Memaknai Hidup dengan Memperlambat Ritme Kerja Tubuh

slow-downAwal pekan ini saya browsing kebeberapa website dan menemukan salah satu link menarik, yaitu bagaimana caranya berusaha memahami cara menetralkan tubuh kita, memperlambat ritme kerja dan pada akhirnya meningkatkan kesehatan kita.

Caranya sederhana, yaitu dengan melakukan kegiatan dalam irama slow motion. Menghayati dan menikmati kegiatan yang dilakukan agar dapat memahami hakikat setiap pekerjaan yang dilakukan. Contoh ekstrim adalah mandi secara perlahan, menikmati setiap guyuran air dan merasakan bagaimana air itu membilas dan membersihkan kita. Contoh lainnya adalah sewaktu makan. Nikmati setiap kunyahan, makan secara perlahan dan bayangkan bagaimana makanan tersebut mengisi badan anda dan memberikan kesehatan bagi tiap organ tubuh.

Mengapa hal ini menarik bagi saya adalah karena saya melihatnya sebagai cara yang baik mengurangi beban tubuh. Kita sudah terlalu sering multi tasking, mengerjakan berbagai hal dalam satu kesempatan. Awalnya mungkin tak bermasalah, ada banyak yang bisa kita lakukan dalam waktu bersamaan, namun kelanjutannya mungkin akan membuat kita dikejar-kejar deadline, tidak konsentrasi dan pada akhirnya membuat waktu istirahat kita berkurang.

Contoh sehari-hari misalnya,  seberapa sering anda makan tanpa memikirkan apa-apa. Makan tanpa bekerja. Makan dengan konsentrasi tanpa mengerjakan kegiatan lainnya. Makan seakan ini adalah kesempatan terakhir kita makan. Makan tanpa membaca buku, browsing, mengetik atau menonton TV ?

Ada banyak hal yang terlampau sering kita lakukan yang pada akhirnya kita lakukan sebagai rutinitas semata. Kita menolak dibilang robot tapi kita sering mengerjakan sesuatu dalam kondisi alam bawah sadar. Bapak saya pernah memperhatikan saya mengambil wudhu untuk shalat dan setelah selesai, bertanya pada saya :

“Kamu tadi ngapa-in ?”

Saya, bingung karena tidak mengerti arah pertanyaan bapak saya terdiam sejenak. Mudah saja saya menjawab, “Wudhu mau shalat pak”, tapi saya yakin arah pertanyaan bapak saya bukan kesitu.

“Kamu tadi ambil wudhu tapi pikiran kamu nggak kesitu. Niat kamu buyar. Kamu memikirkan hal lain disaat ambil wudhu sehingga tidak memahami hakikat wudhu sekalipun”.

“Asal kamu tahu, air kelapa muda yang bisa dijadikan cairan pengganti infus dalam kondisi darurat karena kemurnian dan kesuciannya masih kalah suci dibandingkan dengan air wudhu. Air yang biasa sekalipun, setelah digunakan untuk wudhu bisa menjadi air paling suci didunia”.

Saya malu hati, diam tak bisa menjawab. Jarang bapak saya berkata seperti itu pada anaknya meski saya sering mendengar bapak bicara seperti itu pada orang lain.

“Kamu tahu nggak, mayat yang sudah kaku nggak bisa digerakkan lagi, tunduk jika padanya dialirkan air wudhu. Tangan yang kaku, mata yang tidak mau menutup, anggota badan yang tidak bisa digerakkan karena sudah menjadi mayat, dengan kuasa Allah akan bisa disempurnakan jika kita menggunakan air wudhu yang diambil oleh orang yang memahami hakikat wudhu. Hakikat mengapa dia harus membuat dirinya suci jika ingin bertemu dengan yang maha kuasa”

“Tapi, air wudhu yang bagaimana yang bisa menundukkan kerasnya hati dan bisa melembutkan perasaan mayat seperti itu ? Apa wudhu seperti yang baru kamu lakukan, yang airnya deras terbuang, membasuh tangan kamu tapi pikiran kamu entah dimana…”

Saya tidak menjawab kala itu, kecuali kembali ke kamar mandi dan mengulangi wudhu saya…

Waktu berlalu sejak bapak saya bilang seperti itu waktu saya SMA. Setelah memikirkan maksud bapak saya yang diucapkan bertahun-tahun yang lalu, baru belakangan saya mengerti maksudnya.

