Tips Wirausaha IT : Konversi Peluang & Proposal Menjadi Sebuah Project

Salah satu seni menjalankan wirausaha IT adalah seni mengubah peluang, proposal dan inquiry dari calon klien menjadi sebuah project. Percuma punya banyak peluang jika sekedar menjadi peluang belaka. Percuma mengirimkan sekian banyak proposal jika tak satupun yang berbuah menjadi project. Percuma juga memperbaiki kinerja, melakukan investasi dan merekrut sekian banyak sumber daya jika inquiry dari calon klien tidak ditindaklanjuti sebaik-baiknya.

Sebagai prolog, saya bicara disini bukan berarti saya sudah mampu mengatasi hal diatas semuanya. Posisi tulisan ini adalah sebagai catatan pengalaman dan pembelajaran saya, siapa tahu bermanfaat bagi rekan-rekan yang berniat melakukan wirausaha atau membangun perusahaan, apapun jenis dan lingkup bisnisnya.

Jika kita mau berusaha, peluang untuk menambah dan meningkatkan pendapatan usaha biasanya cukup banyak yang menghampiri kita. Peluang-peluang itu tentunya tidak serta merta menjadi sebuah project jika kita tidak mampu mengelolanya dengan baik. Ada beberapa hal yang berpengaruh pada jadi tidaknya sebuah peluang dan penawaran menjadi sebuah project, antara lain :

  1. Keterlambatan Respon. Jika kita tidak mampu memberikan respon secara cepat sesuai dengan batasan waktu normal (misalnya dalam kisaran beberapa menit/jam sejak inquiry dilakukan), pihak calon klien mungkin akan memiliki semangat dan asumsi yang kurang bagus. Baru minta penawaran saja sudah terlambat diproses, apalagi kalau sudah jadi klien dan punya masalah 😀
  2. Pemahaman Terhadap Masalah Klien. Adakalanya kita memperlakukan calon klien sebagai data statistik dalam arti bahwa jika kita mengirimkan proposal, sifatnya terlalu general atau malah tidak nyambung. Misalnya calon klien minta penawaran tentang A malah dikirimkan layanan B. Bisa juga calon klien meminta penjelasan namun malah disuruh buka website/link yang menjelaskan hal tersebut.
    `
    Jika kita memiliki penjelasan detail disalah satu halaman website yang kita miliki, kita boleh saja mengirimkan link-nya, namun sebaiknya juga sekaligus mengikutsertakan informasi yang ada di link tersebut. Kita tidak tahu apakah calon klien bisa mengakses link tersebut dengan baik atau tidak, karena bisa saja pihak calon klien disediakan akses email namun tidak diberikan akses internet atau justru internetnya sedang mengalami kendala
  3. Setiap Klien adalah Unik. Jangan menggeneralisir calon klien, apalagi menilai calon klien dari nama dan profile semata. Adakalanya calon klien menggunakan profile personal untuk meminta inquiry. Excellent sering menerima permintaan proposal dari alamat email pribadi meski peruntukannya ditujukan bagi perusahaan. Calon klien punya banyak alasan untuk itu. Bisa karena terbiasa pakai profile personal, atau inquiry-nya untuk keperluan personal atau juga untuk sekedar bertanya dan jika sudah direspon baru akan ditindaklanjuti
  4. Follow Up Proposal. Adakalanya calon klien tidak bisa langsung merespon proposal yang kita berikan dalam waktu singkat. Mereka butuh diskusi internal atau pengajuan ke atasan. Tidak ada salahnya kita memfollow up proposal yang sudah kita berikan. Saya biasanya melakukan follow up 1-2 minggu setelah memberikan proposal. Jika sampai dengan 3x konfirmasi (via email/telp) tidak ada respon yang memadai barulah saya berbesar hati 🙂 mungkin project tersebut tidak bisa difollow up.
  5. Update Proposal. Proposal bukan kitab suci yang tidak bisa diubah isinya. Tempatkanlah posisi kita sebagai pihak calon klien dan lakukan penilaian, apakah kita sudah cukup menerima informasi dari proposal atau tidak. Nilailah proposal itu dari sudut pandang calon klien, apakah jika kita menjadi calon klien kita merasa terbantu dalam menentukan keputusan dengan berpegang pada proposal yang diberikan?
    `
    Proposal seharusnya memuat penawaran dan benefit yang didapatkan oleh user, termasuk kemungkinan project timeline, investasi yang perlu dilakukan, persiapan yang perlu dijalankan dan resiko apa saja yang mungkin timbul. Jika calon klien menerima seluruh informasi yang ia perlukan, ia akan lebih mudah menentukan keputusannya

Jangan khawatir jika kesemuanya sudah dijalankan namun ternyata proposal belum juga berbuah menjadi sebuah project. Itu bisa berarti beberapa hal :

  • Proposal belum cukup baik. Lakukan review ulang apakah ada item-item yang perlu diperbaiki.
  • Penawaran kita belum mencukupi kebutuhan mereka. Misalnya harganya belum sesuai dengan ekspektasi mereka atau mereka memiliki penawaran yang jauh lebih menarik dari pihak lain
  • Project itu simply bukan rezeki kita. Mungkin hasilnya akan kurang baik jika kita yang mendapatkan project tersebut. Seperti kata Leo Tolstoy : “Tuhan Tahu tapi Ia Menunggu” 😛 .

Tetap semangat dan berpikir positif. Apa yang tidak membuat kita mati akan semakin menguatkan kita, caelah. Jika kita sudah berusaha sebaik-baiknya, kita tidak perlu menyesali hasil akhirnya.

Pin It

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*