Beberapa hari yang lalu saya mendapat email dari Han Wen Kam (甘汉文), Senior Technology Specialist, Global Strategic Partners, Asia Pacific Novell Inc. Dia mengetahui nama saya dari blog yang saya tulis dan mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh Komunitas openSUSE Indonesia dalam membantu mempromosikan openSUSE.
Dalam emailnya Han Wen Kam menanyakan apakah ada yang bisa dibantu oleh Novell Asia Pasifik dalam kaitannya dengan kegiatan Komunitas openSUSE Indonesia. Tawaran ini tentu saja sangat menyenangkan karena Komunitas openSUSE Indonesia adalah komunitas non profit yang ditujukan bagi promosi openSUSE dan SUSE di Indonesia.
Terus terang saya memang agak kecewa dengan pola promosi yang dilakukan oleh Novell Partner di Indonesia. Mereka cenderung berkonsentrasi pada aspek komersil tanpa membangun loyalitas dan tanpa membangun komunitas. Secara hitungan bisnis tentu saja hal ini tidak perlu dipermasalahkan. Partner akan berusaha meningkatkan sales revenue sehingga mereka berkonsentrasi pada peningkatan penjualan.
Meski demikian, bisnis tidak akan besar tanpa ditunjang oleh pangsa pasar yang besar. Pada hemat saya, pola pikir mendahulukan aspek komersil dibanding membangun branding dan loyalitas justru terbalik.
Sebagai contoh, jumlah pengguna Linux yang besar di Indonesia pasti akan memunculkan peluang bisnis yang beragam. Jika perusahaan hanya berkonsentrasi pada menjual dan menjual, jumlah pangsa pasar mungkin akan mandek. Kalaupun ada peningkatan, jumlahnya tidak akan massif.
Dalam contoh gamblang, promosi openSUSE mungkin tidak akan secara langsung meningkatkan sales revenue suatu perusahaan yang core bisnisnya menjual produk komersil (SUSE Linux Enterprise Server, SUSE Linux Enterprise Desktop, Novell Groupwise dll) namun secara tidak langsung pasti akan membawa dampak positif. Di milis openSUSE Indonesia beberapa kali ada member yang menanyakan soal mekanisme pembelian SLED/SLES. Saya juga beberapa kali ditanyakan soal lisensi SLES/SLED dan apakah ada kantor cabang Novell di Indonesia yang mengurusi lisensi SLES/SLED.
Lisensi SLES itu lebih kurang 350 US$ per tahun. Bagi perusahaan dengan skala bisnis yang cukup besar, membutuhkan support penuh dan menggunakan server-server branded, jumlah ini tidak seberapa. Perusahaan bisa menggunakan produk yang mixed, misalnya openSUSE atau SLED untuk komputer desktop dan SLES untuk server.
Meski belum ada data yang dikumpulkan secara komprehensif, di Indonesia sudah cukup banyak perusahaan yang menggunakan SLES. Beberapa perusahaan besar juga menggunakan SLES. Teman-teman yang bekerja pada perusahaan-perusahaan PMA Jerman malah menyatakan SLES dan SLED merupakan default sistem komputer mereka.
SUSE Linux Enterprise Server 11 akan diluncurkan sekitar 2-4 bulan mendatang. Resesi ekonomi yang melanda Amerika dan Eropa semestinya bisa menjadi peluang dan pertimbangan bagi Novell untuk mencoba meningkatkan bisnis mereka di Asia Pasifik. Peluncuran SLES 11 bisa dimanfaatkan sebagai starting point upaya ini.
feha February 21st, 2009, 5:50 pm
mas Vavai…..
ayo rekrut saya jadi tim PiAr SUSE huahaha….. :p
Vavai February 21st, 2009, 5:54 pm
@Feha,
Nggak sanggup bayarnya boss
. Bisa kalah gaji boss sama gaji Pi ar-nya nih