Saya sudah menulis 2 posting tentang hidup minimalis, disini dan disini. Kini tulisan yang ketiga tentang hal sepele dan sederhana namun ternyata dampaknya besar.
Salah satu persoalan utama tinggal di perumahan BTN seperti sekarang adalah rapatnya rumah yang satu dengan yang lain. Hal ini membawa dampak juga bagi saya, dalam bentuk masalah sampah.
Sangat kebetulan, tempat sampah rumah saya ada dibagian sisi kiri, berdekatan dengan pintu masuk rumah tetangga. Pernah beberapa kali tetangga sampai komplain, karena sampah yang lama diambil bisa menimbulkan persoalan kesehatan. Masalah ini membuat saya merasa tidak enak hati dengan tetangga karena kalau tetangga sampai terganggu kan bisa menjadi sumber konflik.
Selaras dengan upaya gaya hidup minimalis, saya mencoba mengatasinya dengan cara sederhana, yaitu mengurangi jumlah sampah terbuang dan memisahkan sampah basah-terurai dengan sampah plastik/botol. Kebetulan saya berkebun diatap rumah jadi sampah-sampah basah sisa makanan, bahan sayur dan lauk serta buah yang tidak keburu dimakan bisa saya jadikan kompos. Saya mengambil pot tanaman yang masih kosong, mengisi dasarnya dengan tanah dan pupuk, kemudian menuang sampah basah dan kemudian menutupnya dengan tanah lagi.
Dalam beberapa hari/pekan sampah tersebut akan terurai. Tidak ada bau busuk karena lapisan tanah menutupinya. Juga tidak ada lalat karena tidak ada bau yang aneh-aneh. Satu-satunya problem adalah kucing yang kadang membongkar lapisan tanah jika mencium sisa tulang ikan/ayam. Hal ini bisa diatasi dengan mudah dengan membuat naungan atau menutup pot dengan plastik. Masalah lain yang mungkin bisa mengganggu adalah kemungkinan masalah lindi, alias air rembesan yang bisa diatasi dengan membuat penampungnya dibagian bawah pot.
Cara sederhana ini ternyata bisa menyelesaikan berbagai masalah. Sampah-sampah yang terbuang tidak lagi berupa sampah yang membusuk melainkan berupa sampah plastik yang semakin lama jumlahnya semakin berkurang. Tidak ada bau busuk yang mengganggu, tidak ada sisa makanan yang menjadi sumber penyakit. Hasil proses dekomposisasi yang terjadi bisa menjadi sumber pupuk bagi tanaman sayur saya.
Disisi lain, saya jadi semakin selektif jika membeli makanan atau bahan makanan. Membeli makanan atau bahan makanan hanya secukupnya saja. Jika berbelanja tidak lupa membawa kantung daur ulang sehingga saya bisa mengurangi jumlah sampah plastik yang selama ini banyak terbuang. Saya kadang menyempatkan diri mencuci plastik yang hanya sedikit kotor (misalnya amis karena digunakan untuk membungkus ikan atau daging) sehingga jumlah sampah plastik bisa semakin dikurangi.
Mengubah pola penanganan sampah secara sederhana ternyata juga berpengaruh pada sikap diri dalam memandang persoalan.
Selama ini sikap boros saya dan keluarga mungkin tidak terlalu kentara. Menangani sampah keluarga secara swadaya membuat mata saya terbuka bahwa selama ini kami cukup boros dalam membeli makanan dan sisa makanan. Rasanya miris juga jika melihat roti yang lupa dimakan, buah yang tersimpan lama di kulkas, jenis lauk yang bentrok dan berlebihan dan banyak hal lagi.
Mungkin ini hal kecil yang bisa saya lakukan. Kecil namun bermanfaat bagi pribadi, keluarga dan masyarakat sekitar.
Dedhi January 4th, 2010, 3:12 pm
Hebat !! Salut saya.
jacobian January 4th, 2010, 3:41 pm
wah mas vavai emang sangat peduli dgn lingkungan ya.mungkin mas vavai bisa masuk greenpeace tuh.hehe…anyway nice suggestion you’ve got there.
my_blog
edo May 22nd, 2010, 2:27 pm
Good…patut diteladani…salam