You are what You Read…

You are what you eat mungkin sudah terdengar biasa. Kalau kamu kelihatan gendut, periksa makanan kamu. Kalau kamu sering merasa masuk angin dan mudah lelah, lesu, letih dan lemas (all of them are sarua keneh 😛 ), periksa pola makan kamu. Saya tidak ingin membahas hal itu. Saya sekedar ingin membahas, bahwa bukan hanya pola dan jenis makanan yang menentukan penampilan maupun proporsi tubuh kita, melainkan juga bacaan yang kita konsumsi untuk keperluan otak, pikiran dan mental kita.

Kadang kita ini sudah merasa dewasa namun tidak dibarengi kemampuan menyaring bacaan yang bagus untuk kebaikan mental dan pikiran kita. Kadang kita jadi sewot, marah dan heboh sendiri karena bacaan yang belum kita verifikasi kebenarannya.

photo-brain-food

Saya senang membaca tulisan prof Rhenald Kasali. Ia tidak takut konfrontasi, sepanjang argumentasi dan fakta yang ia miliki benar adanya. Salah satu tulisannya yang terakhir saya baca adalah : “Mengapa kita membiarkan orang-orang yang berbuat baik disingkirkan. Mengapa kita diam saja jika ada orang-orang yang hendak memperbaiki keadaan kemudian mengalami kendala”

Tulisan yang bagus membawa dampak yang menyenangkan. Dampak yang membahagiakan. Dampak yang mencerahkan. Semestinya kita memasukkan bacaan-bacaan bagus yang bisa mendidik dan memperbaiki kualitas kehidupan kita, sebanyak mungkin kedalam diri kita. Agar kita tidak selalu menjadi orang yang pesimis, merasa menjadi orang paling gagal dan merasa tidak ada kemungkinan untuk memperbaiki keadaan maupun suasana.

Kita punya hak untuk memilih dan memilah bacaan yang baik bagi kita, sama seperti halnya kita memilih dan memilah makanan apa yang hendak masuk kedalam tubuh kita. Apakah makanan yang kelihatan enak namun berdampak buruk bagi kesehatan atau makanan yang kelihatannya kurang menarik selera namun baik bagi kita. Jika perlu, kita bisa memilih makanan yang enak dan menggugah selera, juga menyehatkan badan kita.

Jangan biarkan diri kita diracuni pikiran-pikiran yang bersumber dari bacaan yang tidak menyehatkan kita. Sehat atau sakit adalah pilihan, tinggal bagaimana kita memilih jalan yang hendak kita lalui.

Jika perlu, disaat orang lain pesimis, kita tetap bisa optimis, tentu saja dengan nalar, fakta dan logika yang masuk akal. Bukan sekedar optimis tanpa pertimbangan. Jika kita tidak mampu membantu, minimal kita tidak menyulitkan orang lain.

Saya sering juga memperhatikan share di FB, ada juga ya orang yang hidupnya heboooh banget. Cukup melihat berita atau sampah-sampah 😛 yang dishare di timeline-nya, sedikit banyak kita bisa punya gambaran bagaimana tingkat kedewasaan dan kaliber pola pikir yang bersangkutan.

Benar, asumsi bisa jadi menipu. Pandangan kita terhadap seseorang belum tentu selaras dengan penampilan luar, namun sedikit banyak ada gambaran yang bisa menjadi asumsi awal. Bukankah kerugian bagi kita jika ada pihak yang membutuhkan kompetensi kita namun jadi urung melakukannya karena melihat profile dan sikap yang kita tampilkan, hasil dari cerminan bacaan dan konsumsi pikiran kita.

Tidak usah menyalahkan pihak lain untuk beban dan kesulitan hidup yang kita alami. Kita bisa dan fleksibel untuk memilih asupan yang terbaik bagi tubuh, kesehatan dan mental kita. Pilihlah asupan yang baik, yang mencerahkan, yang mencerdaskan, agar hasil akhir yang kita dapatkan juga hasil yang baik bagi kita maupun lingkungan kita.

Hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya.

Catatan : Ilustrasi gambar dari sini : http://www.wrha.mb.ca/wave/2013/09/files/photo-brain-food.jpg

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*