Umroh Orang Tua & Kakak

Bagi keluarga kami yang terbiasa hidup prihatin sejak kecil (kami sekeluarga pernah hanya memiliki uang Rp. 50 ribu saat saya wisuda), bayangan untuk berangkat haji atau umroh mungkin seperti mimpi penghias tidur. Sangat ingin namun apa daya jika segalanya belum memungkinkan. Hingga akhirnya saya bekerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Dari operator produksi, kemudian ke staff IT, kemudian ke supervisor IT hingga akhirnya berwirausaha membangun Excellent.

Sampai dengan tahun 2014, niat itu bahkan belum terpikirkan. Selalu ada niat dan omongan, “Nanti ingin berangkat haji atau umroh. Minimal untuk orang tua terlebih dahulu”, namun niatnya belum direalisasi, ibaratnya menunggu dapat uang banyak secara sekaligus meski tidak tahu bagaimana caranya uang banyak itu bisa datang 😀

Tahun lalu kami, anak-anak orang tua kami, berkumpul dan berbicara kembali. Mungkin bisa niat menghajikan orang tua. Berapa sih biayanya. Bagaimana kalau urunan. Apakah bisa memadai. Jika ya, kira-kira kapan? Apakah biayanya bisa mencukupi untuk kedua orang tua?

Bapak saya bilang, biarlah ibu saya yang berangkat haji, karena ibu saya lebih rajin ke pengajian, hehehe…

Karena bincang-bincang ngalor-ngidul tanpa realisasi, akhirnya rencana itu lewat dengan sendirinya. Hingga akhirnya di bulan Desember kemarin kami sekeluarga berkumpul dan berbicara. Pilihan paling cepat dan memungkinkan adalah berangkat umroh. Berangkat haji jadi opsi berikutnya karena ada proses antrian, meski ada informasi prioritas untuk yang berusia lanjut.

Adik saya Marsan Qchen Susanto bilang, “Sudah menjadi keputusan. Ibu akan berangkat umroh bersama bapak. Plus 1 pendamping. Total 3 orang. Estimasi biaya keberangkatan saja sekitar 90-100 juta. Belum termasuk biaya tambahan untuk persiapan dan lain-lain”.

Kami semua mengangguk-angguk seperti burung pelatuk. Sambil berpikir kalau itu uang semua dan bukan sekedar daun, hehehe…

Meski belum tahu apakah hal itu mungkin atau tidak, kami sepakat. Anak-anaknya akan urunan. Besar kecilnya tidak masalah. Kami memutuskan, kakak saya Mardi “Mardhock” Susanto yang akan berangkat mendampingi orang tua kami. Pertimbangannya, dia anak laki-laki pertama di keluarga, sehat dan dipandang mampu menjaga kedua orang tua kami. Yang paling penting adalah, dia lebih rajin mengaji dibanding saya maupun yang lain. Biasanya di acara pengajian atau kenduri keluarga, dia yang memimpin doa, sementara saya dan yang lain lebih banyak bercanda dan biasanya diakhir acara cuma bisa komplain,”baca doanya jangan panjang-panjang dong” 😛

Bulan Desember minggu kedua, Qchen berangkat mendaftarkan Mardhock bersama kedua orang tua. Kami memilih biro perjalanan umroh yang punya track record cukup baik. Adik saya satu lagi (jangan heran, keluarga kami keluarga besar, dulu sering dibully, “kayaknya kalau main bola, lo sama kakak dan adik lo bisa membangun 1 kesebelasan”, hehehe…), Marsono “Sony” yang tinggal di Cileungsi dan seperti halnya saya juga berwirausaha menjadi sponsor bersama yang lain, sekaligus menjadi seksi sibuk.

Saat di biro perjalanan umroh, Qchen mengirim pesan yang kalau saya baca kelihatan puitis (dia jarang-jarang nulis begitu) : “Terlihat kebahagiaan diwajah orang tua kita saat mendaftar berangkat umroh. Jangan kecewakan orang tua, jangan sampai batal”.

Terus terang saya terharu membacanya. Pesan Qchen itu berarti 2 hal, yaitu bahwa orang tua kami sangat senang meski baru didaftarkan, sekaligus memberitahu bahwa ia baru mendaftarkan “DP”, belum melunasi pembayarannya.

Dengan tenggat waktu tersisa sekitar 1-2 minggu sebelum pendaftaran ditutup, pelunasan biaya harus dipercepat. Saya memang memiliki cadangan biaya operasional di Excellent dan bisa menutup biaya tanpa harus mengganggu kemampuan Excellent namun sesuai namanya, cadangan itu digunakan sebagai dana stand by yang pengeluarannya tidak bisa saya by pass hanya karena saya menjadi owner/direktur.

