5 Alasan Mengapa Staff IT Kurang Dihargai Staff Lain/Atasan Sendiri

Share

Sebagai salah satu posisi yang cukup penting di perusahaan, seorang staff IT biasanya memiliki posisi tawar yang cukup tinggi dibandingkan dengan staff lain. Hal ini bukan berarti staff-staff dari bagian lain kurang penting melainkan karena dalam beberapa hal, staff IT mengelola beberapa aturan yang digunakan oleh staff yang lain.

Meski secara posisi cukup penting, adakalanya kita menemukan staff IT yang kurang dihargai oleh rekan-rekan dari bagian yang lain, bahkan juga oleh atasannya sendiri. Saat menemani para peserta training di Excellent makan siang, ada beberapa staff IT yang bercerita bahwa ia kerap kesulitan jika mengajukan suatu permintaan pembelian hardware pada atasannya. Banyak yang mengalami kendala operasional sistem (server dijalankan di mesin jangkrik alias ecek-ecek, tidak ada mesin backup, spesifikasi komputer rendah dll) yang menurut mereka disebabkan oleh ketidakmauan perusahaan melakukan investasi dibidang IT.

Yang lebih parah, staff IT tidak dihargai oleh rekan dari bagian yang lain dan dianggap sebagai pelengkap saja. Bentuknya bisa dalam berbagai bentuk, mulai dari diminta melakukan berbagai pekerjaan remeh temeh hingga dimarahi karena menerapkan suatu aturan yang dianggap mengurangi kebebasan staff yang lain.

Contohnya aturan akses internet untuk staff tertentu saja, pemblokiran situs-situs yang dianggap tidak relevan, pembatasan download dan non aktif instant messenger, dianggap sebagai tindakan yang mengada-ada dan potensial membuat seorang staff IT dimusuhi oleh staff bagian yang lain.

Mengapa seorang staff IT bisa tidak dihargai oleh staff yang lain atau oleh atasannya sendiri? Jika anda merasa sebagai staff IT seperti ini dan ingin berontak dari pelecehan intelektual (caelah bahasanya), silakan melakukan introspeksi beberapa hal berikut, yang saya sarikan dari pengalaman pribadi dan observasi di beberapa klien perusahaan :

