berfirman terjadi..maka terjadilah..” (ayat 82 Surat Yasiin), implementasi perwujudan didunia ini harus melalui fenomena Hukum Alam “Semesta Mendukung”…yaitu harus didukung oleh situasi dan kondisi kehidupan masyarakat dunia (Ideologi, Politik, Ekonomi, Budaya/spiritual/agama, Keamanan) yang kondusif/sesuai pula….</p></blockquote>
<p>Jadi, jangan menyerah pada kekurangan yang ada. Segala sesuatu yang tidak mengakhiri hidup kita hanya akan memperkuat diri kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-kedua-mestakung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian 1, Man Jadda Wajada</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-1-man-jadda-wa-jadda/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-1-man-jadda-wa-jadda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 02:48:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Work]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1339</guid>
		<description><![CDATA[Mumpung masih suasana tahun baru 2010, saya menulis artikel ini. Niatnya sebenarnya hendak saya tulis pada tanggal 1 Januari 2010 namun apa daya, saya lupa, . Karena terlalu panjang, tulisannya saya bagi menjadi 2 bagian. Mohon dipahami bahwa tulisan saya difokuskan dan diniatkan sebagai upaya berbagi, tanpa maksud mengurangi atau melebih-lebihkan sesuatu. *** Kudengar gemuruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mumpung masih suasana tahun baru 2010, saya menulis artikel ini. Niatnya sebenarnya hendak saya tulis pada tanggal 1 Januari 2010 namun apa daya, saya lupa, <img src='http://vavai.com/blog/v2/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  . Karena terlalu panjang, tulisannya saya bagi menjadi 2 bagian.</p>
<p>Mohon dipahami bahwa tulisan saya difokuskan dan diniatkan sebagai upaya berbagi, tanpa maksud mengurangi atau melebih-lebihkan sesuatu.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;"><em>Kudengar gemuruh ombak lautan</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Nyanyian daun-daun dan serangga malam</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Angin mendesau membisikkan sesuatu</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Dan bau tanah pegunungan memanggiliku</em></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><em>Maka kutinggalkan rumah dan ranjang mimpi</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Pergi mengembara ke belantara sunyi</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Menyeret ransel sarat beban</em></p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;"><em>Oh, apa yang sebenarnya kau buru</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Lakon apa yang ingin kau mainkan</em></p>
<p style="text-align: left;">
<p><em>Ya, akulah si pengembara</em></p>
<p><em>Terus bergerak kearah cakrawala</em></p>
<p><em>Walau beribu kali tersungkur kenyataan</em></p>
<p><em>Jiwaku menolak kebuntuan jalan&#8230;</em></p>
<p><strong>Man Jadda WaJadda, Siapa Bersungguh-Sungguh akan Berhasil</strong></p>
<p>Puisi diatas saya sarikan dari salah satu episode Balada si Roy. Ceritanya memang tentang seorang pendaki, pencinta petualangan (avonturir, adventure) tapi yang lebih saya tekankan adalah 2 baris terakhir.</p>
<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/sunrise.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1341" style="margin: 10px;" title="sunrise" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/sunrise.jpg" alt="" width="406" height="304" /></a>Saya kerap mendengar teman-teman mahasiswa dan teman-teman kerja yang mengeluh soal fasilitas, soal peluang dan soal pekerjaan. Yang mahasiswa mengeluh karena ia tidak punya cukup uang untuk membiayai kuliahnya. Ia tidak bisa menguasai materi-materi ilmu komputer karena tidak punya perangkat komputer. Tidak bisa menggunakan email karena tidak punya uang untuk ke warnet. Yang sudah bekerja mengeluh karena pekerjaannya tidak bonafid. Tidak bekerja di gedung bertingkat. Tidak bekerja sesuai keinginan, latar belakang pendidikan dan kemampuan. Ada lagi yang mengeluh karena orang tuanya hanya bisa memberikan biaya sekolah sebatas sekolah menengah. Mau bekerja sulit karena perusahaan justru banyak yang mengurangi pekerjanya. Mau berusaha sulit karena tidak punya modal.</p>
