Melunasi Hutang

Di tanggal 10 Juli 2017 saya pernah menulis di FB status mengenai upaya mengurangi hutang, tepatnya hutang bank untuk keperluan Kredit Pemilikan Rumah atau KPR.

Jadi kisahnya dimulai di tahun 2008. Karena tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli rumah kecil sederhana, saya memberanikan diri membeli rumah dengan biaya dari bank. Dari total harga rumah 250 juta rupiah, saya menggunakan dana dari bank sebesar 205 juta, dengan cicilan flat di tahun pertama sekitar 1.9 juta dengan masa angsuran selama 20 tahun.

Di tahun kedua, cicilan berubah menjadi 2.5 juta sekian (mendekati 2.6 juta). Jika satu bulan dihitung kasar 2.5 juta, setahun berarti menjadi 30 juta. Setahun 30 juta berarti 20 tahun 600 juta. Jadi dari pinjaman kredit 205 juta, nilai pelunasannya menjadi sekitar 600 juta rupiah.

Soal wajar atau tidak wajar saya pikir kembali pada prinsip masing-masing. Juga soal riba bukan riba, saya juga kembalikan pada pola pikir masing-masing. Namun jika ditanya, “Apakah nilai angsuran tersebut memberatkan?”, jawaban saya adalah : Ya, memberatkan…

Sekian tahun berlalu, saya asyik dengan pekerjaan dan wirausaha. Saya pernah berniat nabung emas, agar bisa mengimbangi biaya inflasi dan menjadi buffer bagi hutang saya. Saya juga mencoba menambah penghasilan agar nilai angsuran tidak lagi terasa memberatkan. Namun saya lupa satu hal, yaitu lupa mengurangi dan melunasi hutang.

Saya lebih memilih untuk bersenang-senang dengan uang yang saya miliki dan membiarkan nilai hutang tetap demikian adanya. Saya seperti orang yang hidup santai padahal punya hutang sekian banyak. Saya lebih memilih beli barang ini beli barang itu, makan disana makan disini, blanja blanji dengan gaya seperti nggak ada beban.

Sampai akhirnya di awal tahun 2017 saya disadarkan. Masya iya saya mau meninggalkan hutang yang belum terbayar untuk anak isteri jika usia saya tidak sampai waktu angsuran selesai? Mengapa saya tidak berusaha mengerem kebutuhan dan keinginan saya dan berniat semaksimal mungkin mengurangi hutang.

Sampai dengan 2017, nilai hutang saya masih 170 juta. Dari total nilai hutang 205 juta, berarti selama 9 tahun angsuran nilai hutang saya baru terbayar 35 juta rupiah saja. Padahal jika diasumsikan cicilan 2.5 juta per bulan, total nilai angsuran saya selama 9 tahun bisa sampai 270 juta.

Akhirnya saya memberanikan diri, berdiskusi dan bersepakat dengan isteri Dear Rey Reny Yuniastuty, mengerem kebutuhan non essensial, menabung setiap rupiah yang didapatkan dan mengurangi pengeluaran yang tidak terlalu urgent. Pada pertengahan tahun, nilai hutang KPR bisa dilunasi sebesar Rp. 100 juta dengan nilai pinalti pelunasan dipercepat (sebagian) sebesar 1 juta rupiah.

Nilai hutang saya menjadi sekitar 70 juta rupiah dan akan selesai di tahun 2020. Artinya, pelunasan sebagian pokok sebesar 100 juta bisa menutup hingga 8 tahun angsuran yang equivalent dengan nilai 240 juta rupiah.

Saya menghela nafas dulu, menabung lagi agar bisa mengurangi hutang lagi. Dengan asumsi nilai cicilan 3 tahun, berarti secara normal saya akan mengeluarkan uang 90 juta, dari nilai riil sisa pinjaman sebesar 70 juta.

Setelah berusaha semaksimal mungkin menabung setiap pendapatan yang ada dan dengan menekan kebutuhan-kebutuhan yang tidak terlalu penting, awal bulan November ini saya bisa melunasi sisa pinjaman. Hari Senin kemarin saya lihat nilai pinjaman KPR saya menjadi nol. Kemudian hari Selasa ini nilai pinjaman KPR sudah menghilang dari dashboard akses internet banking saya.

Butuh waktu 2 hari sampai berkas-berkas terkait bisa kami ambil namun minimal hati menjadi lega melihat hutang KPR bisa dilunasi lebih awal. Saya bisa memenuhi janji saya pada Dear Rey agar bisa melunasi pinjaman KPR sebelum tahun 2017 berlalu.

