Pertimbangan Sederhana Berwirausaha

Pas sekarang lagi kerja di halaman rumah, kepikiran menulis mengenai asal mula saya berwirausaha, mungkin bisa bermanfaat untuk rekan-rekan yang punya pemikiran sama namun masih ragu.

Saya berwirausaha sebenarnya karena alasan yang sangat sederhana, yaitu saya sudah bingung mau berhemat apalagi 😀

Saat masih bekerja baik di Cikarang maupun di Tanjung Priok, saya sering membaca artikel-artikel dan buku perencanaan keuangan bang Safir Senduk. Salah satu ide yang disampaikan adalah agar menabung diawal menerima gaji/pendapatan, bukan dari sisa gajian.

Misalnya jika selama ini gaji dipecah-pecah sesuai porsi kebutuhan dan baru sisanya (kalau ada sisa, Zzzzzz… 😛  ) ditabungkan, maka seharusnya situasinya dibalik. Kita sudah harus punya plot/pos tabungan sebesar katakanlah 15-20% dari gaji bulanan. Setelah dikurangi pos untuk tabungan, barulah sisanya dipecah-pecah untuk kebutuhan bulanan.

vavai-ilustrasi-perhitunganSaya mengikuti saran yang bagus tersebut. Hasilnya saya “Modyar” mengatur keuangan (maafkan kalimatnya pakai kata yang kasar), hehehe… Saran dari bang Safir Senduk ini bagus, namun jadi bikin saya kalut karena mau disisihkan diawal maupun diakhir, teteup saja gaji ya segitu-gitunya. Bisa menjamin tabungan namun saya harus berdiet ketat agar gaji bisa mencukupi, padahal saya belum lama menikah dan baru punya anak 1. Kumaha kitu solusina?

Solusinya ada di saran keuangan berikutnya, yaitu : “Jika Sudah Berhemat Semaksimal Mungkin Namun Masih Selalu Bingung Mengatur Keuangan, Maka Yang Dilakukan Bukan Berhemat Lebih Jauh Lagi Melainkan : TINGKATKAN PENDAPATAN

Mau dihemat apalagi kalau memang sudah demikian kebutuhan dasar alias kebutuhan hidup minimumnya? Kalau kita memaksakan diri untuk semakin berhemat bisa jadi kualitas hidup minimal kita malah jadi tergerus.

Bagaimana caranya meningkatkan pendapatan? Berarti saya mesti mencari sumber-sumber pendapatan ditengah kekurangan dan keterbatasan saya. Saya tidak punya modal, saya tidak punya tabungan besar. Jadi pilihan saya terbatas sekali. Tapi badan saya Alhamdulillah sehat. Otak saya cerdas (yaelah, malah belagu, hehehe…) dan saya nggak jelek-jelek amat (lha apa hubungannya ya 😛 , emangnya mau jual diri, hehehe… ).

Daripada saya tambah pusing memikirkan kebutuhan hidup dan kekurangan anggaran, lebih baik saya maju satu langkah, yaitu melakukan analisa kira-kira apa yang bisa saya lakukan untuk menambah pendapatan. Kedengerannya sih keren : melakukan analisa, padahal yang saya lakukan adalah ngalamun sambil mencoret-coret kertas, kadang ngomong sendiri sampai isteri saya mungkin heran jangan-jangan suaminya mulai stress mikirin anggaran rumah tangga, hehehe…

Awalnya saya pikir pilihan saya paling hanya 1-2 saja, apa pula yang bisa menghasilkan pendapatan tambahan kalau saya tidak punya modal usaha? Ternyata tidak juga.

Berikut ini beberapa pilihan yang pernah terlintas dibenak saya saat melakukan analisa sederhana diatas :

  1. Menyediakan layanan private/kursus/training
  2. Menulis artikel untuk majalah atau koran, termasuk cerita anak di majalah Bobo atau disisipan koran Kompas
  3. Membuat program komputer. Gini-gini saya mantan programmer yang bisalah membuat program kecil-kecil
  4. Menjual cabe, bawang dan bumbu dapur di pasar
  5. Freelancer di sekolah-sekolah (misalnya mengajar materi eskul)
  6. Membuat buku terkait kapabilitas saya
  7. Berjualan masakan atau kue di bazaar atau dipinggir jalan

Betul kan, ternyata peluangnya ada beberapa. Bisa dicoba salah satu dan lihat apakah kira-kira berjalan sesuai harapan atau tidak.

Tanpa sadar, saya yang awalnya termasuk anti untuk wirausaha (saya satu-satunya di keluarga yang anti usaha dan awalnya kerja dari satu pabrik/perusahaan ke perusahaan lain ternyata malah kerasan berwirausaha. Jika dihitung dari tahun 2011 saja, saat ini saya menginjak masa 5 tahun berwirausaha. Meski masih balita, minimal saya menikmati kegiatan wirausaha yang saya jalani.

happy

Kisah-kisah diatas sempat saya rangkum dalam ebook wirausaha meski sampai sekarang belum ada prestasi yang kira-kira bisa dijadikan benchmark, minimal kisah saya diawal cerita (berhemat habis-habisan dan mencari alternatif tambahan pendapatan) sedikit demi sedikit bisa ada solusinya 😉

Pin It

3 thoughts on “Pertimbangan Sederhana Berwirausaha

  1. sangat inspiratif. saya dulu meragukan konsistensi anda sewaktu pertama kali mau membangun komunitas suse di indonesia. banyak orang dgn ide yg sangat cemerlang namun lemah dalam eksekusi, terutama masalah konsistensi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*