Salah satu kerisauan saya yang utama dan menghinggapi saya selama ini adalah kenyataan ada banyak anak-anak putus sekolah di kampung saya di Tambun-Bekasi. Mereka bukan putus sekolah dalam arti berhenti ditengah jalan (meski ada juga beberapa) melainkan mereka lulus SLTA namun tidak bisa melanjutkan kuliah dan juga tidak bisa bekerja.
Lowongan pekerjaan sangat terbatas. Kalaupun ada, banyak perusahaan yang memilih menggunakan yayasan. Mereka tidak punya pilihan. Jika mereka masuk melalui yayasan, mereka harus menyetorkan sekian juta rupiah dari gaji (prosesnya dicicil, misalnya Rp. 500 ribu tiap bulan) sedangkan kadang mereka hanya bekerja selama 3-6 bulan saja.
Saat ini saya memang tinggal agak jauh dari kampung tempat saya dilahirkan di Tambun sana. Saya tinggal di Bekasi Timur, dekat terminal Bekasi. Jarak tempat tinggal sekarang dengan kampung saya di Tambun memang hanya beda kecamatan namun tiap saya pulang menjenguk orang tua saya, rasa risau dihati saya tidak kunjung reda. Banyak dari mereka adalah tetangga saya dilingkungan rumah orang tua saya. Beberapa diantaranya malah sanak family saya, sedangkan sebagian besar lagi adalah adik kelas saya baik di SD maupun SMP.
Saya tahu pasti sikap dan tindak tanduk mereka sedari kecil. Saya tahu mereka adalah anak-anak yang relatif baik. Kalaupun ada kenakalan, semuanya kenakalan khas remaja dan bukan kriminal.
Masalahnya, tidak bisa kuliah dan tidak memiliki pekerjaan membuat mereka hanya memiliki sedikit kesempatan. Ada stigma bahwa orang Bekasi (asli ?) itu pemalas. Stigma yang mungkin dilekatkan karena ada beberapa sikap yang dilakukan oleh segelintir orang namun menjadi generalisasi.
Saya tidak pernah percaya pada generalisasi. Baik itu generalisasi yang dilekatkan pada orang Bekasi asli ataupun generalisasi yang dilekatkan pada orang lain, didaerah lain, pada suku lain.
Stigma orang Bekasi pemalas dan bodoh mungkin gejala umum yang bukan hanya terjadi di Bekasi. Didaerah lain mungkin ada kecenderungan yang sama, yang sering berujung pada konflik horizontal sosial-masyarakat.
Saya tidak ingin melawan stigma yang dibalas dengan stigma. Ada banyak stigma negatif tentang orang Bekasi, antara lain soal pemalas dan bodoh tadi, kemudian stigma tukang kawin (yang membuat isteri saya sempat maju mundur saat hendak menikah dengan saya
), stigma soal jual tanah warisan, stigma soal ketidakmauan merantau, stigma soal ketidakmauan belajar dan stigma negatif lainnya.
Saya khawatir, stigma yang ada, tidak kuliah dan tidak bekerja jika tidak dikelola dengan hati-hati bisa menyeret mereka pada perilaku kriminal.
Jika sebagian besar orang langsung mengecam tindak tanduk ormas-ormas kedaerahan yang mengatasnamakan Bekasi atau Betawi, saya pribadi miris karena ada banyak diantara mereka yang ikut organisasi tersebut karena tidak punya pilihan untuk bisa mencari nafkah.
Saya sejak lama berpikir, apakah ada yang bisa saya lakukan untuk mengurangi stigma tersebut sekaligus membantu mereka-mereka yang mengalami kesulitan diatas. Saya juga tidak ingin membatasinya hanya untuk orang Bekasi karena saya pribadi cenderung untuk meniadakan sekat-sekat kedaerahan dan jargon “orang asli”
Pikir saya, mungkin ada yang bisa saya lakukan tanpa menunggu saya kaya raya dan membiayai seluruh misi saya. Berikut adalah beberapa pemikiran yang terlintas dibenak saya :
Dalam minggu ini mungkin saya akan bisa membuat gambaran yang lebih jelas mengenai bentuk kegiatan yang akan saya lakukan. Bagi rekan-rekan yang punya pengalaman untuk kegiatan sejenis atau rekan-rekan yang memiliki saran atau kritik silakan sampaikan melalui bagian komentar.
Yudhis June 24th, 2009, 2:24 pm
kabarkan kita mas jika sudah punya gambaran proposalnya, siapa tahu ada yang bisa kita bantu.
salam kebersamaan
Vavai June 24th, 2009, 2:37 pm
@Yudhis,
Halo mas, insya Allah akan saya kabari. Salam buat adik kecil yang manis, saya masih ingat fotonya di PB 2007, salam dari Zeze Vavai
Ki Syafrudin June 24th, 2009, 2:51 pm
Kenapa Vavai tidak mengutamakan gagasan yang berorientasi pada wirausaha ?
