Saya memang bukan kali ini saja main ke Semarang tapi biasanya saya bawa kendaraan sendiri atau naik bis dan itupun cuma sekedar lewat atau singgah untuk shalat di Simpang Lima. Ketika kali ini main ke Semarang dan bisa lihat-lihat suasana kotanya, ada beberapa hal yang bisa menjadi catatan jika dibandingkan dengan suasana kota Bekasi atau kota lain yang pernah saya singgahi.
Yang pertama yang cukup mengagetkan adalah kondisi landas pacu bandara Ahmad Yani yang sangat dekat dengan laut. Sewaktu kemarin saya kesana, tak jauh dari tepi landas pacu terlihat bekas rob / limpahan akibat banjir air laut. Penanaman bakau disekitar lingkungan bandara, utamanya ditepi yang berbatasan dengan laut terlihat masih kurang dan saya sempat berpikir apakah mungkin satu waktu bandara tidak bisa didarati akibat banjir pasang.
Ternyata, ketika saya tiba di Semarang dan sempat browsing via internet, bandara Ahmad Yani pernah ditutup akibat banjir
Kasus kecelakaan pesawat di bandara Polonia Medan yang terletak di tengah pemukiman mungkin menjadi salah satu pertimbangan keamanan sipil sehingga bandara harus terletak jauh dari pemukiman. Seingat saya ini merupakan aturan umum bandara, yang juga menjadi salah satu alasan mengapa bandara Soekarno Hatta ada jauh di pelosok Cengkareng.
Yang menjadi masalah, ancaman banjir ini agak aneh bagi bandara Ahmad Yani karena sewaktu-waktu bisa mendadak ditutup akibat landas pacunya tidak bisa didarati.
Mungkin pihak Angkasa Pura atau Pemda Jateng atau Pemkot Semarang memiliki alasan dan pertimbangan tertentu mengapa lokasi bandara terletak ditepi laut. Mungkin juga sudah ada rencana lain untuk mengantisipasi keadaan ini. Mudah-mudahan sih ada karena kalau melihat keadaan sekarang, kondisinya cukup riskan.
Catatan berikutnya adalah suasana Semarang. Meski ada ditepi pantai, kondisi udaranya tidak sepanas Surabaya maupun Jakarta. Mungkin juga karena saya main kedaerah Banyumanik-Ungaran yang ada didaerah tinggi dan pohon-pohonnya masih cukup banyak sehingga suasananya sejuk.
Dari sisi lalu lintas, Semarang sama ramainya dengan kota-kota besar lain meski tentu saja tidak sebanding dengan suasana macet ramai padat merayap di Jakarta, utamanya di daerah Cakung yang biasa saya lewati sehari-hari. Kotanya juga cukup bersih, jauhlah dibandingkan dengan Bekasi yang tahun kemarin menjabat sebagai kota terkotor se-Indonesia
Catatan lain menyusul ya, kalau sempat. Soalnya sekarang mau meluncur lagi dan bekerja lagi. Nanti kalau sempat dilanjut di kereta aza, kalau nggak tidur, hehehe….
hafidz May 18th, 2009, 2:59 pm
YA… YA… memang begitulah semarang panas tapi ga begitu panas… macet tapi tapi ga begitu macet