Tingkah Polah Ojek & Bajaj di Jakarta

Saat berkunjung ke kantor klien di Jakarta, saya biasanya memilih kendaraan umum seperti kereta api commuter atau bus. Dari stasiun atau halte, kadang saya menyambungnya dengan taksi, bajaj atau ojek.

Naik taksi mungkin relatif umum dan karena saya biasanya memilih blue bird, layanannya relatif baik. Hal berbeda saya alami jika naik bajaj atau ojek.

Kerapkali naik bajaj atau ojek di Jakarta ibarat mimpi buruk. Nightmare. Karena ngejar setoran, sopir bajaj sering tidak pakai rem. Menerobos lampu merah, balapan dengan motor (karena merasa menggunakan mesin motor 😀 ) dan kalau belok bisa miring-miring dengan sudut tertentu. Memang sih tidak semua, jadi yang saya bicarakan ini oknum sopir bajaj saja.

ilustrasi-ojek

Ilustrasi gambar dari sini : http://naningisme.wordpress.com/2013/03/09/ojek-pahlawan-di-tengah-kemacetan/

Buat mereka sih biasa saja tapi buat saya, cukuplah sesekali saja naik bajaj. Naiknyapun mesti lihat kondisi dan sikap/penampilan sopir. Salah pilih alamat menyesal seharian 😀 . Ada anekdot, kalau mau test kerja atau test sekolah naik bajaj, saat naik hapal semua, saat turun lupa semua 😛 . Hanya tuhan dan sopir bajaj yang tahu kapan bajaj berhenti atau belok.

Meski demikian, adakalanya saya juga bisa dapat bajaj yang bagus, mengemudinya enak dan tidak grusa-grusu, meski suara mesinnya tetap sember. Saya nggak tahu apakah bajaj dengan BBG lebih baik atau tidak. Jika naik bajaj dengan BBG entah mengapa saya selalu merasa duduk diatas tabung gas melon (3 kg) 😛

bajaj

Pengalaman yang sama saya alami saat naik ojek, misalnya dari stasiun. Sebagai contoh, saat naik ojek dari stasiun Manggarai ke jalan Talang-Proklamasi, mereka nggak mau karena menganggapnya terlalu dekat. Kalaupun mau mereka minta mahal, 30 ribu misalnya, padahal aslinya hanya 10 ribu atau 15 ribu. Mereka pada jual mahal mungkin karena mereka punya bargaining power, “situ mau silakan, situ nggak mau ya abaikan”

Kadang mereka juga mengambil hati calon penumpang : “Boss, kemana boss? Ayo boss sama saya boss”. Kalau yang lewat pakai jilbab, bisa saja bilang, “Bu haji sini bu saya antar bu”. Kalau isteri saya dibilang seperti itu, isteri saya hanya bilang, “amiiiin”. 🙂

Sama-sama ngejar setoran, oknum tukang ojek ini juga perilakunya mirip. Bawa penumpang serasa bawa barang. Ngebut dan meliuk-liuk diantara mobil serasa dia itu Valentino Rossi. Bukan sekali dua motor ojek hampir kena tabrak mobil sehingga tiap kali naik ojek, saya langsung berpesan, “Santai aza boss, saya nggak buru-buru. Kalem saja”

Kalau siang terik, naik ojek ditengah kemacetan benar-benar seperti surga sekaligus neraka. Surga karena bisa ambil jalan alternatif atau gang, neraka karena kadang bawa motornya serasa bawa diri sendiri, tidak peduli penumpang.

Jika demikian pengalamannya, mengapa kok saya masih tetap naik ojek atau naik bajaj. Selain karena masalah tarif dan budget, tinggal atau beraktivitas di Jakarta hanya punya 2 alternatif : terima apa adanya atau sebel terus setiap hari.

Ada yang punya pengalaman lain?

Pin It

4 thoughts on “Tingkah Polah Ojek & Bajaj di Jakarta

  1. Bajaj BBG enak kok, suaranya gak berisik. Sekarang sih rata2 mereka pakai Pertamax, sudah tidak pakai BBG lagi karena langka. Tapi suaranya masih enak.

    Pernah kutanyakan, kenapa gak pakai Premium, dan dijawab suaranya jadi jelek kalau pakai Premium.

    Pengalaman paling heboh waktu naik bajaj adalah malam-malam, lewat jalan relatif kecil (cukup untuk dua mobil), penuh polisi tidur, tanpa lampu jalan, dengan lampu bajaj yang juga gak sanggup menerangi jalan di depan. Abangnya nekad mengemudikan dengan kecepatan tinggi bahkan setelah beberapa kali tersandung polisi tidur.

    Akhirnya, jalanan agak mulus, si Abang percaya diri memacu Bajajnya, ternyata ada polisi tidur dan bajaj pun sukses melayang seperti di film-film. Begitu mendarat, mesin langsung mati total dan tak bisa dihidupkan.

    Setelah berusaha berkali2 menghidupkan mesin dan gagal, si Abang menyerah, minta maaf pada saya, penumpangnya, dan mempersilakan saya mencari kendaraan lain (dan mesti jalan kaki 300 m untuk ke jalan raya).

  2. Maaf baru balas sekarang, Mas Vavai.
    Franova itu Fasilkom 2004. Saya Fasilkom UI angkatan 2002.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*