Antara Keinginan dengan Kebutuhan

Catatan : Sumber gambar dari sini : http://wakpaper.com/id101810/red-tulip-flowers-field-wallpaper-and-photo-high-resolution-download-2560×1600-pixel.html

Semenjak sakit DBD, saya jadi banyak mikir jika hendak makan. Dulu juga suka mikir sih, cuma nggak sesering sekarang.

Kalau dulu makan itu seperti meracik bumbu-memenuhi lauk pauk menimbun nasi-sekarang saya membatasi lauk hanya satu atau 2 jenis saja. Kalau sudah ada sayur dengan ikan misalnya, ya cukup itu saja. Tidak ada bentrok lauk ikan dengan daging atau ayam. Mubazir dan sayang karena kadang jika tidak sempat dimakan nanti malah dibuang.

Saya pernah menulis (“Mau Sukses? Jangan Selalu Menuruti Setiap Keinginan!”) , dulu sewaktu masih kecil saya pernah berpikir, “Oh, enak ya jadi orang kaya dan punya banyak uang. Bisa makan apa saja yang diinginkan dan bisa makan sepuasnya”. Dulu sewaktu kecil, biasanya telur rebus merupakan salah satu makanan favorit karena hanya ada sebulan sekali, pas acara selamatan keluarga. Daging sapi atau ayam baru bisa dimakan agak leluasa saat lebaran saja. Itu sebabnya saya pernah berandai-andai mungkin suatu saat nanti bisa makan daging dan ayam sepuas-puasnya jika suatu waktu saya sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri.

vavai-insight

Ternyata ya ternyata, banyak hal itu hanya soal keinginan semata. Bukan kebutuhan. Sekuat-kuatnya perut manusia, berapa banyak sih makanan yang bisa masuk. Makan terlalu banyak juga bukannya enak, malah bikin eneg.

Sama halnya dengan waktu menjelang lebaran seperti sekarang. Dulu saya suka heran dengan orang yang bisa itikaf di masjid, padahal kan waktu menjelang lebaran adalah waktu-waktu sibuk mempersiapkan lebaran itu sendiri. Apa bisa konsentrasi di masjid kalau pas lagi banyak kebutuhan?

Ternyata itu karena saya saja yang dodol. Yang ibaratnya 99% masih memikirkan aspek duniawi. Ternyata banyak teman-teman yang itikaf di masjid karena ia memang sudah mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan. Jika THR sudah dibereskan, keperluan keluarga sudah dirapikan, urusan zakat dan lainnya juga sudah beres, tidak mudik dan juga tidak kemana-mana, lantas kenapa nggak mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat seperti itikaf di masjid.

Dari sisi istirahat jiwa dan raga, itikaf malah bagus karena pikiran yang biasanya dipenuhi bisnis harian bisa direhatkan. Pikiran bisa lebih tenang dan hasilnya positif bagi kesehatan jiwa maupun badan.

Tapiiii, ada tapinya juga. Itikaf yang merupakan kegiatan positif bisa juga jadi masalah kalau kita sendiri nggak mempersiapkannya dengan baik. Sebelum kita fokus pada hal-hal tertentu, sudah seyogyanya kita juga menyelesaikan hal-hal yang mungkin masih tersangkut dengan kita.

Kembali ke soal keinginan dan kebutuhan, memang sih pemikiran soal pemenuhan batas keinginan itu bisa dipikir setelah hal-hal normatif kita miliki atau kita capai. Maksudnya, saya mungkin nggak terlalu memikirkan baju baru selain karena sudah tua juga karena beli baju baru bukan lagi kebutuhan yang sulit dicapai. Masya iya kerja setahun nggak bisa beli baju baru minimal 1x selama lebaran. Disisi lain, saya juga nggak mau menganggap lebaran sebagai hari-hari biasa saja dalam arti, ah, nggak usah beli baju baru juga tidak apa-apa. Memang tidak apa-apa, tapi sebagai penghormatan untuk hari istimewa tidak ada salahnya juga memberikan special case pada saat lebaran.

Bagi yang membaca tulisan ini dan bingung memahami tulisan saya, nggak usah heran. Saya juga bingung kok apa yang saya tulis dari tadi, hehehe…

Pada prinsipnya, ternyata memenuhi keinginan sebatas kebutuhan enak-enak saja kok. Punya kesempatan bukan berarti kita tidak memiliki ruang dan keputusan untuk memberi batasan. Jika kita punya uang lebih, mungkin lebaran tahun ini bisa ditambahkan dengan kegiatan kunjungan ke tetangga yang mungkin lebih membutuhkan. Cukup kita saja yang tahu, kan kita niatnya bukan mau pameran. Kalau sekarang hanya sanggup membantu 1-2 tetangga, itu sudah lebih dari baik karena paling tidak kita sudah berbagi.

Niat berbagi yang datang dari ketulusan hati biasanya membuat hati kita lebih semarak. Jika semua kewajiban sudah kita penuhi, menambahkannya dengan kegiatan positif mungkin akan membuat ramadhan dan lebaran tahun ini lebih berkesan bagi kita.

Pin It

2 thoughts on “Antara Keinginan dengan Kebutuhan

  1. maaf mas, saya sering lihat mas vavai menggunakan gambar tapi tak menyertakan sumbernya. bukan apa-apa mas, hanya ingin menanyakan, apa gambar yang digunakan pada tulisan-tulisan di blog ini milik sendiri semua?

  2. Terima kasih atas sarannya mas Stwn, tidak semua gambar yang saya cantumkan adalah milik saya dan semestinya saya mencantumkan sumbernya termasuk hak kepemilikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*