Perhatian Kita pada Sekeliling Kita

Inilah yang mendera saya selama 1-2 minggu belakangan : Apa yang sudah dan akan saya perbuat untuk kemajuan lingkungan sekeliling saya.

Selama ini saya kerap abai tanpa saya sadari, saya hanya berpikir tentang diri saya pribadi, tentang rencana dan cita-cita saya, tentang kesulitan dan peluang saya. Hingga disatu malam saya bangun dan terjaga, tersentak oleh satu pertanyaan, “Apa yang akan saya lakukan sampai akhir batas usia”.

Usia saya sekarang melewati 30 tahun. Dengan harapan hidup umumnya orang Indonesia, waktu saya berkisar pada 20-25 tahun lagi. Mungkin lebih cepat dan mungkin lebih lama. Tak jadi soal, karena yang jauh lebih penting adalah apa kontribusi saya bagi sesama.

Mungkin tak akan ada yang salah jika saya berjuang untuk kesejahteraan diri dan keluarga saya. Setiap orang melakukan hal yang sama. Yang menjadi masalah, bukankah perjuangan memberi kesejahteraan bagi diri dan keluarga tidak menafikan peluang untuk melakukan hal yang sama bagi orang lain.

Beberapa hari belakangan saya membaca kisah-kisah orang pemberani, orang-orang yang menggunakan sebagian waktu dan hidupnya untuk orang lain tanpa kehilangan kebahagiaannya sendiri. Saya membaca kisah-kisah Dik Doank, kisah-kisah para volunteer yang berusaha memberikan pencerahan pada hidup dan lingkungan disekeliling mereka.

Saya membaca buku Pesantren Ilalang, nyanyi dan kisah sunyi mengenai perjuangan seorang guru dengan gaji pas-pasan di sebuah Pesantren sederhana di pelosok Sumatera.

Saya membaca Tetralogi Buru Pram (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca) dan membacai pergulatan batin seorang Minke.

Kita tidak perlu berharap melakukan sesuatu yang besar dan fenomenal. Cukuplah apa yang bisa kita lakukan sekarang dengan apa yang kita miliki sekarang. Tak penting pula apakah jejak-jejak yang kita lakukan menjadi catatan sejarah atau bukan.

Jika kita ingin berkontribusi pada kesejahteraan dan kemajuan rakyat dan bangsa Indonesia, kita bukan hendak menuliskan bait-bait cerita sejarah namun kita melakukannya karena semesta mengendakinya. Karena kita diciptakan bukan untuk hidup bagi diri kita pribadi. Karena hidup kita akan terlalu singkat untuk sekedar kita lewati hari demi hari.

Sementara kita berjuang mencari nafkah, kita tidak harus kehilangan nurani kita. Kita tidak perlu menjadi terlalu kiri atau terlalu kanan untuk melakukan segala sesuatu yang kita dedikasikan.

Mungkin bukan hanya satu dua hal yang bisa saya lakukan sekarang. Mungkin ada banyak hal yang bisa saya lakukan untuk menuangkan ide-ide dan gagasan agar tidak hanya mati sunyi didalam pikiran saya.

Ternyata, berbagi itu membahagiakan, asal bukan membagi derita bagi sesama :-)

Posted by vavai on Jun 30th, 2009 and is filed under Personal. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Responses to “Perhatian Kita pada Sekeliling Kita”

  1. sufehmi July 3rd, 2009, 5:20 am

    Kita tidak perlu berharap melakukan sesuatu yang besar dan fenomenal. Cukuplah apa yang bisa kita lakukan sekarang dengan apa yang kita miliki sekarang. Tak penting pula apakah jejak-jejak yang kita lakukan menjadi catatan sejarah atau bukan.
    —————–

    Kalau saja semua orang bisa berjuang dengan keikhlasan yang seperti ini :)
    Dunia akan jadi indah sekali jadi seperti surga.

    Teruskan perjuangannya pak. Thanks.

  2. vavai July 3rd, 2009, 2:30 pm

    Terima kasih untuk supportnya pak Harry. Mudah-mudahan tetap istiqomah…

  3. alfaroby July 9th, 2009, 10:49 pm

    tulisan yang menarik…

    mari terus berkarya duhai anak bangsa….

    salam untuk anda yang sedang menunaikan tugas yang mulia

Leave a Reply