Kenangan Lebaran dari Tahun ke Tahun

Tadi sore adik ipar saya bilang, “Kalau mendengar suara takbir Lebaran rasanya gimana gitu..”

Memang iya, malam takbiran itu bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga. Menjadi momen untuk mengingat kenangan-kenangan, untuk merenung dan juga menjadi saat yang tepat untuk introspeksi.

Tahun demi tahun berlalu, ada banyak kenangan yang saya alami yang tentunya dialami juga oleh rekan yang lain hanya saja dalam bentuk yang berbeda. Apa saja kenangan itu ? Berikut adalah beberapa diantaranya :

  1. Ketidak hadiran kakek, Nenek dan kakak kandung yang paling sulung. kakek saya meninggal dunia tahun 1982, sedangkan nenek saya menyusul beberapa tahun kemudian. Kakak kandung saya yang perempuan & sulung meninggal dunia karena Demam Berdarah pada tanggal 23 Maret 2009 yang lalu. Rasanya bagai mimpi saja dan saya sempat lama berdamai dengan hati saya untuk bisa menerimanya. Penyesalan karena terlambat mengetahui penyakitnya, penyesalan karena saya kurang aware, penyesalan karena saya tidak bisa mendampinginya, penyesalan karena tidak dirawat di fasilitas kesehatan nomor satu, penyesalan dan rasa sedih saya saat ibu saya sambil menangis menelpon saya saat saya dikantor. Saya masih punya hutang tulisan yang hendak saya dedikasikan pada almarhumah kakak saya ini, yaitu tulisan tentang cara mencegah dan mengobati penyakit Demam Berdarah Dengue berdasarkan pengalaman pribadi. Mudah-mudahan Ramadhan dan Idul Fitri menjadi berkah bagi Almarhumah dan juga pada orang lain yang telah mendahului.
  2. Rindu Sayur Bening. Saya termasuk penyuka makanan serba daging, karenanya menjadi vegetarian merupakan hal berat bagi saya. Disisi lain, lebaran seakan menjadi surga makanan bagi saya. Saat dulu masih kecil dan makan daging merupakan kemewahan (sekarangpun masih-Vai), lebaran merupakan saat yang tepat bagi saya untuk makan apa yang saya suka. Saya tahu ini perilaku yang kurang baik tapi apa mau dikata, saya sangat suka masakan semur daging yang dibuat oleh ibu saya. Perilaku ini mulai berkurang semenjak saya kapok sakit typhus saat lebaran tahun 2002. Sejak itu saya secara bertahap mulai mengerem makanan serba daging dan disaat lebaran seperti ini saya malah rindu sayur bayam atau kangkung yang dimasak bening :-D . Untungnya ibu saya punya rumah makan dan saat lebaran menjual gado-gado jadi sayuran tetap tersedia meski penjual sayur banyak yang libur
  3. Takbiran Keliling. Saat belum menikah, saya jarang ada dirumah disaat malam takbiran seperti ini. Waktu belum ada gadis yang saya apeli, saya ikut takbiran keliling (naik truk :-P ) dan biasanya lokasi rendezvous bertemu dengan teman-teman yang lain adalah daerah Monas Jakarta. Norse (Norak sekalee) ? Kayaknya sih iya tapi seru juga lho keliling-keliling seperti itu. Saya masih ingat waktu terjebak kemacetan di daerah Kranji Bekasi, petasan berseliweran menjadikan suasana sangat meriah. Berbahaya ? Iya, memang tapi ya mau gimana, pikiran saya nggak sampai soal bahaya. Banyak peserta takbiran yang membawa bendera Slank dan bendera Persija (Macan Kemayoran) :-) . Saat menjelang pemilu 2004, yang dibawa malah bendera partai :-D . Saya insyaf dari kegiatan ini setelah ada yang saya apeli dan menjadi orang rumahan. Belakangan saya malah baru sadar bahwa sangat sering orang tua saya ada dirumah sementara saya kabur kemana-mana.
