Kurang Produktif = Tidak Memiliki Nilai Tambah

Pada artikel sebelumnya, ada seorang rekan yang balik bertanya, “Penggunaan internet yang produktif itu seperti apa sih?”.

Wah, ini pertanyaan sulit dan bisa membawa susulan pertanyaan, apapun jenis jawaban yang diberikan. Meski demikian, saya tetap menjawabnya dalam jawaban ringkas, bahwa penggunaan internet yang produktif adalah yang memberikan nilai tambah.

Sebenarnya jawaban ini tidak khusus untuk penggunaan internet namun juga untuk semua pekerjaan. Semua orang pasti tahu bahwa tidak mungkin ada suatu kondisi dan keadaan yang cocok pada semua orang, jadi soal produktif atau tidak kembali pada kepentingan si pengguna atau pelakunya.

“Lho, bagi saya Facebook dan games online produktif kok. Saya bisa mendapat bisnis dari situ, saya juga bisa mendapat banyak manfaat dari situ. Games online juga penting buat hiburan, masya sih jadi orang harus selalu serius, rigid dan nggak bisa santai”.

Ya, memang benar, karena sayapun tidak mengatakan bahwa Facebook dan games online itu tidak produktif 100%. Ada konteks pembicaraan disitu, yaitu bahwa saya melihatnya dalam situasi dimana Facebook dan games online digunakan sehari-hari secara kurang pas.

Mungkin saja saya bisa salah sangka. Wajar, karena saya tidak mungkin melakukan sensus pada setiap orang.

Kembali pada soal kurang produktif tadi. Masalahnya sebenarnya bisa diperluas bukan hanya soal Facebook dan games online, namun juga pada social media lain, pada soal chatting, pada soal pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan secara harian. Jangan sampai sesuatu yang sifatnya menghibur, mendukung dan membantu kita justru malah menenggelamkan kita.

Pekerjaan yang kurang produktif juga bukan hanya untuk sesuatu yang sifatnya mendukung dan menghibur, melainkan dalam bentuk pekerjaan yang hanya dikerjakan sebatas standar pekerjaan itu saja.

Contoh kasus misalnya dikantor saya. Staff IT saya minta untuk membuat laporan tahunan apa saja yang dikerjakan selama tahun 2009. Ada staff IT yang menulis kegiatan seperti memperbaiki komputer rusak, memperbaiki bug program, jaringan yang bermasalah, pasang pita printer dll.

Apakah itu salah ? Tentu saja tidak, karena itu memang mereka lakukan. Apakah itu produktif ? Tidak, karena apa yang mereka lakukan merupakan sesuatu pekerjaan yang standar, sudah baku, tidak bisa tidak harus dilakukan. Mereka harus lebih produktif dibandingkan sekedar melakukan pekerjaan harian.

Contohnya misalnya, membuat project atau improvement untuk meningkatkan usia penggunaan komputer sekaligus meningkatkan kecepatan respon dan replacement. Kalau dulu membutuhkan waktu hingga 3 jam untuk instalasi sistem dan mengembalikannya pada pihak klien, semestinya ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas pekerjaannya. Beberapa hal berikut bisa menjadi contoh suatu kegiatan dari project improvement yang dimaksud :

  1. Membuat duplikat sistem dalam bentuk image virtual yang berisi salinan sistem yang baku. Hal ini akan mengurangi waktu install dan waktu setup
  2. Tidak menyimpan data pada komputer klien. Semua data disimpan di server sehingga komputer klien dapat diganti kapan saja tanpa perlu menyalin data yang selama ini digunakan
  3. Menggunakan model thin-client/LTSP. Selain akan memperpanjang usia penggunaan suatu hardware juga akan mengurangi biaya investasi (harddisk misalnya) sekaligus mengurangi waktu proses untuk deployment sistem

Jadi bisa dilihat, dari suatu kegiatan sepele dan biasa-biasa saja bisa dilakukan berbagai hal untuk menghindari masalah.

Dalam sistem Gemba Kaizen, segala hal yang tidak produktif dan tidak memberikan nilai tambah dinamakan muda. Muda bisa berarti pemborosan. Pemborosan waktu, biaya, tenaga, sumber daya, momentum dan lain-lain. Kemampuan melakukan Gemba Kaizen dan mendeteksi muda atau hal-hal yang tidak produktif ini akan sangat bermanfaat bagi kita dalam merumuskan perbaikan-perbaikan sistem.

Kembali ke soal kegiatan yang kurang produktif. Contoh yang paling mudah adalah membuka situs porno. Apakah ini tidak boleh ? Jawabannya tentu kembali kepada diri masing-masing. Apakah membuka situs tersebut akan membuat anda tambah produktif atau justru membuat anda terlena ?

Ada lagi yang perlu diperhatikan, yaitu segala yang berlebihan akan berakibat pada hal yang kurang produktif disisi lain. Ada satu kegiatan positif saya yang jika tidak dikelola dengan baik bisa membuat kegiatan umum saya menjadi kurang produktif, yaitu hobby membaca buku. Jika saya terus menerus membaca buku, mungkin saya akan terlena dan tidak sempat mengerjakan hal-hal prioritas lain yang mestinya saya kerjakan. Membaca buku memang memberikan nilai tambah pengetahuan, hiburan dan kesenangan bagi saya, namun kalau berlebihan saya malah jadi tidak produktif disisi lainnya.

Posted by vavai on Jan 8th, 2010 and is filed under Personal. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Responses to “Kurang Produktif = Tidak Memiliki Nilai Tambah”

  1. pebbie January 8th, 2010, 1:01 pm

    :D woh, penjelasannya mantap om! :D

    tapi sepertinya agak kurang tepat mendefinisikan sesuatu yang kurang dengan parameter berupa pertambahan melainkan dengan acuan kapasitas standar.

    IMHO, jika sesuai dengan standar pekerjaan seharusnya sudah diberi predikat produktif sedangkan jika ternyata hasil yang dikerjakan tidak sesuai (kurang) dengan yang dijanjikan di standar barulah disebut sebagai kurang produktif.

    jika ternyata ada nilai tambah di luar hal yang disepakati sebagai standar tentu perlu diapresiasi sebagai hal yang lebih.

    terkait dengan posting sebelumnya tentang penggunaan internet, tentu ada nilai tambah (tambah informasi) tetapi mungkin pertanyaannya perlu diubah menjadi apakah tambahan informasi yang didapat itu relevan dengan tujuan yang ingin dicapai. (sesuai definisi om affan yang baru produktif kalo ada tujuan/kerjaannya)

    sekedar recehan (just my two cents :D )

  2. vavai January 8th, 2010, 1:05 pm

    @Pebbie,

    Thanks buat masukannya boss. Untuk ukuran produktif/kurang produktif dengan contoh kasus staff IT itu, konteksnya memang dalam bentuk peningkatan kualitas pekerjaan, bukan sekedar menjalankan tugas yang standar. Anyway, beda pendapat tapi it’s OK, trims buat pandangan dan pendapatnya.

  3. jacobian January 8th, 2010, 7:13 pm

    haha…yach kalau membuka situs porno mah biar bisa refreshing dikit.kan stress jg tuh kalau lihatin source code terus.hehehe… :-)

    my_blog

Leave a Reply