<p>Sebenarnya masalahnya apa sih ? Saya melihat masalahnya bukan pada kesempatan yang tidak ada melainkan pada kekalahan dan penyerahan diri pada kekurangan hidup.</p>
<p>Tidak usah menunggu nasib berubah dengan sendirinya. Tidak usah menunggu segala fasilitas ada. Apa yang bisa kita lakukan harus kita lakukan.</p>
<p>Terus terang saya aneh kalau mendengar ada orang yang sampai kelaparan atau ada anak muda yang terpaksa berbuat kejahatan hanya karena lapar. Bukan saya tidak simpati pada mereka namun semestinya ada jalan lain untuk mengatasi kesulitan hidup.</p>
<p>Saya memang orang asli Bekasi yang lahir dan besar di Bekasi dan belum pernah merantau seperti hanya rekan-rekan yang lain tapi saya pernah membayangkan bahwa andaikata saya merantau kesuatu tempat dan tidak punya uang untuk menyambung hidup, saya akan pergi ke pasar untuk menjual jasa saya. Apakah saya membantu-bantu pedagang atau melakukan pekerjaan kasar lainnya. Saya tidak akan merasa hina melakukan hal demikian karena saya mempergunakan akal, kemampuan dan daya guna saya untuk mengatasi masalah saya sendiri.</p>
<p>Saya pernah menemukan seorang teman saya di kampus. Ia menjadi office boy di kampus, saat siang hingga sore hari ia berjualan cabai dan bawang di depan pasar baru Bekasi. Ternyata malamnya ia kuliah. Selesai kuliah ia bisa mengembangkan usaha dia. Saya benar-benar appreciate. Dia orang pendatang. Kalau dia tidak berusaha dia tidak akan sukses, salah-salah dia bisa terkubur ditempat rantaunya. Ya, dia memang capai dan lelah tapi apa bedanya toh tidak berbuat apa-apa juga tetap lelah kok.</p>
<p>Kadang saya ingin bilang pada mahasiswa, kalau kalian memang kuliah dibidang ilmu komputer, usahakan punya komputer. Kalau tidak punya uang untuk membelinya, jangan patah semangat. Ada berbagai cara untuk bisa mendapatkannya secara halal. Bisa dengan menulis artikel, bisa dengan memberikan kursus, private, menjadi operator warnet dan lain-lain.</p>
<p>Saya masih ingat, pada pertengahan tahun 1999, saya belum punya komputer, padahal saya kuliah dibidang komputer. Saya bingung dan khawatir, ijazah saya nantinya memang sarjana komputer tapi kalau saya tidak familiar dan kurang menguasai komputer, apa saya bisa percaya diri untuk bekerja dibidang itu ?</p>
<p>Akhirnya saya ambil kesempatan menjadi Assisten lab komputer karena menjadi assisten lab artinya saya bisa menggunakan komputer sepuasnya. Lama-lama saya kepikiran untuk membeli komputer tapi gaji sebagai assisten hanya cukup untuk biaya makan (saya kelahiran Tambun-Bekasi tapi indekost di Bekasi dekat kampus). Berpikir sana-sini ternyata jalannya ada, yaitu saya mengajar private. Saya masih ingat mengajar private untuk persiapan anak-anak yang hendak membuat skripsi. Saya memberikan private bahasa pemrogramman. Saya mendapatkan uang sekitar 1.5 juta untuk 4 orang.</p>
<p>Uang sebesar itu saya belikan komputer bekas, dapat komputer pentium III. Saya cicil tambahannya, saya sisihkan gaji assisten untuk bisa membeli monitor, keyboard, mouse, joystick dan menambah memori.</p>
<p>Punya komputer membuat saya lebih produktif. Saya bisa membuat aplikasi sistem untuk perusahaan. Uang yang didapatkan bisa saya gunakan untuk membeli komputer yang lebih cepat. Dengan komputer yang lebih cepat saya bisa belajar lebih banyak. Terus menerus terduplikasi.</p>