  4. Membuat Ketupat. Ketupat sangat identik dengan lebaran. Saat masih SD saya sempat mengisi waktu menunggu berbuka dengan membantu tetangga saya yang menjadi penjual kulit ketupat. Gara-gara itu, saya jadi mahir membuat ketupat berbagai tipe dan ternyata hal ini banyak manfaatnya. Keponakan saya dengan senang hati menyediakan kulit ketupat dan saya diminta membuatnya. Kalau sudah jadi, sebagian diambil untuk keperluan sendiri, sisanya malah dijual. Hasil penjualan kulit ketupat ini melebihi angpau yang biasanya mereka terima saat lebaran. Berdasarkan hal ini saya sempat berpikir, mungkin jika satu waktu berhenti dari pekerjaan yang terkait dengan komputer, saya bisa beralih profesi menjadi penjual kulit ketupat :-)
  5. Membuat Dodol, Rengginang, Sagon, Geplak, Procot dan Kue Duit. Kesemua yang saya sebutkan itu adalah kue-kue yang umumnya dibuat oleh orang Betawi-Bekasi saat menjelang lebaran, meski kini sudah mulai jarang. Dodol Betawi adalah kue yang paling istimewa. Pembuatannya bisa memakan waktu hingga 7 jam. Selama pembuatan harus diaduk secara perlahan, konsisten dan terus menerus. Tidak boleh berbicara yang jorok, porno maupun tidak sopan. Apinya mesti kecil namun harus stabil. Karenanya sekarang sudah jarang orang yang membuat dodol Betawi karena syaratnya yang lumayan berat itu. Kue-kue yang lain relatif mudah dibuat namun kini banyak yang tergantikan dengan kue-kue jadi semacam nastar atau kue bolu coklat. Pernah mendengar kue procot ? Mungkin anda familiar dengannya namun tidak tahu kalau kue procot adalah nama lain dari kue akar kelapa. Kenapa disebut procot, karena adonannya diprocotkan (dikeluarkan secara perlahan) dan dibuat melingkar-lingkar.
  6. Lebaran = Ngalebar-Lebar Daharan ? Saya pernah baca disalah satu majalah, katanya asal kata lebaran adalah Ngalebar-Lebar Daharan alias makan besar. Apakah benar, wallahu alam. Yang jelas saat lebaran makanan sangat berlimpah. Salah satu kebiasaan dikampung saya di Tambun-Bekasi adalah sedekah dimasing-masing rumah saat malam takbiran. Kadang bisa ada lebih dari 5 rumah yang menyediakan sedekah, padahal lingkungannya kurang dari 20 rumah. Umumnya berasal dari 1 puak, misalnya 1 kakek atau 1 buyut (ayah dari kakek). Sedekah yang dimaksud ini berbeda dengan sedekah uang. Sedekah ini semacam kenduri, biasanya dimulai dari rumah keluarga yang paling tua kemudian berpindah ke rumah lainnya. Karena perut sudah kenyang sewaktu berbuka puasa, anak-anak sering membawa plastik dan memasukkan makanan kedalam plastik untuk nanti dimakan dirumah. Tidak mau rugi, hehehe…
  7. Mudik dan Tidak Mudik. Sebagai orang asli Bekasi, sampai tahun 2005 saya tidak pernah mudik kemana-mana. Paling terkena imbas, menyeberang rel KA menjadi lebih susah karena frekuensi perjalanan kereta yang meningkat. Pernah juga terpikir, gimana sih rasanya mudik ? Mungkin exciting ya ? Ternyata setelah ikutan mudik ke kampung isteri, rasanya ya sama menariknya dengan mudik di kampung sendiri. Bedanya, jika tidak mudik saya punya lebih banyak waktu luang. Lalu lintas di seputar Bekasi-Jakarta menjadi lengang. Pengecualian untuk tempat-tempat wisata di Jakarta yang justru lebih ramai saat libur lebaran. Untungnya saat mudik adalah bisa sekalian jalan-jalan dan bertemu teman-teman di berbagai kota.

Itu pengalaman-pengalaman saya selama ini. Masih ada beberapa pengalaman lain yang mungkin akan sangat panjang jika saya tuliskan. Sempat terpikir untuk menulis entry khusus : Lebaran ala Orang Bekasi :-D .

Bagaimana dengan pengalaman anda ?

Posted by vavai on Sep 19th, 2009 and is filed under Personal. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “Kenangan Lebaran dari Tahun ke Tahun”

  1. geblek September 21st, 2009, 8:28 am

    hehehe malah selama 9 th belum ngrasain lebaran mudik :)
    selamat idul fitri mas, mohon maaf lahir dan bathin

Leave a Reply