Resensi Buku : Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando

sintong-panjaitanInilah buku yang peluncurannya langsung menuai komentar dan kontroversi, utamanya bagi pihak-pihak yang bersinggungan dengan isi buku, antara lain capres dari Partai Gerindra, Letnan Jenderal TNI Purn Prabowo Subianto dan capres dari Partai Hanura, Jenderal TNI Purn Wiranto.

Saya membeli buku ini dua hari setelah diluncurkan, di Toko Gunung Agung Borobudur Bekasi. Saat itu saya menjaga isteri saya yang dirawat di rumah sakit Ibu & Anak Bella Bekasi dan saya tidak akan tahan menunggu tanpa kegiatan yang positif :-D .

Sintong Hamonangan Panjaitan, demikian nama lengkap sosok Jenderal yang menjadi orang kepercayaan mantan presiden BJ Habibie ini. Pengalamannya yang banyak berkisar pada operasi tempur mulai dari penumpasan Kahar Muzakar di Sulawesi, Operasi Anti Teror Woyla di Bandara Don Muang serta penumpasan gerilyawan Paraku di Kalimantan Utara dimana dia membawahi beberapa sosok populer di militer Indonesia membuatnya menjadi sosok yang cukup layak diperhitungkan.

Jenderal AM Hendropriyono yang merupakan mantan kepala BIN (Badan Intelijen Negara) misalnya, ia pernah menjadi anak buah Sintong saat penumpasan Paraku di Kalimantan Utara. Sintong yang kerap dipanggil Batak oleh sosok jenderal kontroversial Leonardus Benny (LB) Moerdani merupakan komandan penyerbuan dan pembebasan pesawat Garuda yang dibajak di Bandara Don Muang Thailand. Operasi yang sukses ini (meski menuai sinyalemen adanya campur tangan intelijen) melambungkan nama Sintong dan Kopassus, satuan dimana Sintong cukup banyak terlibat didalamnya.

Buku ini menarik bagi para penggemar cerita militer dan kontroversi yang melingkupi para Jenderal.

Untuk memuaskan keingintahuan pembaca, Hendro Subroto, pengarang sekaligus wartawan perang dan militer bahkan menempatkan drama peran dan situasi pencopotan Letjen Prabowo Subianto dari Panglima Kostrad, keanehan situasi saat peristiwa Mei 1998 dan peran Jenderal purn Wiranto pada peristiwa genting yang mengawali kejatuhan mantan Presiden Soeharto ini.

Saat terjadi kerusuhan Mei 1998 misalnya, Sintong mempertanyakan mengapa Jenderal purn Wiranto bersama para pejabat teras ABRI pada tanggal 14 Mei 1998  tetap berangkat ke Magelang untuk mejadi inspektur upacara  serah terima PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) dari Divisi I ke Divisi II.

Sintong juga mempertanyakan mengapa Jakarta seperti dibiarkan tanpa penjagaan meski pasukan-pasukan garnisun ibu kota sudah siap dan tinggal menunggu perintah.

Disisi lain, Sintong juga mempertanyakan mengapa Prabowo menolak dicopot dari Pangkostrad dan menimbulkan praduga kurang baik karena menempatkan pasukan-pasukan disekitar kediaman BJ Habibie sehingga Habibie yang khawatir dikudeta dan  bisa menjadi korban terpaksa mengungsikan keluarganya serta memerintahkan Jenderal Wiranto untuk mencopot Prabowo hari itu juga meski orang kepercayaan Prabowo, yaitu Danjen Kopassus Mayjen Muchdi PR dan Kepala Staff Kostrad Mayjend Kivlan Zen sudah membawa surat dari Jenderal TNI Purn AH Nasution agar Prabowo diangkat sebagai KSAD, Subagyo HS sebagai Panglima TNI dan Wiranto sebagai Menhankam saja (dalam arti kata lain Wiranto dibuat agar tidak punya kendali pasukan)

Membaca buku Sintong untuk bagian kerusuhan Mei 1998 ini memang tidak akan lengkap jika kita sebelumnya belum membaca buku BJ Habibie, “Detik-Detik yang Menentukan”, Buku Wiranto “Bersaksi Ditengah Badai” dan buku Kivlan Zen bertajuk “Konflik dan Integrasi TNI AD”. Saya memang menyukai dunia militer sehingga saya membeli buku-buku tersebut dan akhirnya menarik kesimpulan sendiri mengenai peran masing-masing dalam drama kerusuhan Mei 1998 yang berujung pada tewasnya ratusan orang, porak porandanya Jakarta dan jatuhnya Presiden Soeharto.

