Bekasi dan Tantangan Kota Metropolitan

Catatan : Artikel ini ditulis untuk menjawab tantangan Walikota Bekasi Mochtar Mohammad & anjuran dari teman-teman Komunitas Blogger Bekasi.

Sebagai salah satu wilayah perkotaan yang berbatasan langsung dengan ibu kota DKI Jakarta, Bekasi awalnya merupakan salah satu wilayah yang difungsikan sebagai kota penyangga namun pada perkembangannya Bekasi menjadi kota metropolitan sendiri, dengan jumlah penduduk,perkembangan industri dan infrastruktur yang pesat menyaingi ibu kota Jakarta. Perkembangan yang luar biasa ini turut membawa dampak pada masalah-masalah perkotaan yang umum dihadapi oleh kota-kota dengan perkembangan yang pesat. Ledakan jumlah penduduk, arus komuter warga dan perkembangan industri dan jasa tidak bisa lagi dihadapi dengan kebijakan hit and run, kebijakan populis semata namun harus diletakkan kedalam kerangka rencana perkembangan kota selama beberapa tahun mendatang.

Siapapun walikota yang menjabat, ia akan mengalami masalah-masalah yang timbul dari perkembangan kota yang luar biasa, baik dari segi keamanan, sosial-politik, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Ia tidak harus menjadi seorang superman namun selayaknya jika walikota mampu memberdayakan sumber daya pegawai pemerintah dan warga untuk dapat memenuhi rencana dan cita-citanya.

Menyikapi perkembangan kota Bekasi mulai dari kota administratif yang dipimpin oleh walikota Kailani AR kemudian oleh walikota Nonon Sonthanie disusul oleh walikota Ahmad Zurfaih dan kini dipimpin oleh walikota Mochtar Mochammad, perkembangan Bekasi masih relatif terkendala masalah yang mirip.

Pemerintahan walikota Kailani AR sudah memberikan dasar-dasar pemerintahan yang swakelola hingga akhirnya Bekasi secara definitif menjadi kota madya. Prestasi ini diteruskan oleh walikota Nonon Sonthanie dengan membuat berbagai proyek inffrastruktur, penghijauan dan pembangunan jalan yang hasilnya bisa dirasakan sekarang. Sayangnya, prestasi ini menjadi relatif mengendur kala dipegang oleh walikota Ahmad Zurfaih. Secara kasat mata, tidak ada pembangunan infrastuktur yang mencolok selain kelanjutan dari proyek di jaman walikota Nonon Sonthanie.

Pasangan Walikota Mochtar Mochammad dan wakil walikota Rachmat Effendi yang kini memerintah Bekasi bukanlah orang baru dibidang pemerintahan Kota Bekasi. Mochtar Mochammad adalah wakil walikota saat walikota Ahmad Zurfaih menjabat sedangkan Rachmat Effendi merupakan Ketua DPRD Kota Bekasi periode yang sama. Keduanya menjadi pasangan walikota-wakil walikota pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat Bekasi. Terpilihnya pasangan ini disertai dengan dukungan yang kuat dari wakil rakyat yang duduk di DPRD Kota Bekasi karena posisi walikota saat ini adalah ketua DPD PDIP Kota Bekasi sedangkan posisi wakil walikota adalah Ketua DPD Golkar kota Bekasi. Meski anggota DPRD dari masing-masing partai masih kalah dibandingkan partai Demokrat, gabungan keduanya disertai partai-partai lain membuat posisi tawar politik yang kuat bagi keduanya. Dengan demikian, harapan masyarakat Bekasi untuk melihat kemajuan dan pembangunan kota yang lebih pesat bukanlah harapan yang muluk.

Harapan ini ternyata bagai gayung bersambut. Berbekal pengalaman keduanya pada periode pemerintahan yang lalu, pemerintah kota Bekasi menggebrak dengan meluncurkan pemenuhan janji kampanye mereka, yaitu membebaskan biaya layanan pendidikan tingkat dasar dan menengah serta gratisnya layanan kesehatan. Meski ada banyak hal yang harus diperbaiki pada implementasinya, pemenuhan janji kampanye ini menjadi awal yang baik, apalagi terbetik kabar bahwa mulai tahun 2010 pembebeasan biaya layanan pendidikan akan di perluas hingga ketingkat SMA (KOMPAS, 30 Desember 2009)

Secara umum, kedua pasangan ini sudah meletakkan dasar yang kuat bagi pemerintahan kota Bekasi periode sekarang, yaitu dalam bentuk :

