Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian 1, Man Jadda Wajada

Mumpung masih suasana tahun baru 2010, saya menulis artikel ini. Niatnya sebenarnya hendak saya tulis pada tanggal 1 Januari 2010 namun apa daya, saya lupa, πŸ™‚ . Karena terlalu panjang, tulisannya saya bagi menjadi 2 bagian.

Mohon dipahami bahwa tulisan saya difokuskan dan diniatkan sebagai upaya berbagi, tanpa maksud mengurangi atau melebih-lebihkan sesuatu.

***

Kudengar gemuruh ombak lautan

Nyanyian daun-daun dan serangga malam

Angin mendesau membisikkan sesuatu

Dan bau tanah pegunungan memanggiliku

Maka kutinggalkan rumah dan ranjang mimpi

Pergi mengembara ke belantara sunyi

Menyeret ransel sarat beban

Oh, apa yang sebenarnya kau buru

Lakon apa yang ingin kau mainkan

Ya, akulah si pengembara

Terus bergerak kearah cakrawala

Walau beribu kali tersungkur kenyataan

Jiwaku menolak kebuntuan jalan…

Man Jadda WaJadda, Siapa Bersungguh-Sungguh akan Berhasil

Puisi diatas saya sarikan dari salah satu episode Balada si Roy. Ceritanya memang tentang seorang pendaki, pencinta petualangan (avonturir, adventure) tapi yang lebih saya tekankan adalah 2 baris terakhir.

Saya kerap mendengar teman-teman mahasiswa dan teman-teman kerja yang mengeluh soal fasilitas, soal peluang dan soal pekerjaan. Yang mahasiswa mengeluh karena ia tidak punya cukup uang untuk membiayai kuliahnya. Ia tidak bisa menguasai materi-materi ilmu komputer karena tidak punya perangkat komputer. Tidak bisa menggunakan email karena tidak punya uang untuk ke warnet. Yang sudah bekerja mengeluh karena pekerjaannya tidak bonafid. Tidak bekerja di gedung bertingkat. Tidak bekerja sesuai keinginan, latar belakang pendidikan dan kemampuan. Ada lagi yang mengeluh karena orang tuanya hanya bisa memberikan biaya sekolah sebatas sekolah menengah. Mau bekerja sulit karena perusahaan justru banyak yang mengurangi pekerjanya. Mau berusaha sulit karena tidak punya modal.

Sebenarnya masalahnya apa sih ? Saya melihat masalahnya bukan pada kesempatan yang tidak ada melainkan pada kekalahan dan penyerahan diri pada kekurangan hidup.

Tidak usah menunggu nasib berubah dengan sendirinya. Tidak usah menunggu segala fasilitas ada. Apa yang bisa kita lakukan harus kita lakukan.

Terus terang saya aneh kalau mendengar ada orang yang sampai kelaparan atau ada anak muda yang terpaksa berbuat kejahatan hanya karena lapar. Bukan saya tidak simpati pada mereka namun semestinya ada jalan lain untuk mengatasi kesulitan hidup.

Saya memang orang asli Bekasi yang lahir dan besar di Bekasi dan belum pernah merantau seperti hanya rekan-rekan yang lain tapi saya pernah membayangkan bahwa andaikata saya merantau kesuatu tempat dan tidak punya uang untuk menyambung hidup, saya akan pergi ke pasar untuk menjual jasa saya. Apakah saya membantu-bantu pedagang atau melakukan pekerjaan kasar lainnya. Saya tidak akan merasa hina melakukan hal demikian karena saya mempergunakan akal, kemampuan dan daya guna saya untuk mengatasi masalah saya sendiri.

Saya pernah menemukan seorang teman saya di kampus. Ia menjadi office boy di kampus, saat siang hingga sore hari ia berjualan cabai dan bawang di depan pasar baru Bekasi. Ternyata malamnya ia kuliah. Selesai kuliah ia bisa mengembangkan usaha dia. Saya benar-benar appreciate. Dia orang pendatang. Kalau dia tidak berusaha dia tidak akan sukses, salah-salah dia bisa terkubur ditempat rantaunya. Ya, dia memang capai dan lelah tapi apa bedanya toh tidak berbuat apa-apa juga tetap lelah kok.

Kadang saya ingin bilang pada mahasiswa, kalau kalian memang kuliah dibidang ilmu komputer, usahakan punya komputer. Kalau tidak punya uang untuk membelinya, jangan patah semangat. Ada berbagai cara untuk bisa mendapatkannya secara halal. Bisa dengan menulis artikel, bisa dengan memberikan kursus, private, menjadi operator warnet dan lain-lain.