Jika ditanya apakah tidak sulit mengumpulkan uang untuk melunasi pinjaman KPR? Tentu saja sulit. Apakah karena saya punya usaha Excellent sehingga rasanya lebih mudah? Tidak juga. Buktinya, butuh waktu bertahun-tahun sampai saya tergerak hati melunasi hutang secara lebih cepat.

Jika ditanya diawal tahun 2017, apakah saya bisa melunasi hutang KPR lebih cepat, mungkin jawaban saya adalah, “Bisa… mimpi…”. Iya, bisa mimpi sih karena uangnya saja masih entah dimana.

Namun saya ingat ucapan sepupu Dear Rey, mbak Susilo Handayani yang berkata terkait umroh dan haji, “Allah memampukan orang yang berniat bukan membukakan niat pada orang yang mampu”, mungkin situasinya mirip. Jika kita berniat untuk melunasi hutang, hasilnya adalah mestakung, semesta mendukung. Man jadda wajadda.

Saya tidak ingat pendapatan apa yang akhirnya bisa membantu saya melunasi hutang KPR baik di pelunasan sebagian maupun pelunasan akhir, namun saya merasakan ada jalan yang memudahkan kearah itu.

Saya mengibaratkan manusia punya rezeki berupa pintu yang lebar. Pintu itu jadi sempit karena pertambahan hutang. Semakin sempit jika hutang malah dilupa-lupakan dan lebih sempit lagi jika kita punya hutang namun kita lebih galak pada si pemberi hutang 😀

Mengurangi hutang saya anggap sebagai bagian dari upaya melebarkan dan membuka pintu rezeki. Benar atau tidak Wallahu alam, namun dalam konteks yang saya alami, hal itu benar adanya.

Saya selalu khawatir menulis hal-hal seperti ini terjebak pada kesan “belagu” atau riya atau sejenisnya. Harap hal seperti itu diabaikan karena saya tidak ada niatan seperti itu sama sekali.

Saya menuliskan kisah ini sebagai penambah semangat bagi rekan-rekan yang punya niatan mengurangi dan melunasi hutang. Bagi rekan-rekan yang tidak ingin mewariskan hutang pada anak dan pasangan hidupnya. Sebagai inspirasi bagi rekan-rekan yang sedang berniat mendapatkan rumah tempat tinggal bagi keluarga kecilnya.

Saya sengaja menuliskan angka-angkanya secara detail agar bisa dikalkulasikan. Agar rekan-rekan yang sudah terlanjur bisa punya semangat untuk mengurangi potensi kerugian. Agar rekan-rekan yang lain bisa punya alternatif lebih baik bagi kehidupan keluarganya.

Daripada kita menghabiskan pendapatan kita untuk membayar bunga hutang, lebih baik kita menahan diri dan keinginan kita, kemudian mengurangi hutang dan menabung uang yang tadinya untuk pembayaran bunga menjadi uang untuk tabungan pendidikan dan kesehatan keluarga kita.

Karena kita berhak dan wajib memberikan yang terbaik untuk diri dan keluarga kita.

Apakah itu berarti saya menyesali untuk semua langkah saya terkait KPR dan bank? Tidak juga. Hidup pada akhirnya adalah perjalanan. Kita mungkin tidak tahu apa yang menanti diujung jalan yang akan kita lalui. Saat dulu mulai mengambil KPR saya merasa itu adalah satu-satunya pilihan bagi saya. Tulisan ini anggaplah sebagai pengingat bahwa mungkin saja ada alternatif lain yang lebih baik. Terlepas dari nilai dan angka-angka, saya tentu saja bersyukur dan berterima kasih sudah mendapatkan rumah tempat tinggal yang bisa digunakan untuk berteduh, mencari nafkah dan menikmati kehidupan.

Semoga yang maha kuasa memberikan kemudahan bagi kita semua yang memiliki rencana-rencana yang baik dan positif bagi kita dan bagi keluarga kita.

Jalannya berkelok dan mendaki,
Siapa menanti tak pernah kutahu,
Sunyikupun kekal : menjajah diri,
Dan anginpun gelisah menderu…

Ah, ingin aku istirahat dari mimpi
Namun selalu kudengar ia menyeru
Tentang jejak di tanah berdebu
Diam-diam aku pun berangkat pergi

Tetap semangat…

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*