Gaya Hidup Minimalis

minimalis

Ilustrasi Gaya Hidup Minimalis. Sumber Gambar : http://www.flashwebmaster.com/portfolio/3Dgraphics/parkway_3D_architectural_render_living_room.jpg

Saya mendengar istilah ini dari blognya Pak Roni. Thanks buat inspirasinya, pak. Ide ini sederhana, namun semakin dipikir semakin menarik, soalnya sekarang menjelang akhir tahun dan ide-ide unik seperti ini bisa menjadi bahan resolusi ditahun 2010.

Alasan lainnya adalah soal kesehatan & simplicity. Awal pekan ini Zeze Vavai sakit muntah-muntah. Mungkin karena masuk angin mungkin juga karena makanan yang tidak cocok. Saya ambil izin dari kantor dan menemaninya seharian dirumah, bergantian dengan isteri saya yang ambil izin seharian di hari Senin.

Saat menemani Zeze Vavai itu saya jadi banyak mikir melihat gaya hidup yang selama ini saya lakukan. Saya lihat di kulkas dan di meja makan ada banyak makanan, padahal kami tinggal dirumah hanya berempat. Saya, isteri, Zeze Vavai dan mbak yang bantu-bantu kami. Kadang miris juga kalau terpaksa membuang makanan karena tidak ada yang makan.

Kalau dipikir lebih jauh, makanan itu banyak yang dimasak, yang artinya menghabiskan bahan bakar, waktu dan tenaga. Bahan makanan itu juga secara otomatis mengambil jatah uang untuk membelinya. Andai saya tak membuangnya, atau bahkan tidak membelinya, tentu ada bahan bakar yang bisa dihemat, waktu yang bisa diselamatkan dan tenaga yang bisa digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat. Kalau tidak jadi membeli bahan makanan yang tidak dimakan itu, uangnya bisa digunakan untuk keperluan lain, baik itu untuk budget bulanan maupun untuk membantu orang lain.

Bukan sekali dua saya makan bukan karena lapar melainkan karena kebiasaan. Kebiasaan kalau pagi itu sarapan, siang itu makan siang dan malam itu makan malam. Padahal, agenda makan itu mungkin bisa saya kurangi, bukan hanya untuk penghematan namun juga untuk kesehatan.

Minimalis soal makanan dan kesehatan dalam pandangan saya berarti saya hanya makan sesuai dengan kebutuhan. Pas, cukup dan tidak berlebihan. Minimalis juga artinya saya harus membuat badan saya proporsional. Tidak kegendutan, tidak juga terlalu kurus. Waktu untuk makan bisa saya ganti menjadi waktu untuk olah raga, menghemat sekaligus menyehatkan.

Gaya hidup minimalis juga berarti saya mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. Untuk jarak dekat saya bisa berjalan kaki, atau menggunakan sepeda. Saya tidak perlu membeli sesuatu karena lapar mata. Saya juga tidak perlu membeli koran atau majalah yang informasinya bisa saya gantikan dengan informasi secara online. Tidak terlalu drastis sih sebenarnya, namun idenya selaras, yaitu berusaha menggunakan penghasilan secara selektif dan efektif.

Penggunaan AC mungkin bisa saya kurangi dengan mengaktifkan schedule aktif dan tidak aktifnya AC secara otomatis. Jika biasanya saya menggunakan AC dengan suhu 17 derajat, mungkin saya bisa memilih suhu 24 derajat. Jika biasanya AC dihidupkan sejak jam 7 malam hingga pagi hari, mungkin AC bisa diatur agar hidup mulai jam 10 malam dan non aktif secara otomatis pada jam 2 atau 3 pagi.

Saya juga bisa memilih penggunaan kantong daur ulang dan mengurangi penggunaan sampah plastik. Memilih daur ulang sisa makanan agar menjadi pupuk daripada membiarkannya membusuk ditempat sampah.

Bagi saya, gaya hidup minimalis bisa dianalogikan dengan kegiatan improvement secara terus menerus, dalam arti bahwa ini bukan keterpaksaan, juga bukan serba sangat minimal. Gaya hidup minimalis bisa diartikan sebagai “menempatkan segala sesuatu sesuai porsi dan proporsinya”.

Posted by vavai on Dec 10th, 2009 and is filed under Personal. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

5 Responses to “Gaya Hidup Minimalis”

  1. shanti December 11th, 2009, 12:34 am

    Kalo makanan berlebihan sebaiknya sebelum rusak bisa didalam kulkas, dan kalo mau dimakan bisa dihangatkan kembali. Kalo mau disimpan dalam waktu yang lama bisa dimasukan freezer untuk dibekukan. kalo kepengen makan lagi yah tinggal dikeluarkan dan tunggu sampai tidak membeku lagi dan baru bisa dihangatkan. Begitulah cara hidup kami menyimpan makanan di Belanda. Soalnya disini gak ada tukang makanan lewat, jadi yah harus nyimpan makanan dirumah :)

  2. niQue December 12th, 2009, 5:42 am

    SETUJU dengan mba Shinta!
    atau kalau memang tidak suka makan makanan yang dihangatkan, alangkah baiknya diberikan pada orang lain. Sedikit ribet mungkin, tapi tidak ada salahnya dicoba. Pertimbangan kita terkadang, ah tinggal dikit ini buang aja deh, mo ngasi ke orang juga nanggung. Ini yang saya bilang sedikit ribet. Jika lauk cuma sedikit, tambahkan lauk lainnya, bungkuskan bersama nasi, syukur2 bisa dibagi2 jadi 2bungkus, bawalah ketika akan berangkat ke kantor dan berikan pada saudara2 kita yg bekerja sebagai pemulung atau sejenisnya yang kita temui di jalan. Cobain deh :)

    Soal penghematan a.k.a memulai gaya hidup minimalis spt yang mas Vavai paparkan, saya setuju banget, namun saya sendiri masih kesulitan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik sebagai wadah membuang sampah. Paling tidak sudah dimulai dengan memilah2 sampah kering dan sampah basah, sehingga mas2 pengangkut sampah di komplek engga terlalu ‘gimana gitu’ deh waktu ngambilnya.

    Wah, komen saya bisa jadi tulisan sendiri ya hehehe … maap ya mas Vavai :)

Trackbacks

  1. Tweets that mention Gaya Hidup Minimalis | Blog Vavai -- Topsy.com
  2. Hidup Minimalis : Lebih Sehat & Lebih Terencana | Blog Vavai
  3. Blogwalking: Seberapa pedulikah kita? « NICAMPERENIQUE.ME

Leave a Reply