Yang menarik adalah adanya kisah mengenai Prabowo Subianto saat masih menjadi Kapten di Kopassus dan menjadi anak buah Letjen Purn Luhut Panjaitan (mantan Menteri Perindustrian dan Dubes RI di Singapura), yaitu tentang rencana Prabowo menangkap LB Moerdani dengan dugaan kudeta terhadap Presiden Soeharto. Kisah ini menarik karena melatar belakangi permusuhan antara Prabowo dengan orang terkuat kedua di Indonesia dimasa tahun 80-an tersebut. Kisah ini juga menarik karena bisa menjadi rujukan mengapa LB Moerdani yang menjadi orang kepercayaan presiden Soeharto tiba-tiba terpaksa dicopot dari posisinya sebagai Panglima ABRI dan digantikan Jenderal TNI Try Sutrisno menjelang Sidang Umum MPR 1088.

Bagi penggemar buku militer dan kisah-kisah TNI, buku Sintong Panjaitan ini cukup layak dikoleksi. Paling jadi tambah bingung mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah dari orang-orang yang berperan dimasa kritis Mei 1998.

Satu kritik saya pada Hendro Subroto selaku penulis yaitu adanya kesan memaksakan diri Sintong Panjaitan sebagai sosok yang paling berjasa di berbagai lokasi pertempuran. Kesan ini sebenarnya bisa ditepis jika Hendro Subroto tidak secara vulgar selalu menjadikan Sintong sebagai sosok nomor satu disetiap pertempuran dan memberikan ruang yang cukup bagi sosok yang lain. Jika hal ini dilakukan, semestinya jasa Sintong tetap dikenal tanpa harus menjadi jagoan tanpa pilih tanding.

Anyway, buku ini cukup memuaskan sesuai harganya yang sekitar 70-80 ribuan.

Link Menarik : Sintong dimata seorang mantan staffnya (Dan Pomdam saat Sintong menjadi Pangdam)

Posted by vavai on Mar 20th, 2009 and is filed under Feature, Personal, Resensi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

21 Responses to “Resensi Buku : Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”

  1. Hielmy.z@gmail.com March 20th, 2009, 4:35 pm

    Buku ini lagi rame dibahas di Milis Angkasa Readers sama TSM (teknologi dan strategi militer), terutama membahas kontroversi yang menyangkut mantan Danjen Kopassus, Prabowo S.

    jadi penasaran nih… :)

  2. bangmarbun March 20th, 2009, 6:51 pm

    sepertinya buku ini…akan menjadi lebih membuka mata kita akan buramnya sejarah bangsa ini

  3. Awang March 20th, 2009, 7:45 pm

    Aku juga kagum membaca berita tentang peluncuran buku ini, sewaktu saya baca koran jawa pos….semoga dengan adanya bukuini menjadibukti dan tonggak sejarah batu bagi penguasa untuk menyelidiki kasus yang sebenarnya terjadi, karena penulisnya sendiri mengalami kejadian tersebut…ayo bereskan antek-antek perusak bangsa..terima kasih…

  4. dewa api March 21st, 2009, 6:33 am

    penasaran pingin baca. tapi kenapa buku ini muncul menjelang pemilu ya?

  5. vavai March 21st, 2009, 7:32 am

    @Hielmy,
    Thanks buat infonya…

    @BangMarbun,

    Mudah-mudahan tidak terlalu buram bang :-)

    @Awang,

    Thanks buat responnya

    @Dewa Api,
    Kata penulisnya, buku ini tidak dipersiapkan kearah sana tapi memang tidak bisa dipungkiri isinya bisa menohok pihak-pihak yang disebut, minimal ada pertanyaan mengenai apa dan bagaimana peran mereka dalam salah satu sesi perjalanan bangsa Indonesia.

  6. bimbim March 21st, 2009, 9:09 am

    Mas vavai ,kita tunggu bersama jawaban berupa buku juga dari Prabowo ya……walaupun kata mas vavai buat tambah pusing tapi enak juga buat dibaca ya,kaya ko phing ho ,atau perlu minta resensi ke Pak Suparta Brata ya mas…

    Mas vavai aku mau mulai belajar suse,help me secara menyeluruh ya,mulai dasar jurang lho ya……thanks

  7. Koen March 21st, 2009, 9:32 am

    Kan kayak LB Moerdani sendiri bilang: Petinggi militer kita kalau bikin Biografi kayak James Bond — jadi jagoan melulu yang nggak pernah kalah.

  8. Achmad Ramdhani Z April 2nd, 2009, 9:34 am

    jadi bingung, apalagi setelah baca buku pak habibie, pak wiranto, tambah buku pak sintong ini, padahal kita mungkin butuh fakta, sedang mungkinkan beliau-beliau itu duduk bersama mengungkap fakta? pak habibie bilang A, pak wiranto bilang A, pak sintong bilang A+, pak prabowo bilang B, jadi sperti apa yang benar? apa kita sebagai warga negara sengaja di buat bingung, kenapa kalo buku2 itu belum disepakati menjadi fakta harus di terbitkan?

