Hujan Pembawa Kenangan

Kemarin sore, sepulangnya dari kegiatan pekerjaan dokumentasi sistem (saya mengerjakan pekerjaan dokumentasi sistem di salah satu rumah makan Sunda di Bekasi), saya terjebak hujan deras sehingga terpaksa mangkal kedua kalinya di rumah makan Ayam goreng Valentine di Jl. Kartini Bekasi.

Melihat hujan yang deras dan sepertinya akan semakin sering terjadi, saya jadi ingat pengalaman semasa masih bekerja di Tanjung Priok. Biasanya bulan-bulan Januari-Februari menjadi bulan perjuangan karena jalur yang saya lintasi cukup banyak yang menjadi langganan banjir. BTW, untuk rute perjalanan saya ke tempat kerja bisa dibaca di tulisan saya 1 tahun yang lalu 😉 Screenshot : Perjalanan Menuju Tempat Kerja

Jika saya membawa si Jupiter MX untuk berangkat dan pulang kerja, masalah saya jadi bertambah karena saya biasanya membawa laptop di tas kerja. Pikir saya, rasanya banyak juga staff-staff IT yang membawa laptop mereka sambil mengendarai sepeda motor.

Karena ukurannya cukup besar, laptop tersebut akan bikin sesak napas jika dipaksakan masuk kedalam jas hujan. Solusi amannya adalah menggunakan cover tas anti air (penutup tas yang bersifat waterproof). Sialnya adalah jika saya lupa membawanya, sehingga saya terpaksa meninggalkan laptop di laci meja kantor. Pilihan lain adalah membungkus laptop tersebut dengan berlapis-lapis plastik sehingga terlihat seperti pepesan.

Jika melintasi jalur Cakung-Cilincing, perjuangan menjadi bertambah berat karena truck container/trailer yang melintasi jalur tersebut (jalur Cakung-Cilincing alias jalan Cacing) semakin kalap melajukan kendaraannya saat hujan. Saya pernah sewot berat gara-gara terkena air hujan campur lumpur yang bercipratan terkena rodanya. Mau marah juga percuma, salah-salah malah bisa celaka. Jadi terpaksalah saya menggerutu sambil berdoa semoga si pengemudi lekas-lekas berjumpa dengan tuhannya (hehehe, nggak ding, saya cuma menggerutu saja kok) 😀

Membawa mobil kadang bisa menjadi solusi yang lebih elegan karena tidak perlu repot dengan kemungkinan laptop bash terkena air hujan, namun kadangkala bisa jadi lebih sial jika mobil sampai mogok karena mencoba melintasi genangan air yang kelewat tinggi.

Sekarang saya memang jarang membawa sepeda motor untuk bekerja karena memang tidak lagi bekerja ulang-alik seperti dulu. Bagi rekan-rekan yang masih sering ulang-alik dengan sepeda motor, selalu berhati-hati apalagi kalau sudah musim hujan seperti sekarang. Jika dalam perjalanan ada hujan ditengah jalan, segeralah menepi karena kan hujannya ditengah jalan, bukan ditepian, hehehe…

Pin It

3 thoughts on “Hujan Pembawa Kenangan

  1. Jadi terpaksalah saya menggerutu sambil berdoa semoga si pengemudi lekas-lekas berjumpa dengan tuhannya

    Maksudnya oom vavai itu, berjumpa tuhannya pada waktu shalat … ya kan oom ? 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*