  1. Kemampuan Seorang Staff IT. Ini merupakan alasan utama mengapa seorang staff IT bisa tidak dihargai oleh staff lain atau oleh atasan sendiri. Ia memang punya pangkat sebagai staff IT namun kemampuan hanya rata-rata. Jika anda menjadi staff IT namun kemampuan tidak jauh berbeda dengan staff yang lain (apalagi kalau sampai kalah), tentu tidak mengherankan jika anda kurang dihargai.
    `
    Jika anda saja sebagai staff IT suka kebingungan menghadapi persoalan, bagaimana dengan staff lain yang menginginkan agar masalah IT-nya diselesaikan oleh anda. Sebagai atasan, apa gunanya punya staff IT kalau sebagian besar pekerjaan terpaksa harus dilakukan oleh atasan.
    `
    Jika kita merupakan staff IT baru, adakalanya beberapa staff dari bagian yang lain mengujicoba kemampuan kita. Kita harus mampu menunjukkan kualitas dan kemampuan kita agar tidak dilecehkan. Tentu saja upaya untuk menunjukkan kemampuan itu tidak dalam bentuk negatif melainkan dalam bentuk yang santun.
    `
    Jika dalam bisnis ada istilah Palugada (Apa Lu Cari Gue Ada), seorang staff IT juga sebaiknya memiliki moto PaluBisa (Apa yang Lu Tanya Gue Bisa :-P ). Hal ini bisa berjalan jika kita punya kemampuan yang dibangun baik dari pendidikan, training, workshop, belajar sendiri maupun melalui sumber bacaan dari buku dan internet
  2. Kemampuan Berkomunikasi dan Berdiplomasi. Maksud dari kemampuan diplomasi adalah kemampuan melakukan komunikasi antara seorang staff IT dengan atasannya maupun antara staff IT dengan rekan dari bagian lain.
    `
    Banyak keluhan dari seorang staff IT yang mengatakan bahwa atasannya kurang menghargai usulan yang ia berikan. Keluhan lain yang kerap timbul adalah adanya penolakan terhadap pengajuan pembelian barang, investasi atau yang lainnya.
    `
    Ada kemungkinan masalahnya bukan pada besar kecilnya biaya yang mungkin timbul melainkan karena salah persepsi akibat kekurangmampuan kita sebagai staff IT dalam menguraikan manfaat dan tujuan yang ingin kita capai.
    `
    Dalam kasus lain, hubungan staff IT dengan bagian lain menjadi kurang baik akibat ketidakmampuan seorang staff IT berkomunikasi dengan bagian lain, misalnya melakukan pengubahan suatu metode atau prosedur tanpa melakukan konfirmasi dengan bagian yang terkait. Hasilnya mungkin akan berbeda jika rencana pengubahan suatu prosedur dilakukan dengan konfirmasi dan komunikasi intens terlebih dahulu
  3. Tidak Konsisten pada Peraturan. Ada pameo, “peraturan dibuat untuk para staff, bukan untuk para sysadmin”. Artinya, peraturan pembatasan atau implementasi rule tertentu dilakukan untuk membatasi staff-staff lain sementara staff IT bisa melakukan by pass semua aturan.
    `
    Contoh paling mudah misalnya pembatasan akses internet dan download. Staff lain terseok-seok dalam mengakses bandwidth sementara para staff IT berpesta pora atas bandwidth tanpa batas yang ia terima. Jika aturan ini memang terkait dengan pekerjaan, staff lain mungkin masih bisa dimaklumi, meskipun penggunaannya jangan terlalu mencolok. Jika terlalu mencolok tentu akan mengganggu rasa keadilan bersama.
    `
    Saya pernah memiliki contoh kasus lain. Salah satu aturan di tempat kerja kami adalah bahwa akses internet bisa diberikan atas rekomendasi atasan level manajer. Jika manajer menyetujui suatu akses, saya bisa meminta staff IT bagian Help Desk/Support untuk mengaktifkan aksesnya.
    `
    Ternyata pada prakteknya, beberapa staff Accounting diberikan akses meski secara rule tidak diperbolehkan. Akibat diprotes oleh staff dari divisi lain (misalnya dari divisi Warehouse atau Purchasing yang kerap berhubungan dengan Accounting dan melihat mereka secara bebas dan mencolok mengakses internet), manajer Accounting meminta penjelasan pada saya mengapa mereka diberikan akses internet padahal baik si Manajer Accounting maupun saya sendiri belum pernah melakukan otorisasi.
    `
    Selidik punya selidik, ternyata akses itu diberikan oleh staff saya yang dibujuk rayu oleh staff bagian Accounting. Kebetulan staff saya masih muda dan bujangan, mereka luluh hatinya gara-gara dibujuk oleh staff-staff Accounting yang bersikap kenes dan manis saat mengajukan permintaan secara lisan. Ada-ada saja :-)
  4. Terburu-buru Mengambil Keputusan Strategis. Ini cerita dari staff-staff IT perusahaan yang mengikuti training Linux di tempat kami. Banyak dari mereka yang mengatakan bahwa banyak upaya migrasi sistem dari Windows ke Linux mengalami kegagalan di tempat mereka. Saat saya tanya bagaimana kok bisa gagal, mereka sampaikan bahwa proses migrasi dilakukan oleh staff IT atas pertimbangan moralitas dan idealisme, “Sebaiknya perusahaan jangan pakai produk bajakan”.
    `
    Pada implementasinya, keputusan seperti ini kerap hanya ditentukan oleh bagian IT tanpa dipayungi dengan Surat Keputusan (SK) dari level manajemen maupun dari direksi. Karena merasa pekerjaan jadi terganggu, upaya ini justru menuai protes dan akhirnya dihentikan oleh manajemen. Akibatnya sungguh fatal. Niat baik IT jadi bumerang, upaya implementasi diwaktu lain akan jauh lebih sulit karena pernah ada kejadian pahit kegagalan implementasi sebelumnya.
    `
    Niat baik, idealisme dan moralitas saja tidak cukup untuk melakukan implementasi suatu kebijakan, meski itu benar-benar ditujukan untuk kepentingan perusahaan/lembaga/instansi. Alangkah baiknya jika upaya implementasi sistem apapun direncanakan baik-baik. Tidak usah terburu-buru.
    `
    Proses bisa dimulai dengan diskusi  di level manajemen, dipayungi dengan aturan perusahaan dan mendapat persetujuan berupa SK dari direksi/manajemen disusul dengan  memberikan pelatihan, sosialisasi dan diikuti proses testing baru kemudian melakukan implementasi secara bertahap.
  5. Tidak Punya Perencanaan dan Kerangka Kerja.Seorang staff-apapun divisi dan bagiannya-yang ingin mengembangkan karir semestinya memiliki kemampuan ini. Membuat perencanaan dan kerangka kerja itu tidak mudah jika tidak dibiasakan, namun jika sudah terbiasa, hal ini akan banyak membantu analisa suatu pekerjaan sebelum masuk ke tahapan implementasi.
    `
    Perencanaan dan kerangka kerja juga sangat baik untuk dijadikan sebagai pertimbangan dalam menentukan estimasi waktu pelaksanaan, memilih prioritas yang hendak diambil dan memperkirakan kemungkinan hambatan yang timbul.
    `
    Jika anda punya usulan suatu perbaikan, alangkah baiknya jika tidak langsung dibicarakan secara lisan pada atasan maupun pada manajemen. Sebaiknya buatkan semacam makalah yang menguraikan latar belakang upaya perbaikan yang kita lakukan, kondisi saat ini, kondisi yang diinginkan, keuntungan yang bisa dicapai dan dilengkapi dengan tabel dan grafik yang menarik.
    `
    Atasan/manajemen akan lebih mudah menerima dan memahami usulan kita, kitapun mudah memberikan uraian penjelasan atas ide yang kita ajukan