  9. Hermanto Iriawan April 20th, 2009, 12:47 pm

    Saya tidak ingin menduga-duga dan berspekulasi mana yang benar dan mana yg tidak benar dari catatan-catatan sejarah yg ditampilkan dalam banyak buku yg sdh terbit selama ini. Tapi saya peduli pada satu hal: bahwa hingga saat ini bangsa dan rakyat Indonesia masih menjadi sasaran empuk “pertarungan”, “permainan” dan “persaingan” politik para Jenderal.

    http://peduli-indonesia.blogspot.com/2009/04/perseteruan-para-jenderal-di-indonesia.html

  10. Revays May 21st, 2009, 4:10 pm

    Apakah ini semua yang di katakan suratan, ketetapan dari tuhan yang tak dapat di elakkan. Pabila ini semua hanya suatu coba’an kumohon padamu tuhan berikanlah kekuatan.

  11. suropati May 24th, 2009, 3:29 pm

    terlepas dari apapun kepentingan kita dari isi buku ataupun kepentingan nama2 besar di dalamnya, buku ini hanya sebagian kecil kisah dan hanya menambah secuil dr jutaan kisah cerita tentang apa yg dinamakan “PAHLAWAN KESIANGAN”, di dalam kisah PAHLAWAN KESIANGAN justru nama nama yg “dilawannya” adalah pemenang alias pd saat kejadian terjadi si “pahlawan Kesiangan” hanya bungkam, karena rata2 mereka yg diceritakan sudah tiada atau tdk berkuasa lagi dan pada saat mereka dulu ada/brkuasa “si pahlawan kesiangan” hanya bungkam alias mendiamkan alias tidak berani atas alasan APAPUN terhadap kejadian yg saat itu terjadi, yg “kelak” dikisahkannya dalam kemasan buku “PAHLAWAN KESIANGAN”.

  12. broto sughandi June 10th, 2009, 4:01 am

    mas suropati berobat dulu, sembuhkan penyakit idiotmu. “kebenaran” tak pernah menjadi “pahlawan kesiangan” dan “manusia serakah” takkan pernah jadi “pemenang”. Berhentilah dengan filosofi goblokmu itu !

  13. fauzul June 25th, 2009, 6:39 pm

    kebenaran memang hal yang sangat sulit dibuktikan. hanya kepercayaanlah yang dapat menjadi tolok ukurnya. anda percaya kepada siapa? maka dari dialah akan anda dapatkan kebenaran (versi dia) …
    seperti para perawi hadits yang dengan sangat susah payah mencari sebuah kabar dari rasulullah. kebenaran (shahih atau dhoif) dilihat dari apakah sang pembawa kabar merupakan orang yang dapat dipercaya atau tidak….

  14. Drs Zainal March 22nd, 2010, 3:58 pm

    Buku Sintong Panjaitan PSPPK dari awal sampai ahkir sudah terbaca, namun penyusunnya lupa menuliskankan lintasan hidup sdr Sintong Panjaitan di Medan ahkir tahun 1959 menginap di Hotel Langkat, jalan2 cari es krim ke Hotel De Boer, ke Gereja pada hari Minggu, mau naik Garuda ke Jakarta tidak jadi, ticket diganti dengan ticket Tampomas yang harus nyandar selama natalan 1959 dipelabuhan Singapura.
    Di test di Halim tidak lulus, lanjut ke Bandung, sebelum lulus ditabrak oplet trajek Lembang – Bandung, namun hanya terguling guling saja tanpa cedera.

  15. rudi gultom April 1st, 2010, 10:01 pm

    marah bingung ragu tak da kejelasan sejarah hmmm emak maafkan kami anakmu belm bisa kami hentikan linangan air matamu setiap jawaban ttp saja menimbulkan pertanyaan

  16. indovision July 19th, 2010, 9:11 am

    kisah yang sangat menarik.

  17. bahri lubis July 28th, 2010, 7:58 am

    mohon buku

  18. abby February 15th, 2011, 5:03 am

    mas, ditayangkan di blog ini per epesode….menarik juga nih…

  19. Mulyono March 11th, 2011, 10:10 am

    Saya tinggal di Bekasi tak terlampau jauh dari kantor pemkot. Ketika kerusuhan Mei 1998, saya pulang awal karena kondisi “genting” sampai di jl. A. Yani bekasi situasi sudah kacau. Malam harinya warga di RT saya sangat resah. Sebentar sebentar ada pengumuman dari masjid2 bahwa kerusuhan sudah sampai di sini atau di situ. Bapak2 pada jaga semalaman. Yang mengherankan tidak ada polisi apa tentara lewat untuk sedikit memberi rasa aman warga di rt saya. Terlebih lagi sampai saat ini saya belum tahu siapa perusuhnya yang ditangkap, diadili dll. Layaknya orang bangun tidur dengan mimpinya. Mustahil tidak ada yang tertangkap

  20. gino December 14th, 2011, 10:42 pm

    thx buat ulasannya…sejarah ini harusnya di kabarkan. kebenaran sejarah menjadi harga mati untuk utnuk moral bangsa.

  21. yasons May 22nd, 2012, 12:54 pm

    Sintong Panjaitan tidak Sadar menulis buku ini, sayangnya buku ini menjadi peluru orang Papua, mulai sekarang sintong Panjaitan siap diri untuk bertanggung jawab di pengadilan Internasional yaitu: ICJ.

Leave a Reply