Saya selalu hapal musim hujan berlaku mulai Oktober-April sedangkan Kemarau keabalikannya tapi sudah beberapa tahun belakangan musim hujan sedikit bergeser dan biasanya akan mencapai puncaknya dibulan Januari dan Februari.
Dua hari kemarin hujan deras melanda Bekasi, Jakarta dan sekitarnya (Bekasi tempat saya tinggal, Jakarta tempat saya kerja, wilayah lain saya belum tahu tapi sepertinya merata). Hujan deras 2 hari ini sudah menyebabkan banjir dimana-mana.
Sewaktu banjir besar tahun 2007, pejabat publik hingga pengamat karbitan mengatakan bahwa banjir besar itu merupakan siklus 5 tahunan tanpa berpikir bahwa kenapa juga banjir menunggu waktu 5 tahun untuk mengumpulkan teman-temannya agar bisa besar
Siklus 5 tahunan secara ilmiah nampaknya dikaitkan dengan kondisi iklim, tapi melihat curah hujan dan persiapan menghadapi banjir yang dilakukan oleh pemda-pemda, saya yakin banjir tidak perlu menunggu waktu 5 tahun mendatang untuk menjadi besar.
Karena 2 hari hujan saja sudah membuat banyak wilayah kebanjiran dan macet dimana-mana, silakan menanti celoteh para pejabat dan pengamat soal penyebab banjir.
Kemarin baca berita kalau Gubernur Jakarta berkomentar soal Ciliwung yang seperti Carrefour, ada macam-macam disana. Ada sikat, odol, shampoo, makanan dan berbagai variasi sampah. Maksudnya mungkin baik, menyindir warga yang membuang sampah sembarangan. Tapi, semua orang sudah tahu itu, lha berarti pak gubernur ini telat tahunya.
Saran saya, sebaiknya para pejabat publik membuat aturan untuk masuk kantor jam 9 pagi. Waktu 1 jam dari jam 8 hingga jam 9 digunakan untuk mengecek kondisi lapangan, jadi meeting yang dilakukan benar-benar sesuai dengan realita dilapangan.
Kalau soal bicara panjang lebar dan diskursus mengenai apa dan mengapa, orang Indonesia tentu pang jago-jagona. Paling hebat. Soal realisasi itu urusan nanti. Apakah ini berlaku untuk penanganan banjir ditahun ini atau tidak, mari kita lihat saja
Mira January 15th, 2009, 8:53 am
Tapi yang pailng heran buat saya sih… buang sampah pada tempatnya ga susah kan?
Kalo rakyat ga buang sampah sembarangan (sesuatu yang mudah?), moga2 banjir lebih dikit, maka pemerintah ga perlu berkoar2, dan bloggers ga perlu komen tentang pemerintah, dan saya ga perlu heran tentang fenomena banjir indonesia
.
Vavai January 15th, 2009, 9:20 am
@Memang nggak susah.
Yang susah itu mengubah kebiasaan buruk menjadi baik dan menjadi contoh bagi yang lain.
Meminta orang untuk secara sukarela meninggalkan kebiasaan buruk membutuhkan proses dan waktu yang cukup lama. Pemerintah bisa mempercepatnya dengan menerbitkan reward dan punishment dan membuat aturan (yang dijalankan secara serius).
Kita memang tidak perlu menunggu pemerintah untuk bertindak tapi juga adalah tugas pemerintah untuk menjalankan hal itu. Jika masing2 mengerjakan tugas dan kewajibannya, tujuan yang ingin dicapai dapat lebih mudah dikejar.
Jika tidak, pemerintah hanya bisa pasrah dan berdoa semoga hujan tidak terus-terusan turun, warga hanya bisa ngomel dan menggerutu dan saya sebagai bagian dari blogger menumpahkan simpati dan kekecewaan via blog.
Mira January 15th, 2009, 9:42 am
Nah, faktanya pemerintah udah puluhan tahun juga ga ada kemajuan, jadi mau ngeblog sampe keringetan puluhan tahun juga ga akan ada hasil.
Bagaimana kalau anda blog tentang kebiasaan buruk rakyat? (sepertinya banyak deh).
Rasanya kita yang berubah lebih ada harapan, biarpun susah tapi masih bisa.
Kalau pemerintah yg melakukan perubahan, teori sih bisa, tapi kenyataan membuktikan ga bisa diharapkan.
Saya sih mendingan fokus ke hal2 yang masih memberi harapan.
Lupakan pemerintah. Kembali ke rakyat.
Sundul February 2nd, 2009, 1:01 pm
Mestinya memeng harus mulai ( sekarang ) berkaca, dan interospeksi diri. Apa yang telah dilakukan manusia untuk alam. Dulu kalau nggak salah di masyarakat Jawa, ada semacam idiom, September – Desember itu musimnya ” MUSIM HUJAN” karena di bulan itu lagi gede-gedenya “Sumber” / Air “, tapi memang beberapa tahun kebelakang ini , sudah bergeser. Artinya ada yang tidak sinkron lagi,… Semoga manusia dapat membaca tanda tanda ini