<p>Prinsip yang sama berlaku saat saya membeli rumah yang sekarang saya tempati. Saya masih ingat, saat saya tanya pada pemilik sebelumnya, berapa biayanya, saya hanya bisa tersenyum getir karena harganya lebih dari 20X dari total tabungan saya. Saya katakan pada isteri saya, ini <em>mission impossible</em>, lebih baik lupakan mimpi-mimpi membeli rumah seperti itu. Mungkin bisa membeli rumah yang lebih jauh di pelosok dengan ukuran yang sederhana. Karena isteri bilang, lebih baik berusaha dulu, ok, saya usahakan. Saya kumpulkan semua tabungan, saya upayakan segala cara (yang normal dan halal), saya cari tahu mekanisme pembiayaan yang bisa saya peroleh, akhirnya rumah tersebut bisa saya dapatkan, meski awalnya masih kosong melompong dan saya sempat tidur melantai beberapa waktu.</p>
<p>Soal pekerjaan juga mirip. Jangan mengeluh hanya karena kita bekerja di perusahaan yang biasa-biasa saja. Lihatlah hal tersebut sebagai kesempatan bagi kita untuk bisa lebih mengembangkan kualitas pribadi dan lebih dikenal oleh atasan. Jangan terpengaruh pada kesan negatif lingkungan atau orang sekitar. Ingat selalu, hidup susah ataupun senang, kita juga yang menjalaninya.</p>
<p>Saat pertama bekerja, saya masih sebagai operator produksi, level paling bawah dalam sistem manufaktur. Kalau saya sekarang bisa bekerja dengan staff sebanyak 8 orang itu setelah menjalani proses selama 6 tahun. Orang lain mungkin sudah jauh lebih tinggi namun dengan berkaca pada pengalaman pribadi saya, saya menikmati pekerjaan saya sekarang ini.</p>
<p>Dari pengalaman diatas saya jadi ingat buku Negeri Lima Menara dengan prinsip utama Man Jadda Wajada, pepatah Arab yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Ya, kalau kita bersungguh-sungguh, akan selalu ada jalan atas setiap kesulitan yang kita alami.</p>
<p>Berlanjut ke bagian kedua : <a href="http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-kedua-mestakung/">Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian Kedua, Mestakung</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/07/jangan-menyerah-pada-kekurangan-hidup-bagian-1-man-jadda-wa-jadda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengguna Internet di Indonesia : Besar tapi kurang Produktif ?</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/06/pengguna-internet-di-indonesia-besar-tapi-kurang-produktif/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/06/pengguna-internet-di-indonesia-besar-tapi-kurang-produktif/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 08:39:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[opensuse]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1336</guid>
		<description><![CDATA[Ini bukan hasil survei atau kegiatan terkait statistik. Ini hasil pengamatan singkat saya di 2 warnet yang saya kelola. Baik di warnet pertama maupun warnet kedua, sebagian besar pengguna, terutama anak-anak dan remaja lebih banyak main games online dan social media. Pernah segerombolan anak SD kelas 1-3 datang, mengagetkan saya (mereka datang sambil hahahihi khas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini bukan hasil survei atau kegiatan terkait statistik. Ini hasil pengamatan singkat saya di 2 warnet yang saya kelola.</p>
<p>Baik di warnet pertama maupun warnet kedua, sebagian besar pengguna, terutama anak-anak dan remaja lebih banyak main games online dan social media. Pernah segerombolan anak SD kelas 1-3 datang, mengagetkan saya (mereka datang sambil hahahihi khas anak-anak). Kesemua anak itu main Facebook !</p>
<p>Awalnya saya pikir wajar-wajar saja karena toh itu hak masing-masing. Bukankah dulu juga Friendster populer tapi kini sudah redup. Apa-apa mungkin tergantung jaman.</p>
