Saya membeli buku ini awal Januari 2009 namun baru sempat menuliskan resensinya sekarang karena ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan sehingga saya terpaksa menundanya.
Kesan pertama saya ketika melihat buku dengan kemasan hard cover berharga Rp. 179.000,- ini adalah : tertarik. Dengan tebal buku mencapai 777 halaman, saya berharap bisa menemukan buku dengan kualitas “Toyota Way”. Saya sendiri melihat buku dengan judul “the bla-bla-bla way” yang diinspirasi oleh “Toyota Way” dimaksudkan agar orang bisa menebak bagaimana isi dan pembahasan didalam buku tersebut.
Ketika mula pertama membaca buku ini saya sempat bingung karena Masaaki Sato-jurnalis yang menulis buku ini-membuka ceritanya dalam bentuk flashback, kondisi beberapa tahun yang lalu, kemudian mundur ke awal mula terbentuknya Honda dan maju ke pembahasan mengenai perkembangan Honda dari tahun ke tahun hingga kini.
Kisah dibuka dengan cerita pengunduran diri Soichiro Honda dan Takeo Fujisawa, pendiri Honda. Kemungkinan besar Masaaki Sato mengambil prolog seperti ini untuk menjelaskan mengenai peristiwa besar mundurnya kedua pendiri dari tampuk pimpinan perusahaan. Yang membuat saya terpaksa meraba-raba alur cerita selanjutnya adalah karena Masaaki Sato melanjutkannya dengan peristiwa pengunduran diri Soichiro Irimajiri yang bertahun-tahun dikenal sebagai Pangeran Honda. Baru setelah 2 pembahasan itu, dibahas mengenai awal mula pendirian Honda.
Cerita mengalir mengenai kisah kerjasama 2 pendiri yang masing-masing memiliki pendekatan dan minat yang berbeda. Soichiro Honda menangani sisi teknikal sedangkan Takeo Fujisawa menangani aspek pemasaran dan manajemen. Keduanya bisa saling mengisi dan menghormati posisi masing-masing.
Soichiro Honda adalah insinyur dengan temperamen keras. Di awal-awal pendirian Honda, Soichiro mengecek langsung produksi dilapangan dan tidak segan-segan melempar kunci Inggris kearah orang yang salah (halaman 128). Temperamen keras yang dibawa sejak Soichiro bekerja di Art Shokai cabang Hamamatsu dan berlanjut di Honda sendiri membuat ia dijuluki sebagai geledek dan berakibat pengunduran diri para karyawan yang tidak tahan. Meski terdengar kasar, sifat Soichiro sendiri saat itu cukup bisa dimaklumi karena Soichiro lebih bersikap sebagai guru dengan murid dibandingkan sebagai atasan bawahan. Para pekerja yang melewati fase-fase awal pendirian Honda mengingat Soichiro sebagai pribadi yang mudah didekati dan jujur dan melakukan sesuatu atas dasar pertimbangan yang kuat.
Hal yang sama berlaku pada Fujisawa. Ia dijuluki sebagai “Godzilla” karena ia juga keras pada ketidakdisiplinan. Jika ia menemukan meja yang berantakan disalah satu kunjungan ke cabang Honda, atau menemukan staff penjualan yang cenderung jalan mudah, ia akan mengumpulkan para staff dan berpidato mengenai arti penting pemasaran. Yang lucu, karena Fujisawa berpidato, para staff kemudian mencatat ucapannya. Hal ini justru membuat Fujisawa marah,”Tugas seorang salesman adalah menarik perhatian konsumennya! Bagaimana mungkin kalian melakukan itu tanpa melihat mata mereka! Kalau kalian terus-terusan mencatat, kalian tidak akan menjual apa-apa…”. Tentu saja para pekerja menjadi gugup dan terdiam. Fujisawa berhenti sejenak, menatap mereka dan berkata, “Honda bukan perusahaan pemakaman. semuanya tunjukkan senyum kalian. Semuanya, senyum !”
Kisah lain yang menarik adalah sosok Irimajiri. Sosok yang disebut sebagai Mr Honda dan dikenal sebagai pangeran Honda ini dianggap oleh media sebagai calon presiden Honda berikutnya meski pada akhirnya ia tidak terpilih (Kawamoto, salah satu wakil presiden seperti halnya Irimajiri yang akhirnya terpilih). Ia pernah membuat kesalahan dan diminta keluar oleh Soichiro namun ia menolaknya. Irimajiri tak menolak andaikan ia dihukum karena kesalahannya namun menolak dikeluarkan karena ia harus memperbaiki kesalahannya itu.
Irimajiri juga sosok yang sukses sewaktu memimpin Honda Amerika. Memimpin karyawan asing di tempat mereka sendiri tentu tidak semudah memimpin karyawan bangsa sendiri. Tentu jauh lebih mudah menjelaskan prinsip dan filosofi Honda pada karyawan Jepang dibandingkan pada karyawan Amerika namun nyatanya Irimajiri sukses. Ia belajar cara menghadapai resistensi pekerja lokal, melindungi kepentingan Honda di Amerika dan menyiapkan orang-orang Amerika sendiri untuk memimpin Honda Amerika.
Selain pergulatan para pimpinan Honda menghadapi berbagai gelombang perubahan naik dan turun yang dialami Honda sejak awal berdiri, buku ini juga berkisah mengenai
Kesimpulan saya setelah membaca buku ini hingga selesai adalah “Salah judul”. Judul “The Honda Way” terlalu dipaksakan. Saya lebih cenderung menggunakan judul “Honda History” karena buku ini lebih banyak berkisah mengenai sejarah Honda dari dulu hingga kini. Berbeda dengan Toyota Way yang menjelaskan prinsip dan metode apa saja yang digunakan sehingga Toyota mampu menjadi produsen mobil nomor satu di Jepang, buku ini berkisah mengenai penerapan metode-metode khas Honda dalam bentuk narasi.
Anyway, buku yang menarik daripada 3 buku lain yang mengecewakan saya. Kisahnya nanti saja
antik March 19th, 2009, 12:29 am
boleh diposting di http://www.multiply.com ga? di grup booklovers..
atau, lebih afdol lagi, bisa posting tulisan menarik ini di sana.. jadi, lebih orisinal dari penulisnya langsung
terima kasih
-antik-