Inilah buku yang membuat saya tak lepas membacanya sejak saya membuka halaman pertama buku ini, padahal buku ini sempat menggeletak disamping tempat tidur tak tersentuh karena saya hampir tidak sempat membaca selama 2 minggu terakhir.
Saya lupa membeli buku ini dimana, sepertinya di Gramedia Mal Metropolitan Bekasi. Berikut adalah pengantar pada bagian belakang buku :
“Empat serdadu Belanda (dua orang Swiss, satu Belgia, dan satu lagi Indo beribu Nias), kabur dari benteng Kuala Kapuas. Mereka kecewa dengan pemerintah yang menggaji mereka lebih rendah dari jumlah yang dijanjikan sebelumnya. Keluar dari benteng berarti petualangan menembus rimba-raya Kalimantan yang sarat maut. Selama 70 hari mereka merambah belantara Kalimantan dari selatan ke utara, menyusuri sungai penuh riam, melintasi rawa-rawa penuh jebakan alam, mendaki bukit penuh batu, memanjat tebing curam, melawan buaya dan ular, sampai melawan para pengayau.
M.T.H. Perelaer (1831 – 1901) ialah opsir Belanda yang pernah terlibat Perang Banjarmasin (1859). Pada 1860 ia menjadi pejabat sipil untuk kawasan Groote en Kleine Dajak, sekarang dikenal sebagai Kalimantan Tengah. Setelah Perang Aceh, Perelaer pensiun dari ketentaraan dengan pangkat mayor pada 1879. Ia meninggal di Den Haag pada 1901. Perelaer dikenal luas sebagai pengamat adat-istiadat Dayak. Pengetahuannya yang luas tentang Dayak telah dituangkan dalam buku Etnographisce Beschrijving der Dajaks (1870). Selain novel Desersi atau dalam bahasa aslinya Borneo van Zuid naar Noord, ia telah menulis novel Baboe Dalima.”
Apa sih yang menarik dari buku ini ? Bagi para penggemar cerita petualangan, buku ini menawarkan petualangan yang rancak yang dikemas dalam nuansa alam Kalimantan yang indah. Bermula dari kisah desersi para eks tentara Belanda di Kalimantan, meeka harus berjuang menembus hutan lebat Kalimantan yang masih perawan, gara-gara salah seorang desertir mabuk dan secara tak sadar memaki prajurit Belanda yang sedang mengawasi penyamaran mereka saat hendak kabur. Niat mereka kabur melalui jalur laut menjadi buyar dan akibatnya mereka harus menempuh jalur yang lebih sulit baik dari segi keganasan alam maupun tantangan suku Dayak Pedalaman.
Saat kisah ini terjadi merupakan tahun-tahun dimana tradisi mengayau kepala masih umum dilakukan sebagai suatu bagian kehormatan sehingga perjalanan mereka berkali-kali menemui kisah-kisah yang heroik dengan tidak menafikan aspek-aspek kemanusiaan. Untuk mengurangi masalah-masalah yang terjadi, keempat desertir terpaksa menyamar menjadi orang pribumi dengan cara mengecat kulit bule meeka dengan sejenis tinta dari bahan alami yang sulit dihapus dengan air. Geli juga saat membaca salah seorang desertir, La Cueille tidak bisa disamarkan menjadi orang Dayak asli karena perawakannya yang langsing, matanya yang cemerlang, janggut dan kumis yang indah serta rambut yang ikal sehingga akhirnya ia terpaksa menyamar menjadi salah seorang syekh keturunan Arab, Syekh Mohammad Al Mansur. Penyamaran yang lain sendiri ini membuat ia terpaksa menahan diri dari memakan daging babi dan minuman keras yang memang diharamkan bagi orang Islam.
Buku petualangan ini juga bagus bagi para mahasiswa Antropologi karena cukup banyak memuat pengalaman para desertir saat melakukan proses barter, kisah persaudaraan, tradisi dan upacara adat hingga kepercayaan yang dianut oleh Suku Dayak. Ada kisah menarik yang dimuat yang bisa menjadi bahan pemikiran saat penulis mengisahkan upacara untuk membuktikan pihak mana yang bersalah. Caranya adalah dengan memasukkan jari para pihak yang berselisih kedalam cairan damar panas. Cara pembuktiannya sederhana, siapa yang bersalah, tangan ialah yang akan melepuh dan mengelupas keesokan harinya. Namun apakah cara seperti ini sedemikian sakti membuktikan bersalah atau tidaknya seseorang, silakan baca kisahnya yang membuat kita jadi melongo dan melengak heran.
Meski banyak memuat kisah kekerasan yang bernuansa kekejaman awal abad 20, kisah ini menarik untuk diikuti.
Desersi: Menembus Rimba Raya Kalimantan / M.T.H. Perelaer; penerjemah, Helius Sjamsuddin; penyunting, Candra Gautama. – Cet.1. – Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2006. – xiv, 286 P.; 21 Cm
One Response to “Resensi Buku : Desersi, Menembus Rimba Raya Kalimantan”
Trackbacks