Tulisan diatas memang saya sarikan dari pengalaman pribadi selama bekerja sebagai staff IT kemudian mendapat promosi ke level yang lebih tinggi dan memiliki beberapa staff, karenanya memuat pengalaman saya baik sebagai bawahan maupun sebagai atasan (meski dengan staff yang tidak terlampau banyak).

Jika ada beberapa uraian diatas yang dianggap kurang berkenan mohon jangan diambil hati. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa alasan diatas selalu pasti benar, karena saya juga punya banyak problem, hehehe… Saya pribadi berpendapat, jika kita bekerja sebagai staff IT dan ingin mengembangkan karir  ke arah yang lebih baik, sudah selayaknya kita melakukan review atas pekerjaan dan kebiasaan yang kita lakukan. Jangan putus asa jika belum dapat mencapai apa-apa yang dicita-citakan.

Jalannya berkelok dan mendaki
Siapa menanti tak pernah kutahu
Sunyiku pun kekal: menjajah diri
Dan angin pun gelisah menderu

Ah, ingin aku istirahat dari mimpi
Namun selalu kudengar ia menyeru
Tentang jejak di tanah berdebu
Diam-diam aku pun berangkat pergi

[Toto ST Radik-Balada Si Roy]

Masim Vavai Sugianto, Tinggal di Bekasi, Bekerja sebagai wirausahawan/Konsultan IT. Penganjur penggunaan sistem Linux dan aplikasi Open Source. Hobby Membaca, Hiking dan Avonturir. Mengembangkan PT. Excellent Infotama Kreasindo sebagai lembaga training dan IT consulting.
Masim Vavai Sugianto

Artikel Terkait

  • Persetan dengan Ijazah?
    Ada email di salah satu milis pengusaha yang saya ikuti dengan subject : "Persetan dengan Ijazah". Isinya adalah ungkapan rasa kecewa pada situasi umum di Indonesia yang mendewakan ijazah dibandingkan...
  • Makanan Berlebihan Kala Ramadhan
    Salah satu hal yang kadang membuat saya menyesal di bulan Ramadhan adalah melihat makanan yang berlebihan : makanan yang dibeli atau dimasak namun tidak sempat dimakan. Mungkin karena waktu makan yang...
  • Tulisan-Tulisan Lama yang [mungkin] Menginspirasi
    Kemarin, saat sedang melakukan pendampingan implementasi dan migrasi sistem di salah satu klien di daerah Pejompongan Jakarta Pusat, saya sempat browsing ke beberapa artikel lama saya, yang saya tulis...
  • Banyak Usulan, Siapa yang Menjalankannya?
    Akhir pekan kemarin saya membaca usulan dari member milis Excellent Infotama Kreasindo yang sebagian besar merupakan alumni training di Excellent. Isinya adalah agar semua artikel, tutorial dan solusi...
  • Tips Wirausaha IT : Variasi Layanan dalam Proposal ke Klien
    Salah satu hal yang sulit dalam memberikan penawaran proposal ke pihak klien adalah menentukan harga yang pas. Pas buat si klien maupun pas untuk kebutuhan kita. Jika tidak hati-hati, harga yang ki...

