Melanjutkan tulisan saya di episode awal, tabungan pendidikan semestinya menjadi salah satu kewajiban utama kita sebagai orang tua, berapapun penghasilan yang kita miliki. Banyak teman-teman yang mengeluh pada saya saat saya bercerita soal tabungan pendidikan yang saya ambil,
“Buat makan saja pas-pasan Vai, gimana buat yang lain…”
Menurut saya ucapan ini tidak tulus ikhlas dan hanya untuk mendramatisir
. Mengapa ? Karena jika seperti itu yang terjadi berarti situasinya sudah benar-benar kritis dan tidak ada manajemen resiko sama sekali. Masya iya tak ada uang sama sekali untuk ditabungkan padahal masih sempat untuk jajan. Mungkin bukan tidak ada uang sama sekali melainkan ada yang salah dalam pengaturan dan pengelolaan keuangannya.
Saya bukan orang yang tepat bicara soal manajemen resiko dan perlindungan keluarga karena nyatanya saya baru ambil tabungan pendidikan dan tabungan hari tua beberapa waktu yang lalu. Saya juga bukan orang yang sedemikian paham dengan aspek keuangan. Saya hanya orang biasa yang mencoba dan berusaha agar anak saya memiliki proteksi yang lebih baik dibandingkan saya sendiri.
Bagi saya pribadi, tabungan pendidikan adalah bagian dari tanggung jawab dan bagian dari upaya kita sendiri mengurangi resiko. Tak perlu malu memilih tabungan pendidikan dengan jumlah paling kecil karena nantinya kita bisa dengan leluasa meningkatkan besarannya andai kata kita memiliki kemampuan untuk itu. Tak usah memaksakan diri untuk mengambil tabungan pendidikan dengan besaran setoran bulanan yang terlampau besar yang justru membuat kita kalang kabut sendiri untuk menutupnya.
Jangan juga takut untuk berkeluarga atau memiliki anak karena khawatir repot mengurus tabungan pendidikan, asuransi kesehatan dan segala proteksi untuk anak karena nilai kebahagiaan yang diberikan jauh diatas itu semua.
Tabungan pendidikan tidak harus dilakukan di Bank. Kita bisa saja menabung sendiri asal berkomitmen menjaganya. Ini yang sulit, utamanya bagi saya pribadi lantaran berbagai sebab : bisa saja saya lalai menabung; tabungannya diambil untuk keperluan lain atau besarannya tidak konsisten. Atas pertimbangan tersebut saya lebih memilih tabungan pendidikan di bank dan memilih opsi standing instruction, memotong langsung besaran gaji tertentu (dalam hal ini 250 ribu) setiap tanggal tertentu yang bisa kita pilih sendiri.
Tabungan pendidikan cukup fleksibel dan mudah dalam proses administrasinya, antara lain karena :
Posting mendatang akan saya tuliskan penjelasan tentang Tabungan Mapan/Hari Tua. Tadinya bagian kedua ini akan berisi penjelasan tentang tabungan Mapan namun atas permintaan khusus dari mas Aris Priyantoro pada tulisan sebelumnya.
Dedhi March 21st, 2009, 11:34 am
Just want to add. Tabungan yang dijual asuransi, sering kali disangkutkan dengan investasi. Lalu ketika mereka menjualnya, mereka bilang ini digaransi pak, padahal yang digaransi adalah klaimnya atau preminya yang tidak akan naik atau berubah. Sedangkan investasinya tidak digaransi (ya jelas lah). Lalu dengan dikasih iming iming bunga tinggi. Yg perlu diwaspadai, tanyakan skenario apakah kalo investasi jeblok, itu akan membuat saving hilang atau tidak? Soalnya kejadian tuh, saving pokoknya hancur juga karena terjebak investasi negative return.
aespe March 21st, 2009, 4:26 pm
17 tahun masi lama, bentar lagi kan satria piningit bakal muncul dan bikin indonesia makmur… sekola pasti gratis.. mpe kuliah kyknya….
*silakan gubrak*
Aris P March 23rd, 2009, 10:31 am
Thx Pak
Kesimpulannya, tabungan pendidikan di Bank apa yang paling reliable?
Kalau berdasarkan lamanya jadi nasabah, berarti saya cuma ada 1 kandidat. Ok lah, nanti saya tanya ke Bank tersebut.
vavai March 23rd, 2009, 2:41 pm
@Dedhi,
Thanks atas masukannya Ded, apa-apa memang perlu diwaspadai agar tidak terjebak masalah yang merugikan.
@Aespe,
Ya-ya-ya, mudah-mudahan Satria Piningit mau segera meluncur, atau jangan-jangan yang muncul adalah Satria Pailit ?
@Aris P,
Saya sendiri pakai Niaga karena saya ada tabungan disana. Silakan bandingkan fasilitas antar Bank saja.
zhoi April 14th, 2010, 5:14 pm
Hi Semua..
Sejarahnya, kebetulan saya pernah penasaran dengan produk apa yang terbaik untuk biaya pendidikan anak di masa yang akan datang.
Saya buka mata-buka browser-buka otak, trus melototin ke website2 dan buku2 para financial planner..trus mule Saya belajar rumus Present Value-Future Falue..dkk, termasuk function di excel-nya
saya dapat kemungkinan:
1. Asuransi Pendidikan,
Lalu saya cari info, sampai akhirnya saya nemu 1 produk yang memang bagus dan juga diterbitin oleh asuransi yang syariah murni.
lalu saya prediksi pake logika, kayanya gak kekejar nih sama inflasi.
2. Reksadana
Alhamdulillah, saya udah familiar dengan reksadana karena punya produk reksadana (dengan nominal gak seberapa) dan dah jalan 4 tahun
saya baca2 lagi dokumen browsingan 4 tahun sambil ngapdet info eh malah nemu website: portalreksadana.com untuk belajar dan mencari info produk2 reksadana beserta metode investasinya.
Di portalreksadana saya jadi tahu ternyata selain metode dollar cost averaging alias setor rutin tanpa peduli trend pasar, ada juga metode value averaging (nah yang ini saya masih belajar/cari info juga)
mulailah oprak-aprik tuwh rumus ke excel sambil melongok ilustrasi dari agen asuransi pendidikan syariah. Saya berusaha untuk tetap mempertimbangkan unsur asuransi pendidikan sebagai kombinasinya.
Walhasil, Alhamdulillah saya bikin spreadsheet excel sendiri yang jeroannya berisi rumus PV,PMT,FV dkk (kurang lebih-nya metode setorannya menganut metode dollar cost averaging).
Saya upayakan tampilannya seapik dan user-friendly juga pemakaiannya, dikasih nama: SkoLaPlan V10
Link-nya ada di http://www.ziddu.com/download/8875032/SkoLaPlanV10rev0803.xls.html
Sekarang saya lagi berusaha bagaimana kira-kira simulasi-nya untuk memprediksi apabila berinvestasi menggunakan emas/logam mulai/Dinar
Mudah-mudahan cukup membantu dan mudah digunakan.
Salam Sakinah
Zhoi