<p>Hanya saja, saya tetap merasa miris. Kalau internet hanya dipergunakan untuk keperluan games online dan social media tanpa ada nilai tambah lainnya, rasanya patut disayangkan juga. Banyak anak-anak (dan juga orang dewasa sih) yang malah belum tahu cara memanfaatkan internet untuk mendukung kegiatan belajar mereka.</p>
<p>Mungkin ada baiknya guru-guru komputer di Sekolah memberikan tugas yang mampu merangsang mereka untuk mau menggunakan internet dalam bentuk yang lebih berdaya guna dan bermanfaat. Saya tidak mengatakan bahwa social media dan games online 100% tidak baik namun hendaknya dapat diimbangi dengan kegiatan lain yang bisa mendukung kegiatan mereka.</p>
<p>Mereka mungkin bosan dengan pelajaran di sekolah sehingga memilih untuk lebih banyak menggunakan dua kegiatan tersebut. Sayangnya, keduanya berpotensi menjadi candu, sehingga mereka tidak sempat lagi berupaya mencoba aspek-aspek positif dari internet.</p>
<p>Saya jadi ingat salah satu pribahasa yang mengatakan soal &#8220;Ibarat buih di lautan&#8221;. Memang sih itu lain konteks namun bisa untuk menggambarkan pola penggunaan internet di Indonesia. Besar, banyak tapi masih kurang produktif dan tepat sasaran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/06/pengguna-internet-di-indonesia-besar-tapi-kurang-produktif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup Minimalis : Lebih Sehat &amp; Lebih Terencana</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/04/hidup-minimalis-lebih-sehat-lebih-terencana/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/04/hidup-minimalis-lebih-sehat-lebih-terencana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 04:35:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Global Warming]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1328</guid>
		<description><![CDATA[Saya sudah menulis 2 posting tentang hidup minimalis, disini dan disini. Kini tulisan yang ketiga tentang hal sepele dan sederhana namun ternyata dampaknya besar. Salah satu persoalan utama tinggal di perumahan BTN seperti sekarang adalah rapatnya rumah yang satu dengan yang lain. Hal ini membawa dampak juga bagi saya, dalam bentuk masalah sampah. Sangat kebetulan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sudah menulis 2 posting tentang hidup minimalis, <a href="http://vavai.com/blog/v2/2009/12/10/gaya-hidup-minimalis/">disini</a> dan <a href="http://vavai.com/blog/v2/2009/12/14/pengeluaran-yang-sia-sia-kaizen-dan-gaya-hidup-minimalis/">disini</a>. Kini tulisan yang ketiga tentang hal sepele dan sederhana namun ternyata dampaknya besar.</p>
<p>Salah satu persoalan utama tinggal di perumahan BTN seperti sekarang adalah rapatnya rumah yang satu dengan yang lain. Hal ini membawa dampak juga bagi saya, dalam bentuk masalah sampah.</p>
<p>Sangat kebetulan, tempat sampah rumah saya ada dibagian sisi kiri, berdekatan dengan pintu masuk rumah tetangga. Pernah beberapa kali tetangga sampai komplain, karena sampah yang lama diambil bisa menimbulkan persoalan kesehatan. Masalah ini membuat saya merasa tidak enak hati dengan tetangga karena kalau tetangga sampai terganggu kan bisa menjadi sumber konflik.</p>
<p>Selaras dengan upaya gaya hidup minimalis, saya mencoba mengatasinya dengan cara sederhana, yaitu mengurangi jumlah sampah terbuang dan memisahkan sampah basah-terurai dengan sampah plastik/botol. Kebetulan saya <a href="http://vavai.com/blog/v2/2009/07/16/mari-berkebun-diatap-rumah-kita/">berkebun diatap rumah</a> jadi sampah-sampah basah sisa makanan, bahan sayur dan lauk serta buah yang tidak keburu dimakan bisa saya jadikan kompos. Saya mengambil pot tanaman yang masih kosong, mengisi dasarnya dengan tanah dan pupuk, kemudian menuang sampah basah dan kemudian menutupnya dengan tanah lagi.</p>