Masukkan alamat email pada form dibawah ini untuk menerima update mengenai artikel, tutorial atau tips terbaru dari website ini:

Delivered by FeedBurner

20 Responses for “5 Alasan Mengapa Staff IT Kurang Dihargai Staff Lain/Atasan Sendiri”

  1. patah says:

    di t4 saya kerja spek kompi nya juga masih rendah, masih celeron, hardisk 10 GB aja ada, tp ya dimanfaatkan aja, bisa dijadikan buat server (bandwidth manager dan proxy aja tapi, biar ga rebutan) yang penting dapat ilmu dan mengaplikasi kan nya

  2. Betul, jadi sebagai pekerja IT, kita harus selalu meningkatkan kemampuan,, setuju…

  3. jarwadi says:

    Menurutku sih yang paling menohok yang poin ke 5. Pengalaman saya, pada awalnya staff /orang IT sangat dihormati karena dianggap pinter dan bisa diharapkan banyak membantu menyelesaikan banyak persoalan.

    Ketika kemudian dia tidak punya perencanaan strategis dan kerangka kerja yang sistematis, maka IT tidak akan membawa kemana – mana dan hanya memboroskan anggaran.

    Dari situ saya pikir sinisme terhadap orang IT mulai

    salam

  4. Affan says:

    Menurut saya, yg awal harus dipegang oleh orang IT yg kerja di perusahaan: ketahui core business perusahaan anda. IT itu cuma support dari core business anda, kecuali memang perusahaan itu adalah perusahaan IT. Jadinya orang perusahaan cuma care ke IT kalau IT itu bisa support core business tadi agar:
    - cost effective
    - create new opportunity
    - shorten delivery time
    Kalau nggak punya pikiran seperti itu, IT tidak akan dianggap, lebih buruknya dianggap sebagai pengacau :D Nice sharing mas.

  5. c1p1 says:

    sepaham dengan Pak Affan…, sedikit demi sedikit mengimplementasikan bagian IT kedalamnya, sehingga lambat laun akan disadari bahwa bagian IT merupakan salah satu akar yang tidak bisa dilepaskan dari perusahaan.. :)

    artikelnya bagus pak.. keren..sangat memotivasi… :)

  6. upay says:

    curhatan pacar daku banget di perusahaan dia hahah thx gan

  7. Raden says:

    Bos, ane setuju yang ini :
    “Selidik punya selidik, ternyata akses itu diberikan oleh staff saya yang dibujuk rayu oleh staff bagian Accounting. Kebetulan staff saya masih muda dan bujangan, mereka luluh hatinya gara-gara dibujuk oleh staff-staff Accounting yang bersikap kenes dan manis saat mengajukan permintaan “

  8. abudzaki says:

    saya setuju dengan 5 alasan diatas dan bisa buat Introfeksi bagi siapa saja, tapi yang perlu dan harus di Perhatikan juga bagi seorang sys admin, jangan cuman JARKONI (…….. Ngelakoni) dia/ management yg buat kebijakan untuk tidak bisa akses jejaring sosial seperti: FB, etc, eh malah dia asik keasikan FB an.

  9. [...] cara meningkatkan pengetahuan dan pengalaman? Saya sudah menuliskan 5 tips untuk mengatasi hal-hal yang umum yang biasanya terjadi pada staff IT di perusahaan. Meningkatkan kemampuan misalnya, bisa dipupuk melalui training (bukan ngiklan lho ), mengikuti [...]

  10. nice mas, analisa yang baik ;)

  11. dwi says:

    pak…ijin copy untuk sy jadikan sumber informasi…sama ijin boleh tdk artikel ini dipersebarluaskan…

    trmksh….