Namun saya punya opsi lain.

Akhir tahun kemarin, Excellent memberikan bonus tahunan kepada seluruh team, termasuk ke lingkungan keluarga. Saya memberikan nilai yang sama ke kedua orang tua, baik orang tua saya maupun orang tua isteri saya. Saya memberikan bonus untuk mertua via Zeze Vavai​ dan Vivian sedangkan isteri My Dear Rey memberikannya untuk orang tua saya.

Sebelum akhir tahun, biaya umroh dapat dilunasi dan orang tua saya bisa mempersiapkan keberangkatan secara lebih tenang.

Namun, menjelang akhir tahun pula tiba-tiba bapak saya jatuh sakit dan mesti dibawa ke rumah sakit. Kondisinya sempat membuat kami khawatir jika tidak bisa berangkat umroh. Kami berdiskusi, worst case-nya adalah bapak tidak bisa ikut berangkat dan biaya umroh yang sudah disetorkan hangus.

Tiap kali berangkat manasik, ibu saya berangkat berdua dengan kakak saya, nanti informasi tata cara yang disampaikan saat manasik diteruskan ke bapak saya. Bapak saya sebenarnya kelihatan lebih condong tidak berangkat, namun lupa kalau ibu saya bisa keras juga hehehe…

Ibu saya bilang, “Tidak apa-apa kalau seandainya nanti terpaksa tidak berangkat tapi sekarang usaha dulu. Coba dulu”. Bahkan ibu saya sempat bilang, “itu bapak dibopong saja untuk suntik meningitis”. Meski bapak saya sempat menolak namun akhirnya kalah juga dengan kekerasan hati ibu saya. Setelah pulang suntik meningitis bapak saya berkomentar, “Ternyata badan lebih enak ya. Jadi lebih seger.”. Wah, blessing in disguise.

12715201_1224263324270104_5047888516433581157_n12654160_1224265287603241_5149262839015460269_n12717175_1224265597603210_6973587192676568199_n12718180_1224266514269785_9185778608517213185_n

Ternyata benar, bapak saya lebih sehat dan memutuskan untuk tetap berangkat umroh bersama-sama.

Saya mempersiapkan beberapa detail. Mulai dari rencana keberangkatan, komunikasi dan akomodasi selama umroh hingga nanti pulang kembali ke rumah. Saya memesan hotel di dekat bandara agar tidak terlalu capek berangkat dari rumah terlalu pagi. Sepanjang pekan pertama dan kedua Januari 2016 kami mempersiapkan beberapa detail perjalanan agar semuanya berjalan dengan lancar.

Hari Rabu kemarin, akhirnya saya dan keluarga bisa mengantar keberangkatan orang tua dan Mardhock ke bandara, sekaligus mendampinginya mendengarkan briefing oleh petugas dari pihak biro perjalanan/travel sebelum kemudian masuk check in dan boarding.

Cerita ini saya sampaikan sekedar untuk pengingat bagi saya, apa yang kelihatan muskil sekalipun, insya Allah bisa diupayakan sepanjang kita mau berniat baik dan mau berusaha merealisasikannya. Siapa tahu bisa bermanfaat bagi rekan-rekan yang memiliki niat yang sama.

Pin It

18 thoughts on “Umroh Orang Tua & Kakak

  1. Sangat Inspiratif Mas Vavai..Mudah2an keluarga besar Mas Vavai selalu di limpahkan rahmat dan rezeki Aamiin

    Sukses Selalu

  2. Sangat menginspirasi untuk kita yang belum berangkat, niat dan tekad yang kuat serta pasrah atas kehendak Allah SWT menjadi landasan kuat bagi Allah untuk memudahkan keberangkatan ke tanah suci.

    Insha Allah akan banyak lagi orang yang meniru kisah di atas.

  3. cerita yang sangat menginspirasi, memang ibadah yang satu ini sama unik nya denganibadah haji karena memang hanya tamu Allah yang dapat melaksanakan nya, ini bukan tentang uang , atau yang lain nya tak sedikit kisah orang yang pergi untuk beribadah umroh tetapi sesampainya di tanah suci malah menderita sakit yang akhirnya tidak dapat beribadah, allahu a’lam dialah yang maha mengatahui.

  4. semoga niat saya juga umtuh memberangkatkan orang tua juga bisa terwujut ..terimakasih mas ceritanya bisa di jadikan inspirasi bagi kita semua.

  5. Alhamdulillah, memang selama kita memiliki niat dan cita-cita dan tentu berikhtiar semaksimal mungkin, maka Allah akan memberikan jalan keluar.

    tanamkan niat, maksimalkan ikhtiar dan jangan lupa perbanyak berdoa kepada Allah..
    Semoga menjadi pelajaran buat para pembaca .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*