Mengingat:
-1- Sabda nabi, 9 dari 10 pintu rizki ada pada wirausaha.
-2- Krisis saat ini diperkirakan masih 2 – 3 tahun lagi, sehingga lowongan kerja akan terus jarang, sementara PHK akan terus terjadi.
-3- Mencetak pekerja cenderung mencetak “penunggu nasib”, sementara mencetak wirausahawan, biasanya mencetak “pembelajar seumur hidup”.
Berkaitan dengan penggalakan Wirausaha, sebetulnya sudah cukup banyak inisiatif yang terkait seperti:
1. Untuk membangkitkan motivasi dan konsultasi, sudah ada seminar / pelatihan murah meriah tentang wirausaha, seperti yang biasa diadakan oleh Andri Maadsa / Success University, UKM Center-nya FEUI, majalah Enterpreuner, Kopma, dan pemangku kepentingan lainnya. Untuk memotivasi, masalah menjadi wirausaha sekarang dilombakan seperti yang diselenggarakan oleh Femina atau penghargaan Wirausaha Muda Mandiri Bank Mandiri.
2. Untuk membantu modal usaha, selain jalur bank perkreditan rakyat, ada dua jalur lebih mudah dijangkau bagi pemula:
a. CSR, hampir semua perusahaan besar punya program CSR yang salah satunya berupa bantuan modal usaha mikro.
b. Lembaga Amil Zakat, seperti program Mozaik dari Rumah Zakat, atau program Misykat dari Darut Tauhid.
Sementara ketrampilan teknis sendiri praktis “tidak perlu”. Mereka bisa mulai berdagang apa saja yang mereka bisa, mulai dari dagang baju Tanah Abang diedarkan keliling, atau jual gorengan, pecel, rujak, nasi kuning, dan lain – lain mata dagangan yang “tidak spesial”.
Bahkan sebetulnya bisa dimulai dari tanpa modal, cukup kepercayaan dan kemauan untuk jalan kaki keliling kampung, seperti memperdagangkan kue atau donat punya orang, jadi loper koran, jual teh botol.
Yang paling penting adalah mentalitas.
Ki Syafrudin June 24th, 2009, 3:19 pm
Berkaitan dengan stigma mentalitas Bekasi, jalur wirausaha sangat bagus sebagai cara untuk pendidikan mentalitas. Seperti:
1. Rasa syukur.
Yang berwirausaha, Insya Allah lebih mampu menghargai rizki berapapun di dapat, karena di setiap rupiah yang diterima, tercermin keringat yang dia keluarkan. Berbeda dengan buruh, yang cenderung berapapun banyaknya keringat yang dikucurkan, dapatnya “seolah olah” sama. Bukannya bersyukur, mereka cenderung mengeluh menuntut kenaikan upah, meski sering tidak mawas diri atas peran yang dia sumbangkan.
2. Softskill: Keuletan, Kepercayaan Diri, Kreativitas, Komunikasi.
Wirausahawan terdidik bahwa sukses tidaknya dia tergantung pada usaha sendiri. Relasi harus dibangun sendiri. Berbeda dengan buruh yang sering menganggap karir temannya maju karena jadi bos pilih kasih.
3. Belajar Sepanjang Hayat.
Dalam berwirausaha terasa sekali tuntutan untuk belajar. Selesai belajar menjual, mesti belajar pemasaran, habis itu belajar pengemasan.
Punya karyawan, jadi belajar tentang HRD.
Usaha tambah maju, jadi mesti belajar lagi tentang pajak, tentang akuntansi, dst.
Sebagai seorang wirausahawan juga, tentu Vavai juga merasakan hal itu.
Nah, menurut saya kalau seseorang sudah lulus pendidikan mental wirausaha tersebut, kalau kemudian menjadi karyawanpun, Insya Allah, akan sukses dalam karirnya.
Vavai June 24th, 2009, 3:40 pm
@Ki Syafrudin,
Terima kasih atas masukannya. Saya sangat menghargainya. Tentu saya menghargai usulan wirausaha ini karena orang tua saya sendiri seorang wirausahawan
geblek June 24th, 2009, 6:33 pm
luar biasanya mas, semoga lancar tanpa ada halangan untuk menyukseskan cita2 ini.
iPhone 3GS June 25th, 2009, 8:08 am
kerisauan yg sama mas..
tapi mas lebih jauh melangkah dibandingkan saya.
sdgkan saya masih di awang-awang