Pengeluaran yang Sia-Sia, Kaizen dan Gaya Hidup Minimalis

kaizenSeperti yang saya singgung pada posting sebelumnya, saya berupaya menerapkan gaya hidup minimalis untuk memperbaiki kualitas hidup. Bukan hanya untuk keuntungan pribadi dalam konteks menekan biaya pengeluaran namun juga dalam upaya kontribusi pada kehidupan di sekitar dan sebagai upaya menghindari pengeluaran yang sia-sia.

Jadi, istilah gaya hidup minimalis yang saya maksudkan bisa dirangkum dalam 2 arti yang sederhana. Pertama : menggunakan segala sesuatu sesuai kebutuhan dan kedua, menghindari pengeluaran yang sia-sia. Bagi para penggemar cerita dan inspirasi kisah manajemen, hal ini semestinya tidak asing lagi karena umum diterapkan diperusahaan-perusahaan. Salah satu esensi Toyota Way dan Kaizen misalnya, menitikberatkan pada upaya improvement dalam mengurangi pemborosan dan menghindari kesia-siaan. Untuk sebuah pabrik, upaya mengurangi dan membatasi stock bahan baku  agar sesuai dengan kebutuhan merupakan bagian dari upaya Kaizen menghindari biaya. Penyediaan bahan baku hanya sesuai kebutuhan dengan memperhitungkan aspek produk fast moving dan slow moving akan mengurangi biaya pembelian bahan baku, biaya penyimpanan, biaya perawatan dan biaya investasi yang macet (karena stock yang terlalu besar sama dengan investasi yang macet)

Fenomena diatas secara prinsip bisa diterapkan juga dilingkungan kehidupan pribadi dan keluarga, dalam hal ini penerapannya berupa gaya hidup minimalis. Implementasinya sederhana. Belilah keperluan sesuai kebutuhan. Jangan duplikasi atau redundan. Sebagai contoh, ketika semalam pulang dari rumah family di Pondok Labu Jakarta Selatan, isteri saya bertanya, kira-kira mau beli apa untuk makan malam. Dulu-dulu, saya bisa menggunakan kesempatan pulang ini sebagai wisata kuliner, mencicipi makanan di beberapa tempat jajan yang enak di Bekasi. Kalaupun tidak makan ditempat, makanan bisa dipesan untuk dibungkus dan perhitungannya adalah jumlah maksimal, jangan sampai ada yang kurang. Hal berbeda saya lakukan tadi malam. Alih-alih memesan dala jumlah maksimal, saya bilang pada isteri untuk memesan hanya sesuai jumlah yang bisa kami makan. Kalaupun besok butuh untuk makan pagi atau siang, jauh lebih mudah untuk memasak makanan fresh.

Contoh lain yang sederhana adalah, alih-alih membeli makanan lengkap, bisa juga kita memilih untuk membeli lauk tanpa nasi. Meski mungkin nilainya tidak seberapa, akan menjadi sebuah kesia-siaan jika ternyata dirumah juga memasak nasi.

Contoh-contoh diatas tentu saja disesuaikan dengan batas kewajaran, bukan berarti segalanya harus diminimalkan sehingga kita menjadi kaku seperti robot. Alamiah saja, apa yang bisa dihemat sebaiknya dihemat, jika butuh 1 ya beli 1 jangan 2. Menyimpan untuk stock memang bagus sebagai tindakan berjaga-jaga tapi juga jangan berlebihan.

Perbaikan memang tidak bisa secara drastis dilakukan, jadi jangan menjadi putus asa jika ternyata kita tidak bisa 100% memenuhi semua kaidah gaya hidup minimalis atau memenuhi kaidah-kaidah Kaizen. Santai saja. Apa yang bisa kita lakukan untuk kebaikan, meski itu nilainya relatif kecil, lakukan saja. Sekecil apapun nilainya, segala bentuk tindakan kebaikan bukan merupakan tindakan sia-sia, jauh lebih bermanfaat dibandingkan memboroskan sesuatu.

Posted by vavai on Dec 14th, 2009 and is filed under Personal, Work. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Responses to “Pengeluaran yang Sia-Sia, Kaizen dan Gaya Hidup Minimalis”

  1. abu zahidah al bikasy December 15th, 2009, 6:07 am

    patut di tiru nih bang vavai, segera dech saya juga hidup dengan pola sederhana, orang mau mewah juga gak ada yang bat mewah2nya…blognya bhasa indonesia kok ada adsensenya…gimana caranya bang mang dah boleh ya ama google…

  2. Iqbal Nurhadi February 5th, 2010, 1:54 pm

    Om, tau ga… orang tuaku dari dulu selalu bilang bgini… “eweh hubungana prinsip hirup prihatin jeung pandapatan jalma”… eh maaf om… ini bahasa sunda ala orang tua ke anak… artinya bgini, “ga ada hubungannya pendapatan orang dengan prinsip hidup sederhana”… justeru dengan sederhana yang betul2 dari hati… secara otomatis akan mengerem segala kemauan yang tidak perlu dan kadang juga yg perlu… hasilnya… bersyukur… dan tentu lbh kreatif dari yg lain… karena selalu berusaha memanfaatkan yang ada… hm… mirip prinsip linux ya…

Trackbacks

  1. Tips Penghematan Pribadi | Migrasi Windows Linux

Leave a Reply