  12. sibotak says:

    pengalaman sy mas memang perencanaan dan kerangka kerja di suatu perusahaan tdk mudah karna tak biasa.. lbh menarik “luluh hatinya gara-gara dibujuk oleh staff-staff Accounting yang bersikap kenes dan manis saat mengajukan permintaan”

  13. wandi says:

    Ya.begitulah bila menjadi staff IT.:(

  14. idm says:

    saya setuju :
    1.Harga menghargai itu sangat penting
    2.Kualitas juga menentukan atas kerja
    3.Kita musti haus terhadap perkembangan IPTEK

  15. K2L says:

    Kuasai tugas pokok dan fungsi kita di tempat kerja
    IT staff adalh problem solver di bidang pekerjaan ya
    Buka wawasan upgrade kompetensi kita (staff it) dengan training , dari internet , buku atau bla bla .
    Cam kan ke management Dengan IT dan departemen lain bahwa kerja akan lebih cepat ,, lebih mudah dengan mengaplikasikan IT sesuai kebutuhan DAN INGAT LEBIH EFISIEN .
    Terapkan IT di di tempat kerja sesuai dengan kebutuhan , dgn penerapan IT hati hati ada pegawai yg pendapatnya berkurang .
    Kerja dgn IT kagak perlu Hardware yg State of art , gunakan apa yg ada tapi tetep jalan

  16. KODOK.782 says:

    Wah pa… di tempat saya juga IT ga dihargai (ya ada sih – sedikit). Perusahaan tempat saya kerja pabrik textile, IT cuma ada 5 orang teknikal support, 1 programmer, 1 kepala, menangani 1 pabrik besar. IT ga boleh nambah karyawan lagi, tapi bagian lain masukin karyawan terus.

    Kemaren2 kita di audit masalah software bajakan, setelah diaudit, pihak manajemen rapat ngomongin pembelian lisensi. Baru deh gw sadar kenapa selama ini IT selalu dikasih kartu kuning (baca : omelan) kalo beli peralatan/servis/sparepart. Ternyata IT CUMA COST di perusahaan.

    Kurang lebih gini ngomongnya :
    “nih kalo saya beli mesin, beli benang, kan keliatan barangnya. Beli benang, dirajut bisa jadi kaen, bisa jadi uang. Beli mesin bisa ngerajut banyak, bisa celup lebih banyak, bisa ngasilin uang banyak. Nah ini beli program cuma jadi selembar kertas aja, dijual jg ga bisa, buang2 uang aja”

    jadi… IT ga dihargain bukan murni karena kesalahan orang2 IT nya aja, tapi pola pikir atasan jg mempengaruhi. Mending kalo atassannya masih muda n berpikiran terbuka, lah ini udah tua, susah denger masukan dari bawahan.

  17. Haze says:

    Salam kenal semuanya..

    Ternyata masalah yang saya alami tidaklah jauh berbeda dengan
    rekan2 sekalian. Tempat saya bekerja sebelumnya bergerak di
    bidang properti.

    Mungkin agak berbeda dengan KODOK.782,
    karena atasan saya masih terbilang muda.
    Namun, masalahnya secara hirarki, disini departemen IT nya
    bernaung langsung di bawah departemen Finance & Accounting.

    Server ada dua, udah kayak pasangan suami-istri aja.
    Keduanya dipertahankan sampai usia lanjut.
    Dua-duanya sama-sama lemot bin dodol.
    Client pun mengeluh dan mengajukan komplain.

    Namun ketika diajukan penawaran untuk server yang baru,
    matanya langsung pada membelalak melihat harga.
    Lha, itu server udah dari jaman nabi adam,
    Kalau bisa, pasti saya langsung upgrade.
    Tapi vendornya pun menggerutu karena udah discontinue.

    IT Consultant yang sebelumnya bekerjasama,
    sudah memutuskan kontrak sebelum proyek selesai.
    Mungkin proses pembayarannya tak sesuai dengan perjanjian.
    Programmer nya pun beberapa bulan langsung melarikan diri.
    Sedangkan saya, menunggu hingga kontrak kerja selesai.

  18. [...] miliki akan semakin terkikis. Jika pengetahuan seorang staff IT relatif statis dan tidak bertambah, perusahaan juga tidak akan terlalu menghargainya. Hal ini sebenarnya sesuatu yang normatif, jika pengetahuan yang dimiliki merupakan pengetahuan [...]

  19. Mas Blh Kah Desain Sistem Penjualan itu Apa? kta bisa Desaing dengan power desain. data flow chartx mas bantu dlu iaa.

  20. raury says:

    papa saya konsisten kok kerja nya,dia juga mentaati peraturan,tapi belum saja diangkat staf

Leave a Reply

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.

Link

Switch to our mobile site

Log in - BlogNews Theme by Gabfire themes