Sampai Kapan?

vavai-ilustrasi-tumbuh-berkembangTiap kali melakukan proses review internal yang kemudian berujung pada beberapa keputusan besar, saya biasanya mengajukan pertanyaan yang mirip dari waktu ke waktu, yaitu “Sampai Kapan?”

Saat pertama kali memutuskan untuk kuliah Manajemen Informatika di tahun 1996, saat itu saya bekerja sebagai operator produksi di salah satu pabrik yang ada di Cikarang, Bekasi. Karena situasi pekerjaan, saya kerap bertanya dalam hati, “Sampai kapan saya bekerja seperti ini”. Bukan saya bermaksud tidak bersyukur pada pekerjaan yang saya jalani. Bekerja sebagai operator produksi bagi seorang lulusan SMA seperti saya saat itu tetap merupakan pengalaman yang menyenangkan. Hanya saja, pekerjaannya menyita waktu dan tenaga. Capek sekali.

Setiap hari saya bekerja sebagai tenaga pembersih mur/baut (T-Nut). Tugasnya mengeringkan oli dari baut melalui mesin pengering. Berat baut per hakko (kotak) sekitar 20-25 kg. Setiap 1 shift saya bisa mengangkat antara 50-100 hakko. Saat usia saya masih 20-an, saya sudah merasakan bagaimana pinggang saya rasanya mau patah (hiperbola :-P) tiap kali selesai bekerja.  Setahun-dua tahun saya bekerja sebagai operator saya jadi semakin banyak berpikir. Jika diusia muda saja saya sudah sedemikian capek, bagaimana jika kelak diusia tua saya masih terus bekerja dengan tenaga seperti itu?

vavai-ilustrasi-insightPemikiran seperti ini yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk kuliah sambil kerja di tahun 1996. Tambah capek, iya, karena siang kuliah dan malam bekerja atau sebaliknya (karena saya bekerja shift). Meski tambah capek, keputusan saya mengambil kuliah untuk meningkatkan kualitas kehidupan memberikan hasil yang baik sesuai dengan apa yang saya rencanakan. Minimal saya bisa pindah kerja, ke tempat yang baru sesuai dengan latar belakang pendidikan kuliah yang saya jalani. Saya bisa bekerja memanfaatkan keahlian, tidak sekedar menggunakan tenaga robot seperti sebelumnya.

Ketika mengambil keputusan untuk resign dari kantor di tahun 2009, pertimbangan utama adalah karena saya terlalu lelah bekerja ulang-alik Bekasi Tanjung Priok. Sedemikian lelah baik fisik maupun psikologis, sampai-sampai saya bertanya, “Sampai kapan saya harus bekerja mengukur jalan? menghabiskan waktu diperjalanan berangkat mapun pulang kerja.”

Saat hendak resign, saya tidak memiliki masalah terhadap pekerjaan saya pribadi. Saya menyenangi pekerjaan saya. Namun manusia punya banyak keinginan dan juga punya banyak kebutuhan. Saat itu klien yang membutuhkan keahlian dan jasa saya dibidang setup server sudah mulai banyak. Training yang diselenggarakan setiap akhir pekan juga sudah memberikan buffer pendapatan yang cukup baik. Disisi lain, pendapatan dari gaji saya sebagai supervisor IT bisa dibilang selalu “ngepas setiap bulan”. Jika demikian halnya, sampai kapan saya bisa bertahan bekerja dan kapan waktunya saya bisa mencapai cita-cita yang saya inginkan.

Saya berhitung-hitung, dengan kenaikan gaji 30-50% saja, potensi pendapatan saya dari gaji masih belum sebanding dengan pendapatan saya diluar gaji. Belum sebanding dengan pendapatan rata-rata non gaji yang saya dapatkan dari pekerjaan setup server, mengajar training dan pendapatan online. Saya bahkan sudah membandingkannya dengan pendapatan rata-rata selama beberapa bulan, agar saya tidak terjebak pada trend sesaat, pada kesenangan mendapatkan penghasilan lebih besar dari gaji yang bisa saja hanya bisa saya dapatkan selama beberapa waktu saja.

vavai-ilustrasi-perhitunganDengan mempertimbangkan pada banyak hal : persiapan sebelum berhenti kerja, saya akhirnya memutuskan untuk resign di tahun 2010. Keputusan ini merupakan salah satu keputusan besar dalam hidup saya dan ternyata menjadi salah satu keputusan terbaik saya sampai dengan saat ini.

Jika kita bekerja, dimanapun dan dalam posisi apapun, cobalah tanyakan pada diri kita, “Apakah kita mau bekerja dalam posisi dan pekerjaan yang sama, bertahun-tahun lamanya?”.  Apakah ada peluang bagi kita untuk naik posisi, memperbaiki tingkat pendapatan dan kualitas kehidupan kita? Apakah tidak ada peluang untuk memperbaiki atau meningkatkan kehidupan kita ataukah kita yang terlalu abai pada masa depan dan pekerjaan kita?

Jangan terbuai pada kenyamanan semu. Jangan menutupi diri pada kenyataan. Kadang adakalanya kita (termasuk saya) berusaha meyakinkan diri bahwa segala pekerjaan dan kehidupan kita baik-baik saja, padahal didalamnya keropos, beresiko dan jika terjadi perubahan yang tidak diinginkan, kita bahkan belum sempat memikirkan antisipasinya.

Jangan sampai kita menyesali tahun-tahun yang telah berlalu. Jangan sampai kita menyesali eksekusi keputusan yang terlambat kita lakukan. Jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang diberikan. Jangan sampai kita menyesali pada kehidupan yang dijalankan. Jangan pernah menyesali kekurangan dan keterbatasan hidup.

Hidup kita milik kita, susah senang, kita juga yang menjalaninya.

Pin It

3 thoughts on “Sampai Kapan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*