Netralkan pikiran kita. Lakukan segala sesuatunya dengan kontrol kita sepenuhnya. Memperlambat ritme kerja tidak berarti kita melakukan segala-galanya dalam kondisi lambat. Salah-salah kita ribut dengan orang lain jika mandi lambat-lambat padahal kamar mandi mau dipakai oleh orang lain :-P

Memperlambat ritme kerja artinya kita menurunkan tingkat “buru-buru” menjadi “normal”.

Mudahnya, jika kita selama ini harus ngebut rata-rata 80-120 KM/jam (motor lho ya…), ada baiknya menurunkannya menjadi 40-80 KM/jam. Konsekuensinya, kita berangkat lebih awal agar tidak terlambat sampai tujuan.

Percayalah, terburu-buru mengerjakan segala sesuatu dalam tahap awal memang bisa menyelesaikan persoalan dengan cepat tapi jika kita terus menerus dalam kondisi terburu-buru, satu saat kita terlambat mengetahuinya.

Jangan menunggu segala sesuatunya terlalu terlambat…

Posted by vavai on Feb 6th, 2009 and is filed under Personal. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

10 Responses to “Memaknai Hidup dengan Memperlambat Ritme Kerja Tubuh”

  1. Dedhi February 6th, 2009, 10:16 am

    wah cara begini gak bisa dipraktekkan di Singapore, Jepang atau HongKong.
    Diem dikit, dilindes orang lain euy

  2. vavai February 6th, 2009, 10:25 am

    @Dedhi,

    Dipraktekkan bukan untuk selamanya dan setiap waktu melainkan satu waktu seperti halnya kita melakukan meditasi.

  3. pratanti February 6th, 2009, 10:33 am

    postingan yang sangat menarik…..
    Awalnya saya membaca artikel ini dengan kecepatan penuh, sampai di tengah saya baru paham bahwa saya harus mencoba memahaminya, menikmatinya dan mencerna makna lebih dalam dari sini. Setelah membaca dengan kecepatan normal, baru terasa… banyak manfaat yang bisa saya dapat, walau hanya dengan membaca artikel ini.
    Setuju sekali, memperlambat ritme bukan berarti melakukannya dengan lambat2, tapi lakukanlah secara “normal”, tidak terlalu cepat, juga tidak terlalu lambat.
    Terima kasih sudah mengingatkan….. :)

  4. geblek February 6th, 2009, 1:53 pm

    kalau yg kernya dikejar deadline ataupun dikejar downtime bisa kena tendang bos mas

  5. vavai February 6th, 2009, 1:54 pm

    @Geblek,

    Menurunkan ritme kerja tubuhnya dirumah, supaya selalu siap siaga kalau lagi kerja. Jadi bukan artinya kita disuruh kerja sigap malah “klamar-klemer” :-)

    Makanya contoh yang saya tulis kan soal mandi dan makan, bukan pas disuruh ngetik atau ngurus tender, hehehe…

  6. ambons February 6th, 2009, 8:27 pm

    Walaupun lambat tapi selamat.
    Rilekkanlah hati kalian, dengan cara mengetahui keunikan ilmu dan hikmah, Karena hati juga butuh istirahat sebagaimana badan.

  7. dheche February 6th, 2009, 9:49 pm

    Setiap saya naik motor pasti gak lebih dr 40-60 km/jam (seringnya malah 40). lebih nikmat jalan segitu. tapi hampir 2 thn belakangan ini lebih sering ber-bike2work (jelas kecepatannya lebih rendah lagi) malah lebih sering gak fokus, kalo lagi ngegowes malah pikiran sering ngelantur kemana2. tapi tetep aja enak sih, soalnya jarang punya waktu buat ngelamun…hehehehhe.

    Dulu jg saya punya temen yg kalo makan aujubileh lamanya, seakan2 tiap butir nasi itu dinikmati sekali, tapi dia jg tetep multitasking (sambil baca koran).

  8. galihsatria February 7th, 2009, 6:46 am

    Wah ketahuan nih pak vavai kalau MX-nya selalu dikebut di 120 km/jam, hehehehe…

    *maap pak OOT*

  9. vavai February 7th, 2009, 8:27 am

    @Ambons,
    Thanks buat tambahan ilmunya :-)

    @Dheche,
    Saya juga belajar makan lambat. Dulu sering tersedak sampai saya berpikir apakah saya sudah diperbudak makanan ? :-)

    @Galihsatria,
    Kecepatan 80 KM/jam saja saya sudah gelagepan kok, hehehe…

Trackbacks

  1. Kamus Malesbanget Blog » Masim Vavai Sugianto: Memaknai Hidup dengan Memperlambat Ritme Kerja Tubuh

Leave a Reply