Kisah Merintis Usaha dan Mendapatkan Asset

Saat saya awal mula bekerja sebagai operator produksi, rasanya seperti mimpi jika suatu waktu memiliki asset, baik itu berupa tanah, logam mulia, emas permata, investasi dan lain-lain. Jauh sekali untuk dicapai.

Jangankan untuk beli asset, untuk persiapan menikah saja rasanya sudah pontang-panting 😆

Bagaimana segala memikirkan beli asset, jika gaji untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari saja rasanya serba pas. Saya dulu masih ingat sering baca artikel mengenai investasi, perencanaan keuangan dan pengaturan keuangan personal. Tiap kali melakukan kalkulasi, saya selalu bingung karena penghasilan hanya satu sedangkan pengeluaran banyak.


Dulu saya ingat pak Safir Senduk-salah satu perencana keuangan-bilang,

“Menabung itu diawal terima gaji, bukan dari sisa gaji. Misalnya gaji 1 juta, sisihkan 10% untuk menabung, berikutnya anggarkan untuk untuk menutup kebutuhan sehari-hari dan kalau ada sisa, itu yang digunakan untuk hiburan”

Oke saya turuti. Saya menabung saat terima gaji dan kemudian… mengambilnya kembali di pertengahan bulan karena gaji nggak cukup menutup kebutuhan hehehe.

Kalau saya ingat saat itu, saya merasa seperti orang linglung. Saya sudah bekerja keras. Sudah berhemat. Sudah berusaha cari sampingan, tapi mengapa kebutuhan hidup masih belum bisa tertutupi dari penghasilan.

Bayangkan, usia merambat naik. Tabungan hanya sekedarnya. Asset belum ada. Pekerjaan begitu-begitu saja. Nyeri rasanya dihati tiap kali mengingatnya. Saya kerap menghibur diri bahwa segalanya baik-baik saja meskipun saya tahu situasinya nggak baik-baik saja.

Namun yang maha kuasa punya jalan. Mungkin juga ada usaha. Ada doa dari orang tua, saudara dan kerabat. Ada juga ikhtiar. Yang jelas sepertinya bukan hanya dari usaha sendiri saja.

Dari kompetensi yang saya dapatkan saat sering menulis blog, saya akhirnya pindah kerja dengan gaji lebih tinggi. Dari sana kemudian saya mendapat uang tambahan yang berasal dari pekerjaan freelance dan dari kegiatan mengajar training. Perlahan saya bisa menutup kebutuhan hidup sehari-hari meski tidak berlebih.

Saya bisa mencicil rumah. Mencicil sepeda motor. Mencicil pembelian projector Infocus. Membuat ruang training. Memperbesar dan merenovasinya dan saya mulai bisa menabung sedikit-sedikit.

Tahun 2011 ada yang menjual tanah 100 meter. Harganya 250 ribu rupiah per meter. Adik saya yang baru menikah punya uang 9 juta. Ibu saya menjual perhiasan mendapat uang 6 juta. Saya tambahkan 10 juta rupiah. Akhirnya tanah 100 meter terbeli.

Pemilik tanah kemudian menjual kembali 100 meter. Kali ini harganya 300 ribu semeter. Saya mencicil pembayarannya dari jatah saya sebagai instruktur training di Excellent. Dicicil beberapa kali sampai akhirnya terkumpul uang 20 juta rupiah baru saya berani mengukur tanahnya. Saat diukur, ternyata tanggung, ada tambahan 50 meter lagi. Saya berjuang untuk bisa mencicilnya sampai akhirnya tanah 250 meter bisa didapatkan.

Itulah cikal bakal lahan markas alam Taman Bacaan Excellent, yang mulai terbentuk di tahun 2011.

Setelah 250 meter kemudian bertambah lagi sehingga total luasnya menjadi 400 meter. Itulah asset yang bisa terbeli setelah berjuang keras. Itu sebabnya saya menghormati pohon buah yang ada diatasnya, saung yang ada dilahannya, kolam ikan yang dibangun dibawah saung dan sisi-sisi pagar.

Itulah sebabnya saya merasa buah yang saya makan dari hasil kebun itu manis, karena memang perjuangannya pahit 👅. Saya pernah menurunkan tanah untuk menguruk bekas empang diatasnya. Saya pernah meratakan tanahnya dan menanami sudut-sudut lahannya.

Saya masih ingat pernah satu waktu ada salah satu family yang hendak menjual tanah 200 meter menjelang lebaran. Harganya 350 ribu per meter. 200 meter berarti 70 juta rupiah. Saya bilang pada adik saya yang memberikan informasi : “Ini apa nggak salah ngomong? Mana ada orang yang malah beli tanah pas mau lebaran. Kalau beli daging atau ayam sih masuk akal…”

Ternyata family itu hanya mau menjualnya ke saya. Dan saya nggak punya uang. Dia bahkan bilang tidak apa-apa DP-Down Payment atau Uang Muka-terlebih dahulu baru sisanya habis lebaran.

Setelah menemui dan berbicara langsung, akhirnya saya setuju juga. Setelah menggeratak tabungan, didapat uang 10 juta rupiah untuk digunakan sebagai DP, sedangkan sisa 60 juta rupiah saya janjikan baru bisa saya bayarkan 3 bulan kemudian. Itulah asset tanah kedua setelah markas alam Taman Bacaan Excellent, yang dilunasi setelah ada rezeki sekitar 2 minggu setelah lebaran.

Saya menuliskan hal ini tentu bukan bermaksud “belagu”, karena memang tidak ada yang perlu saya banggakan. Saya tuliskan sebagai inspirasi, jika ada rekan-rekan yang berniat satu waktu menabung asset dengan tujuan agar bisa dimanfaatkan untuk tujuan positif, sebaik-baiknya.

Dari asset yang ada itu, saya beberapa kali mendapat hasil kebun berupa pisang, sedemikian banyak sampai team Excellent minta ampun dibawakan pisang melulu 😆. Saya juga mendapat Nangka, Mangga, Jambu Air, Jeruk Bali, Singkong dan lainnya. Dari hasil kebun, saya sudah menerima manfaat dari asset tersebut. Bahkan jika seandainya diukur dengan harga pasaran tanah sekarangpun, nilainya sudah lebih tinggi dari sebelumnya.

Saya jadi ingat kisah tentang seorang yang sakit sudah hendak berpulang, dikelilingi oleh anak-anak dan pasangan hidupnya. Dia berkata, “Aku tidak tinggalkan apa-apa selain 2 kebun coklat, 2 petak sawah, ladang gandum, kebun tomat, cabe, anggur, apel dan sekawanan ternak ayam dan sapi”

“Haaaah, dimana itu pak?”, tanya anak-anak dan isterinya serempak, karena surprise, tidak pernah tahu ayah dan suaminya punya asset sebanyak itu.

Ada sebagian di Hayday dan sebagian lagi di FarmVille…” 😆


Catatan : Seneng baca tulisan ini? jika iya, boleh kok subscribe di mari : https://insight.vavai.com. isinya newsletter berisi artikel tips sejenis tulisan diatas, inspirasi dan motivasi. Free, bebas biaya, bebas dari spamming, bisa unsubscribe kapan saja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*