Saya masih ingat, pada pertengahan tahun 1999, saya belum punya komputer, padahal saya kuliah dibidang komputer. Saya bingung dan khawatir, ijazah saya nantinya memang sarjana komputer tapi kalau saya tidak familiar dan kurang menguasai komputer, apa saya bisa percaya diri untuk bekerja dibidang itu ?

Akhirnya saya ambil kesempatan menjadi Assisten lab komputer karena menjadi assisten lab artinya saya bisa menggunakan komputer sepuasnya. Lama-lama saya kepikiran untuk membeli komputer tapi gaji sebagai assisten hanya cukup untuk biaya makan (saya kelahiran Tambun-Bekasi tapi indekost di Bekasi dekat kampus). Berpikir sana-sini ternyata jalannya ada, yaitu saya mengajar private. Saya masih ingat mengajar private untuk persiapan anak-anak yang hendak membuat skripsi. Saya memberikan private bahasa pemrogramman. Saya mendapatkan uang sekitar 1.5 juta untuk 4 orang.

Uang sebesar itu saya belikan komputer bekas, dapat komputer pentium III. Saya cicil tambahannya, saya sisihkan gaji assisten untuk bisa membeli monitor, keyboard, mouse, joystick dan menambah memori.

Punya komputer membuat saya lebih produktif. Saya bisa membuat aplikasi sistem untuk perusahaan. Uang yang didapatkan bisa saya gunakan untuk membeli komputer yang lebih cepat. Dengan komputer yang lebih cepat saya bisa belajar lebih banyak. Terus menerus terduplikasi.

Prinsip yang sama berlaku saat saya membeli rumah yang sekarang saya tempati. Saya masih ingat, saat saya tanya pada pemilik sebelumnya, berapa biayanya, saya hanya bisa tersenyum getir karena harganya lebih dari 20X dari total tabungan saya. Saya katakan pada isteri saya, ini mission impossible, lebih baik lupakan mimpi-mimpi membeli rumah seperti itu. Mungkin bisa membeli rumah yang lebih jauh di pelosok dengan ukuran yang sederhana. Karena isteri bilang, lebih baik berusaha dulu, ok, saya usahakan. Saya kumpulkan semua tabungan, saya upayakan segala cara (yang normal dan halal), saya cari tahu mekanisme pembiayaan yang bisa saya peroleh, akhirnya rumah tersebut bisa saya dapatkan, meski awalnya masih kosong melompong dan saya sempat tidur melantai beberapa waktu.

Soal pekerjaan juga mirip. Jangan mengeluh hanya karena kita bekerja di perusahaan yang biasa-biasa saja. Lihatlah hal tersebut sebagai kesempatan bagi kita untuk bisa lebih mengembangkan kualitas pribadi dan lebih dikenal oleh atasan. Jangan terpengaruh pada kesan negatif lingkungan atau orang sekitar. Ingat selalu, hidup susah ataupun senang, kita juga yang menjalaninya.

Saat pertama bekerja, saya masih sebagai operator produksi, level paling bawah dalam sistem manufaktur. Kalau saya sekarang bisa bekerja dengan staff sebanyak 8 orang itu setelah menjalani proses selama 6 tahun. Orang lain mungkin sudah jauh lebih tinggi namun dengan berkaca pada pengalaman pribadi saya, saya menikmati pekerjaan saya sekarang ini.

Dari pengalaman diatas saya jadi ingat buku Negeri Lima Menara dengan prinsip utama Man Jadda Wajada, pepatah Arab yang berarti siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Ya, kalau kita bersungguh-sungguh, akan selalu ada jalan atas setiap kesulitan yang kita alami.

Berlanjut ke bagian kedua : Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian Kedua, Mestakung

Posted by vavai on Jan 7th, 2010 and is filed under Feature, Personal, Work. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

23 Responses to “Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian 1, Man Jadda Wajada”

  1. iin January 7th, 2010, 10:37 am

    yeah!!! setelah mbaca jadi semangat πŸ˜€ brotherku yg 1 ini emang keren πŸ™‚

  2. sufehmi January 7th, 2010, 10:51 am

    Well done pak Vavai…. sangat menggugah. Terimakasih sudah sharing.
    Semoga bisa menjadi inspirasi kita semua, dan menggerakkan kita untuk juga menuju ke yang lebih baik lagi, aminnn

  3. Someone January 7th, 2010, 11:35 am

    Terima kasih mas Vavai,

    Beberapa kali artikel pengalaman hidup dan motivasi anda sangat mendorong dan menginspirasi. Kata orang bijak, bagaimana kita hidup itulah pelajaran dan kenangan yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita nantinya.

    Mudah2an suatu saat mas Vavai bisa berkenan menulis bagaimana menurunkan semangat pantang menyerah ini kepada anaknya.