<p>Dalam beberapa hari/pekan sampah tersebut akan terurai. Tidak ada bau busuk karena lapisan tanah menutupinya. Juga tidak ada lalat karena tidak ada bau yang aneh-aneh. Satu-satunya problem adalah kucing yang kadang membongkar lapisan tanah jika mencium sisa tulang ikan/ayam. Hal ini bisa diatasi dengan mudah dengan membuat naungan atau menutup pot dengan plastik. Masalah lain yang mungkin bisa mengganggu adalah kemungkinan masalah lindi, alias air rembesan yang bisa diatasi dengan membuat penampungnya dibagian bawah pot.</p>
<p>Cara sederhana ini ternyata bisa menyelesaikan berbagai masalah. Sampah-sampah yang terbuang tidak lagi berupa sampah yang membusuk melainkan berupa sampah plastik yang semakin lama jumlahnya semakin berkurang. Tidak ada bau busuk yang mengganggu, tidak ada sisa makanan yang menjadi sumber penyakit. Hasil proses dekomposisasi yang terjadi bisa menjadi sumber pupuk bagi tanaman sayur saya.</p>
<p>Disisi lain, saya jadi semakin selektif jika membeli makanan atau bahan makanan. Membeli makanan atau bahan makanan hanya secukupnya saja. Jika berbelanja tidak lupa membawa kantung daur ulang sehingga saya bisa mengurangi jumlah sampah plastik yang selama ini banyak terbuang. Saya kadang menyempatkan diri mencuci plastik yang hanya sedikit kotor (misalnya amis karena digunakan untuk membungkus ikan atau daging) sehingga jumlah sampah plastik bisa semakin dikurangi.</p>
<p>Mengubah pola penanganan sampah secara sederhana ternyata juga berpengaruh pada sikap diri dalam memandang persoalan.</p>
<p>Selama ini sikap boros saya dan keluarga mungkin tidak terlalu kentara. Menangani sampah keluarga secara swadaya membuat mata saya terbuka bahwa selama ini kami cukup boros dalam membeli makanan dan sisa makanan. Rasanya miris juga jika melihat roti yang lupa dimakan, buah yang tersimpan lama di kulkas, jenis lauk yang bentrok dan berlebihan dan banyak hal lagi.</p>
<p>Mungkin ini hal kecil yang bisa saya lakukan. Kecil namun bermanfaat bagi pribadi, keluarga dan masyarakat sekitar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/04/hidup-minimalis-lebih-sehat-lebih-terencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masjid Agung Jawa Tengah</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/03/masjid-agung-jawa-tengah/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/03/masjid-agung-jawa-tengah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 12:25:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>
		<category><![CDATA[Zimbra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1316</guid>
		<description><![CDATA[Foto dibawah ini saya ambil sewaktu ada project implementasi Zimbra Mail Server di salah satu perusahaan di daerah Semarang. Karena project ini selesai sebelum waktu estimasi (estimasi adalah 2 hari, dengan asumsi akan ada kendala karena melakukan migrasi sistem dari mail server lama berbasis Lotus Notes+Domino, ternyata selesai dalam waktu 3 jam), saya mampir kesana-kemari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Foto dibawah ini saya ambil sewaktu ada project implementasi Zimbra Mail Server di salah satu perusahaan di daerah Semarang. Karena project ini selesai sebelum waktu estimasi (estimasi adalah 2 hari, dengan asumsi akan ada kendala karena melakukan migrasi sistem dari mail server lama berbasis Lotus Notes+Domino, ternyata selesai dalam waktu 3 jam), saya mampir kesana-kemari ditemani <a href="http://masrust.web.id/">Mas Rustanto</a>, salah seorang fans openSUSE Semarang.</p>
<p>Dulu saya pikir Masjid Agung Jawa Tengah = Masjid Simpang Lima, ternyata bukan, hehehe&#8230;</p>
<p><em>Silakan klik pada gambar untuk resolusi yang lebih besar.</em></p>
<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/masjid-agung-jawa-tengah-1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1318" title="masjid-agung-jawa-tengah-1" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/masjid-agung-jawa-tengah-1.jpg" alt="" width="491" height="369" /></a></p>
