Melunasi Hutang Kartu Kredit

Jadi ceritanya ini posting mengenai pelunasan hutang lagi 🙂 . Ya masih lumayan sih daripada cerita soal berhutang melulu hehehe…
 
Di Tahun 2014 saya sudah sempat melunasi hutang kartu kredit, namun karena sebagian pekerjaan di Excellent berkaitan dengan layanan cloud dan lisensi, penggunaan kartu kredit tidak bisa terhindarkan.
 
Saya sudah coba kurangi dengan menggunakan PayPal yang diisi saldonya tanpa kartu kredit, namun riskan karena berpotensi jadi masalah dari sisi Terms of Service si PayPal. Saya pernah punya saldo sampai 5000an US$ di PayPal yang kemudian kena suspend karena transaksinya dicurigai dan akhirnya hanya kembali sebagian, itupun setelah menunggu 6 bulan lamanya 🙁
 
Setelah target melunasi hutang rumah, saya berusaha mencari cara melunasi hutang kartu kredit. Saya sudah mencoba beberapa alternatif seperti VCN (Virtual Card Number) dari beberapa bank namun penggunaannya tidak fleksibel.
 
Usaha saya akhirnya tertolong setelah menggunakan kartu Jenius dari BTPN. Sebelum saya cerita lebih lanjut, ini bukan cerita endorser ya 😀

Kartu Jenius BTPN sesuai namanya memang menjadi ide jenius yang memudahkan proses eliminasi kartu kredit. Karena fungsinya sebagai kartu debit, saya bisa langsung melakukan deposit uang ke kartu Jenius, kemudian memisahkannya kedalam beberapa kartu virtual sesuai desain peruntukan yang saya inginkan. Misalnya ada salah satu kartu virtual yang memang saya desain untuk kepentingan penggunaan urusan ecommerce di Excellent.
 
Kartu virtual ini saya top up dan saya jaga nilai depositnya agar bisa menghandle keperluan pengeluaran bulanan. Dengan cara ini, saya bisa “hidup” sesuai kemampuan, dalam arti bahwa saya mendisiplinkan diri untuk menyediakan deposit biaya pembayaran langganan cloud maupun lisensi.
 
Apakah jika menggunakan kartu kredit tidak bisa disiplin melakukannya? Bisa saja, misalnya menggunakan kartu kredit untuk membayar sesuatu dan langsung melunasinya. Masalahnya, nilai tagihan di kartu kredit tidak secara langsung muncul di list tagihan, butuh beberapa hari sampai muncul. Hal ini membuat saya terdorong untuk berhutang dan itu tidak saya sukai.
 
Jika menggunakan Jenius, saya bisa mengukur diri dan kemampuan. Jika memang tidak ada kemampuan ya jangan memaksakan diri. Jika sampai tidak sanggup membayar atau menyediakan deposit untuk biaya operasional bulanan, pasti ada yang salah dari sisi bisnis, pekerjaan dan manajemen yang kita jalani. Bagaimana mungkin kita berbisnis, namun tidak sanggup membayar pengeluaran bulanan padahal pendapatannya harusnya bisa cukup menutup hal tersebut sekaligus mendapatkan profit.
 
Saat mulai menggunakan Jenius di bulan September, posisi saya ada hutang kartu kredit di 3 kartu kredit. Apakah itu nilai yang bertumpuk? Ada diantaranya, namun sebagian adalah hutang baru saat membeli lisensi.
 
Bunga hutang kartu kredit itu besar sekali. Daripada menghabiskan uang untuk membayar bunga, saya membuat project hibernasi. Menutup keran pengeluaran semaksimal mungkin kecuali untuk keperluan essensial , meningkatkan pendapatan Excellent dan mengutamakan pembayaran hutang. Saya juga memastikan deposit Jenius selalu tersedia dan mengarahkan semua pembayaran ecommerce menggunakan Jenius sehingga tidak timbul hutang kartu kredit baru.
 
Di akhir Oktober hingga awal November 2017, saya bertahap bisa menutup hutang kartu kredit yang ada sehingga menginjak pertengahan November, saya sudah bisa melihat saldo tagihan kartu kredit menjadi nol. Beban bunga yang tadinya ada bisa saya alihkan menjadi dana tunjangan pendidikan sehingga bisa lebih bermanfaat.
 
Saat berusaha melunasi hutang, selalu muncul godaan untuk berlama-lama. Misalnya, “Daripada melunasi semua, lebih baik lunasi sebagian, kemudian uangnya bisa diinvestasikan. Hasil investasi bisa untuk menurtup hutang”. Padahal jika itu yang dilakukan, kerap kali investasi yang dimaksud tidak memberikan return yang sepadan atau malah merugi.
 
Ada juga pikiran, kalau terlalu bersemangat membayar hutang nanti malah membuat biaya operasional berhenti. Ya sebenarnya kita juga punya ukuran. Jangan sampai seperti itu juga. Yang jelas, saya berusaha meningkatkan porsi pembayaran hutang dibandingkan dengan keperluan untuk jajan atau keperluan yang sifatnya non essensial.
 
Kadang memang saya agak ragu dan khawatir jika salah perhitungan, namun nyatanya selalu ada benefit yang menyertai upaya itu, Saat melakukan upaya percepatan pembayaran hutang , piutang beberapa klien yang sebelumnya agak sulit diproses bisa dipermudah dan tiba-tiba mereka melakukan pembayaran :-D. Ada juga opportunity baru yang masuk, yang jika dihitung bisa menggantikan pengeluaran untuk percepatan pembayaran hutang.
 
Adakalanya kita lupa memperhitungkan beberapa kondisi. Misalnya kesehatan. Karena sehat, kita tidak perlu mengeluarkan biaya untuk berobat. Saya pernah bimbang untuk melunasi hutang, kemudian menahan-nahannya beberapa lama, sampai kemudian tiba-tiba ada anggota keluarga yang sakit dan uang yang tadinya dicadangkan untuk membayar hutang habis untuk melunasi tagihan rumah sakit. Uangnya tetap keluar, hutangnya belum lunas juga, zzzz… Semenjak itu saya agak kapok bermain-main dengan hak pihak lain 🙂
 
Kebetulan? Ya semuanya bisa dianggap kebetulan, tinggal tergantung mindset kita menyikapinya. Saya memilih untuk berbaik sangka bahwa jika kita memudahkan urusan orang lain, urusan kita sendiri akan dipermudah. Jika kita berusaha melunasi hutang, pada dasarnya kita memperlebar dan membuka pintu rezeki kita sendiri.
 
Bagi rekan-rekan yang sedang berusaha menutup hutang-hutangnya, semoga selalu diberikan kemudahan, keberanian dan keteguhan, dan semoga menjadi berkah bagi langkah selanjutnya. Bagi yang tidak berhutang, semoga tetap terjaga tidak tergoda mengambil hutang baru 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*