Tidak Semua Project Harus Diambil

Saat kita pertama kali berwirausaha biasanya kita membutuhkan project, analoginya seperti ikan sedang kekeringan dan membutuhkan air. Dalam beberapa tulisan saya sebutkan bahwa wirausaha itu sebenarnya mudah. Yang susah adalah mencari korban pertama untuk menjadi klien kita 😆

Padahal, jika kita punya kompetensi baik, tidak perlu khawatir pada rezeki. Setelah project pertama, nanti kita bisa mencari yang kedua, ketiga dan seterusnya sampai kita kebingungan karena kebanyakan project 😆. Jadi kembali ke inti awal, yang susah adalah mendapatkan korban pertama. Kita bisa mencari segala jurus, menggunakan network bisnis, kenalan, iklan dan lain-lain untuk memulainya.

Bagi wirausahawan, setiap project yang datang biasanya menjadi pembuka pintu rezeki dan diharapkan bisa menambah tabungan. Semakin banyak project berkorelasi positif dengan semakin banyaknya pendapatan. Meski peluang project merupakan hal yang ditunggu-tunggu, sudah selayaknya kita bersikap selektif dalam memilih project yang hendak dikerjakan. Mengapa? Karena semakin banyak project bukan hanya berkorelasi pada semakin banyaknya pendapatan melainkan juga menambah beban pikiran, hehehe…

Tidak semua project yang dikerjakan berbuah manis. Bisa saja kita menghabiskan waktu sekian lama dengan pengorbanan sekian banyak namun hasilnya ternyata diluar harapan. Hal ini memang lumrah, nggak mungkin dong orang selalu dihinggapi keberuntungan. Meski lumrah, sebenarnya kita bisa mencegah terjadinya kerugian sejak awal jika kita mau memperhatikan ciri-ciri yang menyertai datangnya suatu project.

Sebelum mengambil project, pertimbangkan apakah waktu yang tersedia memadai atau tidak. Memadai baik dari sisi sumber daya manusia maupun dari sisi waktu pengerjaan. Sama seperti saat main kartu (lha kok analoginya kesini, kebiasaan main remi & gaple di pos ronda nih 😝), kalau sedang hoki biasanya tawaran pekerjaan datang pada waktu yang hampir bersamaan dan kesemuanya minta diprioritaskan atau dikerjakan pada waktu yang sama.

Jika kita langsung ambil semua project karena silau pada keuntungan yang akan didapat, hasil akhirnya mungkin akan mengecewakan klien. Kekecewaan klien bisa disebabkan karena penyelesaian pekerjaan yang terlambat dari jadwal, support kita yang kurang optimal maupun kecepatan respon kita terhadap kebutuhan dan permintaan klien.

Saya sendiri masih belajar banyak dalam hal mengelola project. Saya pernah mengambil project dengan tenggat yang sangat ketat selama 2 minggu. Ada sekitar 6 project yang saya kerjakan berbarengan. Resikonya sebenarnya sangat besar karena jika ada hambatan pada salah satu project, akibatnya akan berdampak pada estimasi waktu pengerjaan project lain. Alhamdulillah saya memang bisa menyelesaikannya dengan membagi tugas dengan staff-staff di Excellent, namun tak urung selepas 2 minggu saya sakit selama 3 hari dan sempat ditodong oleh Zeze Vavai dengan pertanyaan, “Papap kapan liburnya sih? Kapan kita main naik kereta lagi?”

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah chemistry antara kita dengan klien. Dalam menerima suatu project saya biasanya mencoba menilai sejauh mana chemistry saya dengan klien. Apakah saya cocok dengan sikap dan respon calon klien atau tidak. Saya bisa paham bahwa tidak semua orang mungkin bisa cocok dengan gaya dan pendekatan saya. Hal ini biasanya berusaha saya ketahui sejak awal karena bisa berpengaruh pada kelancaran pekerjaan.

Kecocokan antara saya dengan klien tidak selalu dalam bentuk kesamaan pandangan atau pendapat. Saya memiliki klien yang galak terhadap saya namun saya tetap dengan senang hati menerimanya, karena ia galak secara professional. Ia galak jika memang ada hal-hal administrative yang kurang lengkap atau ada tenggat waktu yang meleset. Bukan galak tanpa sebab atau galak supaya nilai project yang saya minta bisa turun dengan mudah 😉

Ada tipikal klien yang bicaranya terkesan “menuntut” dari awal pembicaraan. Jika kamu begini maka resikonya begini. Jika meleset resikonya begitu. Jika terjadi anu maka sebagai akibatnya adalah akan begini dan begitu. Susah juga bicara secara nyaman jika diawali dengan ancaman-ancaman.

Tentu merupakan suatu kekhawatiran yang masuk akal dari pihak klien jika klien menginginkan agar vendor tidak mengecewakan. Bisa saja klien berkata demikian karena ia pernah dikecewakan oleh vendor lain. Meski bisa memahaminya, tentu jauh lebih nyaman jika berbicara dengan posisi yang sama-sama saling menghargai.

Jika sikap menuntut ini sudah menjadi ciri khas klien, ada kemungkinan saya batal mengambil project tersebut. Bukan karena penakut melainkan karena saya memandangnya bisa jadi penyakit dikelak kemudian hari. Saya khawatir jika saya ambil nantinya akan menjadi bumerang dan hubungan saya dengan pihak klien yang diawali dengan cara yang menyenangkan berubah menjadi tidak baik.

Apakah sikap ini bisa dibenarkan dari cara pandang profesionalisme, saya kurang paham. Saya hanya ingin mencegah sesuatu yang mungkin hasilnya akan mengecewakan, bukan hanya terhadap saya dan perusahaan yang saya bangun namun juga terhadap pihak klien. Jika kami batal deal sejak awal, mungkin ada saat dan waktu lain yang bisa menjadi pengganti yang lebih baik. Kalaupun kami tidak berjodoh dalam hal order, mungkin itu juga bisa berdampak baik bagi kedua belah pihak.

Apakah tidak khawatir dijauhi rezeki jika menolak project? Tentu saja tidak. Saya toh bukan menolak rezeki melainkan mengikuti intuisi apakah suatu peluang bisnis benar-benar menjadi peluang yang baik atau malah bisa berakibat kurang baik.

Kita bisa belajar dari kucing dalam hal ini. Coba saja berikan ayam tiren (ayam mati kemaren, alias ayam yang sudah mati kemudian diolah, bukan ayam hidup yang dipotong dan diolah), meski sudah digoreng sekalipun, kucing hanya mencium-cium saja namun tidak memakannya. Kucing punya kemampuan mendeteksi apakah makanan yang akan ia makan dalam kondisi baik atau tidak. Kita bisa belajar dari kucing, baik dalam hal deteksi makanan maupun dalam hal deteksi project.

Kita juga bisa belajar dari lebah. Orang IT pasti tahu materi pelajaran semester pertama soal ilmu komputer. Garbage In Garbage Out. Masuk buruk keluar juga buruk. Masuk baik keluar juga baik. Yang dimakan baik hasilnya akan baik pula.

Jangan sampai karena silau pada penyesatan keuntungan diawal, kita melabrak semua aturan. Kita tidak peduli pada etika dan mengorbankan banyak hal. Jangan sampai kita menyesali hasil akhir dan berucap, “Kalau tahu begini, lebih baik tidak usah saya ambil projectnya…”

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*