    I can’t thank you more…

  4. niQue January 7th, 2010, 12:55 pm

    It’s cool!
    Setuju banget sama mas Vavai, akan selalu ada JALAN jika kita selalu BERUSAHA. Intinya JANGAN PERNAH MENYERAH, saya juga sudah mengalami banyak peristiwa, dan setiap pencapaian selalu saja masih membuat saya takjub.

    Terima kasih sudah berbagi πŸ™‚

  5. Aris Heru Utomo January 7th, 2010, 1:02 pm

    terima kasih telah berbagi … ayo tetap semangat.
    btw kemana aja ? kok dalam beberapa pertemuan gak hadir?

    Salam semangat

  6. jacobian January 7th, 2010, 4:19 pm

    wah mas vavai bisa memberikan kata2 semangat yg sangat efektif seperti ini. thanks ya. πŸ™‚

    my_blog

  7. bahtiar January 7th, 2010, 6:13 pm

    man jada wa jada

    man sobaro laparo

    πŸ™‚

  8. Kukuh TW January 7th, 2010, 7:46 pm

    vavai, berbakat juga jadi penulis buku inspirasi dan motivator, di coba deh, pasti berhasil !

  9. gunawan t wicaksono January 7th, 2010, 9:00 pm

    Salut! Tulisan mas Vavai memberikan motivasi dan inspirasi.

  10. jarwadi January 8th, 2010, 8:57 am

    foto foto nya keren sekali mas

  11. vavai January 8th, 2010, 9:23 am

    @Iin, ya, sisternya siapa dulu dounk
    @Sufehmi, Thanks mas. Saya belajar banyak dari mas Harry
    @Someone, Thanks buat responnya. Bertahap saya memang menerapkan ini pada anak saya, namun yang saat ini lebih banyak saya introduksi pada adik dan keponakan saya

    @niQue, Thanks buat sharenya
    @Aris Heru Utomo, Thanks buat kunjungannya boss. Maaf, awal tahun ini overload kerjaan untuk laporan akhir tahun dan roadmap 3 tahun mendatang
    @Jacobian, thanks buat komentarnya
    @Bahtiar, pengalaman pribadi ni ye πŸ˜›
    @Kukuh TW, Thanks boss. Tersanjung deh ogut. Really appreciate
    @Gunawan TW, Thanks buat komentarnya boss. Saya juga salut untuk TW bersaudara. Hebatz
    @Jarwadi, foto hasil nyolong gak bilang-bilang kok mas πŸ™‚

  12. hmcahyo January 20th, 2010, 11:02 am

    POSTING KEREN πŸ™‚

    i like it πŸ™‚

  13. siska wijanarko May 20th, 2010, 8:26 pm

    thank atas sepiritnya,sehingga amembuka wawasan aku untu lebih kuat maju

  14. referensi buku kuliah September 16th, 2011, 10:34 pm

    belanja buku, belanja ilmu pengetahuan,betul kan ??

  15. Trimo Leksono November 4th, 2011, 9:54 am

    Ya, dia memang capai dan lelah tapi apa bedanya toh tidak berbuat apa-apa juga tetap lelah kok.

    Saya senang quote di atas, kebanyakan dari orang cuma mengeluh doang tanpa action sampai lebaran monyet jg gak bakalan berubah.

    Mendingan action apa yg di inginkan, hasilnya mungkin gak selalu sama dengan apa yg di harapkan tapi paling gak sudah ada usaha dan bisa memetik ilmu dari usaha itu πŸ™‚

  16. mahasiswa jakarta February 28th, 2012, 11:16 am

    terima kasih pak atas kisah perjuangan bpk. saya sangat terinspirasi sekali dgn kisah ini. semoga bermanfaat bagi saya. aamiin

  17. dhea March 14th, 2012, 9:46 am

    I LIKE IT ….. ~_~

  18. alwyshe August 16th, 2017, 11:45 am

    Terkadang aku berpikir bahwa hanya diriku di dunia ini yang paling susah akan tetapi ternyata masih bayak orang lain yang lebih susah
    “setelah mmbaca kisah diatas aku menjadi terinpirasi” mulai sekarang aku akan menjadi pekerja keras untuk menggapai tujuan hidup yang lebih mulia.

Trackbacks

  1. Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian Kedua, Mestakung | Blog Vavai
  2. Tweets that mention Jangan Menyerah pada Kekurangan Hidup : Bagian 1, Man Jadda Wa Jadda | Blog Vavai -- Topsy.com
  3. penerbit salemba,referensi buku pendidikan
  4. Staff IT : Antara Karir, Sertifikasi, Biaya dan Kesempatan | Bisnis Having Fun
  5. » Staff IT : Antara Karir, Sertifikasi, Biaya dan Kesempatan

Leave a Reply