<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/masjid-agung-jawa-tengah-2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1319" title="masjid-agung-jawa-tengah-2" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/masjid-agung-jawa-tengah-2.jpg" alt="" width="491" height="369" /></a></p>
<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/masjid-agung-jawa-tengah-3.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1320" title="masjid-agung-jawa-tengah-3" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/masjid-agung-jawa-tengah-3.jpg" alt="" width="491" height="369" /></a></p>
<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/masjid-agung-jawa-tengah-4.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1321" title="masjid-agung-jawa-tengah-4" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/masjid-agung-jawa-tengah-4.jpg" alt="" width="491" height="369" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/03/masjid-agung-jawa-tengah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setelah Pesta Tahun Baru Usai</title>
		<link>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/01/setelah-pesta-tahun-baru-usai/</link>
		<comments>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/01/setelah-pesta-tahun-baru-usai/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 14:13:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vavai</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[planet-terasi]]></category>
		<category><![CDATA[Resolusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://vavai.com/blog/v2/?p=1308</guid>
		<description><![CDATA[Akhir tahun sudah lewat, awal tahun sudah datang menjelang. Apakah hari-hari akan kembali kita jalani seperti demikian adanya kita jalani. Seperti sedia kala ? Saat pesta usai, yang tersisa mungkin rasa lelah. Akhir sesuatu sama dengan awal sesuatu. Akhir tahun lalu membuka awal tahun ini. Saat kita berpesta untuk akhir tahun lalu, disaat yang sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/new-year.jpg"><img class="size-full wp-image-1309 alignnone" title="new-year" src="http://vavai.com/blog/v2/wp-content/uploads/2010/01/new-year.jpg" alt="" width="520" height="349" /></a></p>
<p>Akhir tahun sudah lewat, awal tahun sudah datang menjelang. Apakah hari-hari akan kembali kita jalani seperti demikian adanya kita jalani. Seperti sedia kala ?</p>
<p>Saat pesta usai, yang tersisa mungkin rasa lelah. Akhir sesuatu sama dengan awal sesuatu. Akhir tahun lalu membuka awal tahun ini. Saat kita berpesta untuk akhir tahun lalu, disaat yang sama kita menghadapi awal tahun baru dengan rasa lelah, bangun siang setelah terkapar semalam.</p>
<p>Apakah itu salah ?</p>
<p>Salah benar itu relatif. Salah atau benar kembali pada diri kita masing-masing. Kita yang melakukan, kita yang menjalani, kita juga yang merasakannya.</p>
<p>Pada intinya, pesta boleh-boleh saja, asal jangan lupa bahwa libur itu bukan segalanya. Libur tetap ada batasannya, hidup juga tetap ada batasannya. Jangan sampai terlalu semangat berpesta hingga lupa mempersiapkan diri untuk masa-masa berikutnya, yang mungkin saja tidak terlampau bersahabat seperti masa-masa yang telah lewat.</p>
<p>Saat semalam pangkas rambut (yeah, menyambut tahun baru dengan model rambut baru sepertinya menarik juga), saya membaca artikel menarik disalah satu majalah yang disediakan, yang kira-kira berbunyi, &#8220;Resolusi tahun baru boleh saja, jangan lupa menjalankannya&#8221;.</p>
<p>Jadi, siapkan tenaga, ide kreatif dan potensi untuk memulai awal tahun. Jangan biarkan resolusi-resolusi pribadi kita hanya sekedar menjadi wacana belaka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://vavai.com/blog/v2/2010/01/01/setelah-pesta-tahun-baru-usai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