  1. Pembangunan Infrastruktur. Banyak kalangan yang menyatakan bahwa Bekasi terkenal kemana-mana karena jalannya rusak dan berlubang-lubang. Ini bukan sekedar anggapan sinis semata karena nyatanya pada akhir pemerintahan lalau, jalan-jalan yang rusak bukan hanya terdapat diwilayah perumahan dan kampung melainkan juga pada jalan protokol KH Noer Alie (Kali Malang). Pemkot Bekasi di era sekarang sudah meletakkan dasar yang tepat, yaitu memperbaiki sebagian besar jalan rusak, termasuk proyek pelebaran jalan utama Cut Meuthia menjadi empat jalur disertai pembangunan trotoar serta rencana pembangunan jalur Bekasi-Halim/Jakarta Timur yang akan menambah jalur transportasi menjadi dua jalur terpisah. Bahwa masih ada jalan-jalan rusak dibeberapa tempat merupakan tantangan pemerintah kota Bekasi untuk melakukan kegiatan turun langsung ke lapangan dan membuat perencanaan perbaikan yang lebih komprehensif.
    `
    Ilustrasi Jalan Rusak
    `
    Ilustrasi Jalan Rusak
  2. Kebersihan, Ketertiban dan Keindahan. Bekasi mendapat predikat buruk sebagai kota terkotor se Indonesia pada akhir pemerintahan lalu, label yang sangat memalukan warga Bekasi. Pemkot Bekasi era sekarang bekerja keras untuk menghilangkan predikat ini. Meski belum berhasil mendapatkan Adipura, upaya ini menunjukkan hasil dengan keluarnya Bekasi dari predikat kota terkotor. Harapannya, upaya keras ini bukanlah sekedar lips service dan seremonial belaka, merupakan kesadaran warga untuk menjadikan Bekasi sebagai kota yang nyaman untuk ditempati. Jika tahun 2010 atau tahun mendatang Bekasi mendapat piala Adipura, hal itu merupakan buah dari kerja sama pemerintah dan warga Bekasi yang menyadari pentingnya hidup bersih, sehat dan teratur.
  3. Permberdayaan Masyarakat. Program dan proyek pembangunan di kota Bekasi tidak akan membawa dampak yang signifikan dan permanen jika tidak melibatkan peran serta masyarakat. Disini peran serta dan kepedulian walikota Mochtar Mohammad pada berbagai komunitas seni, budaya dan komunitas blogger merupakan upaya untuk meningkatkan kesadaran sekaligus peran serta masyarakat. Upaya walikota ini patut dihargai karena peran serta warga masyarakat akan menjamin kesinambungan program-program yang telah dicanangkan
  4. Peningkatan Kualitas & Sarana Pendidikan. Bekasi tidak perlu menunggu daerah lain menjalankan program-program pendidikan yang menyentuh masyarakat banyak. Tidak boleh ada lagi berita soal Sekolah yang ambruk di Bekasi, atau sekolah yang kualitas bangunannya memprihatinkan. Bekasi juga bisa menjadi pionir pemberian beasiswa bagi putra-putri Bekasi untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi dengan menggunakan pola ikatan dinas. Pemberian beasiswa ini bisa dijadikan program berkelanjutan dengan harapan dapat memupuk pemimpin-pemimpin Bekasi di masa mendatang. Pendirian perpustakaan umum, pendidikan luar sekolah dan program online system merupakan salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mendukung program tersebut
  5. Pembangunan Berkelanjutan. Pembangunan mal dan sarana perkantoran yang demikian pesat harus diimbangi dengan sarana-sarana sosial dan dukungan infrastruktur yang memadai. Rencana pembangunan jalan layang di Bulak Kapal, Dua jalur Tambun-Bekasi Timur-Jakarta Timur melintasi Kali Malang merupakan proyek besar yang bisa menjadi contoh bahwa Bekasi mampu dan dapat mengerahkan sumber dayanya untuk kemaslahatan masyarakat banyak

Menjadi pemimpin untuk kota sebesar dan dengan kemajuan pesat seperti Bekasi tentu tidak mudah namun bukan berarti sedemikian sulit. Dengan latar belakang pengalaman dan niat tulus membangun Bekasi serta dengan dukungan berbagai pihak dan kelompok masyarakat, walikota Bekasi sekarang ini bisa dikenang sebagai pemimpin yang membawa Bekasi sebagai kota metropolitan yang bersih, teratur, indah, menyenangkan dan aman untuk ditinggali.

Posted by vavai on Dec 31st, 2009 and is filed under Blog, Personal. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply