Teknologi Informasi di Kantor Pemda

Saya meringis heran membaca berita di Kompas soal PNS di lingkungan Pemkab Garut yang harus antri sejak subuh, saling injak dan sikut, sekedar menerima penghasilan normatif mereka dalam bentuk gaji bulanan.

pns-antre

Sekarang sudah tahun 2009. Sudah jaman teknologi informasi. Setiap Pemda punya PDE (Pengolahan Data Elekronik) dengan nama dan bentuk yang bermacam-macam, yang diniatkan dan difungsikan sebagai IT Department bagi Pemda.

Sekarang sudah ada yang namanya teknologi online. Masya sekedar mengurus dan membayar gaji saja harus dalam bentuk cash ? Harus berdesak-desakan seperti orang berebut raskin, padahal itu hak mereka.

Kalau di swasta diperlakukan seperti itu, sudah pasti perusahaan yang menerapkannya hanya perusahaan ecek-ecek, atau perusahaan yang bisa dikelola hanya oleh beberapa orang saja dengan jumlah karyawan yang juga terbatas.

Kalau swasta (baca : perusahaan/institusi/lembaga) memperlakukan karyawannya seperti itu, mungkin demo akan terjadi tiap bulan dan bagian IT menjadi bulan-bulanan cacian dari bagian lain.

Masya force majeur terjadi tiap bulan ?

Anda tidak percaya berita Kompas dan cenderung menganggapnya berlebihan ? Saya tidak karena saya pernah menemui situasi yang mirip.

Pak Dede Satibi selaku bupati Garut sebenarnya bukan orang baru di pemerintahan dan pasti sangat memahami mekanisme pembayaran gaji yang harus terus diimprovement.

Saya mengenal beliau saat menjabat sebagai wakil bupati Bekasi beberapa tahun yang lalu.

Mengapa untuk hal sepele, yang selalu terulang tiap bulan, pemda tidak berupaya melakukan perbaikan sistem ? Apa alasan utama yang mendasari pembayaran gaji dalam bentuk cash dan harus diambil secara langsung ? Apakah tidak percaya pada integritas dan akurasi data ?

Apa susahnya membuat list daftar gaji dan meminta pihak Bank melakukan debet rekening secara langsung ? Kalau takut ada penyimpangan, kan bisa dilakukan audit secara berkala dan periodik.

Siapapun yang bertanggung jawab, didaerah manapun kejadiannya, berhentilah menganggap Pemda sebagai institusi yang selalu terlambat mengadopsi teknologi. Sudah usang pola pikir seperti itu. Harusnya, pemda menjadi inisiator penggunaan teknologi.

Modal ada, biaya cukup, SDM banyak, yang kurang hanya kemauan.

“Mas, ngomong gampang, masalahnya memperbaiki sistem dipemerintahan itu ibarat membuka lahan dirimba belantara…”

Kalau itu rimba belantara, mari kita menjadi inisiatornya. Bangkit dong, masya kita terpuruk terus-terusan. Masya kita selalu terlambat merespon perubahan. Masya kita melulu menjadi obyek. Memangnya PNS nggak boleh berinisiatif dan menghasilkan kinerja yang terbaik ?

Posted by vavai on Feb 3rd, 2009 and is filed under Personal, Work. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

8 Responses to “Teknologi Informasi di Kantor Pemda”

  1. sufehmi February 3rd, 2009, 11:43 am

    Menarik mas, posting ini juga menunjukkan sisi lain kita – budaya ANTI ngantri :) :)

    Lucu juga membaca bahwa mereka saling berebutan. Memangnya bank nya akan kehabisan duit ? :D jadi musti sikut2an, yang duluan dapat gaji, yang terakhir apes pulang dengan tangan kosong, ha ha.

    Atau ternyata memang demikian ? *gdubrak* hehe

    Saya sering melihat ini di pesawat – cengar cengir saya melihat penumpang yang begitu pesawat landing, langsung berdiri berebut menurunkan barang dari atas kepalanya. Pantesan pramugari Air Asia jadi pada galak2 begitu :D wong harusnya duduk dulu, sampai pesawat betul2 berhenti. Lumayan kan kalau bagasi 25 kg terlepas dari tangan kita, dan menimpa kepala penumpang lainnya, owh.

    Lalu pada berdiri, dengan bergerak2 tidak sabar, menanti keluar dari pesawat.
    Begitu pintu pesawat terbuka – brrrr, pada berebutan keluar pesawat. Gak muda, gak tua – sama-sama tidak mau antri.

    Saya sendiri santai2 saja, kirim2 SMS dulu, telpon2an (sudah boleh kan, karena pesawatnya sudah sampai di tujuan). Ketika sudah mulai kosong, saya baru berdiri dan keluar.

    Ternyata, semua orang yang serba terburu2 tadi pada antri panjang sekali. Barang mereka masih belum keluar.
    Saya, karena check-in pertama, barangnya keluar duluan. Ternyata pakai sistim FIFO (first in first out) ya :) jadi kembali dengan santai saya ambil barang-barang saya — dan jadi orang pertama yang keluar dari bandara.

    Hehe… yah begitulah budaya (ANTI) ngantri kita :)

  2. Yan February 3rd, 2009, 11:52 am

    Masih banyak kok perusahaan swasta yang membayar gaji karyawan dengan uang tunai. Dan bukan perusahaan dengan karyawan di bawah 100 orang. Saya pernah membantu sistem penggajian perusahaan dengan karyawan sekitar 1800 orang, dan gaji dibayar uang tunai. Tidak ada masalah seperti di atas. Tidak ada antri dan saling sikut. Setiap karyawan menerima uang dengan tenang di kantor masing-masing. Jadi, masalah di atas tampaknya pada cara membayar yang tepat, bukan pada masalah tunai atau transfer.

  3. Deny Sri Supriyono February 3rd, 2009, 12:38 pm

    jadi kaya beli tiket buat lebaran aja — antri sejak subuh.

  4. pecinta Indonesia February 3rd, 2009, 12:43 pm

    pembayaran seperti itu ada seni-nya Mas,
    bisa berdesak-desakan, senggol sana sini
    ketawa-ketiwi. jadi bisa lebih akrab.

    bisa istirahat kerj, tentunya utk ngantri.

    ntar kalau di outsource-kan utk buat sistemnya bisa-bisa duitnya dikorupsi?

    pokoke’ sippp lah, teruskan aja ya Pak Bupati.

  5. vavai February 3rd, 2009, 12:59 pm

    @Harry Sufehmi,

    Menarik juga ceritanya mas. Kadang saya juga risih melihat budaya anti antri ini. Sepertinya benar-benar membudaya. Ambil zakat, sumbangan, raskin, BLT dll bisa timbul korban tewas karena takut nggak kebagian…

    @Yan,
    Kuncinya bukan semata soal tunai atau online, melainkan meniadakan kerepotan yang tidak perlu. Contohnya uang receh, kecuali ada sistem pembulatan. Jika tidak, lumayan mumet sekedar menyiapkan receh. Kemudian petugas yang diperlukan untuk mengurusinya. Orang terpaksa menunggu si petugas / atasan sebelum menerima gaji. Anyway, thanks buat sharenya

    @DSS,
    Pengalaman pribadi ya, :-)
    Sayangnya ini bukan buat mudik tapi sekedar buat ambil gaji :-D

    @Wadiyo,
    Cara pandang yang menarik. Mungkin bisa diadopsi swasta sebagai hiburan.

  6. gagah June 11th, 2010, 6:10 am

    biuh3….
    thanks
    visit : akhmad06.student.ipb.ac.id

  7. gagah June 11th, 2010, 7:42 am

    mantap
    thanks
    visit : akhmad06.student.ipb.ac.id

Trackbacks

  1. Kamus Malesbanget Blog » Masim Vavai Sugianto: Teknologi Informasi di Kantor Pemda

Leave a Reply