Tips Wirausaha Pribadi : Perbedaan Antara Hemat dan Pelit

Ada seorang rekan wirausahawan mengirimkan email ke mailing list TDA (Komunitas Tangan Diatas) Bekasi dan mengeluh karena website usahanya yang memiliki domain .co.cc hilang dari peredaran. Akhir Juni 2011 kemarin Google memang membabat habis domain .co.cc dan melakukan banned/Google Sandbox secara massal untuk semua domain .co.cc. Domain usaha rekan tersebut merupakan salah satu korban banned massal yang dilakukan oleh Google.

Dari sisi mental usaha, penggunaan domain gratisan .co.cc memang patut disayangkan. Bukan sekedar masalah gratisnya melainkan masalah resikonya. Bayangkan jika anda sudah mempermak habis website beralamatkan .co.cc, mengumpulkan pengunjung selama berbulan-bulan dan melakukan berbagai improvement yang musnah dalam sekejap dibasmi Google karena domain induk .co.cc ditengarai sebagai sarang spam.

Sebagai pengguna layanan gratisan, kita memiliki posisi tawar yang rendah jika menghadapi masalah seperti ini. Kalau pepatah bilang, “Murah kok njaluk Slamet”. Murah kok cari selamat, hehehe..

Mengapa saya menyayangkan penggunaan domain gratisan, ada beberapa alasan yang melatar belakanginya, antara lain :

  1. Resiko Besar. Menggunakan domain dan hosting gratisan beresiko bagi bisnis karena namanya gratisan kita harus ikut kebijakan dari pihak penyedia layanan
  2. Tidak Fleksibel. Namanya gratisan, fleksibilitas untuk mengatur segala sesuatu akan dibatasi sesuai kebijakan penyedia layanan
  3. Hemat Salah Tempat. Jika digunakan untuk sekedar testing atau keperluan temporer, penggunaan domain dan hosting gratisan tentu sah-sah saja. Masalahnya jadi berbeda kalau kita menggunakannya untuk usaha yang menghasilkan profit. Bayangkan, layanan domain berbayar setahun hanya  sekitar Rp. 100 ribu  ditambah hosting bisa didapat dengan biaya kurang dari 500 ribu per tahun. Masya kita tidak berani melakukan investasi yang pasti bisa break even point tidak terlalu lama??

Hemat boleh-boleh saja, namun mestinya dibatasi untuk hal-hal yang sifatnya memang perlu dihemat. Penggunaan kertas, tinta dll bisa kita hemat namun untuk keperluan yang merupakan fasilitas dasar mestinya kita memandangnya sebagai investasi yang akan kembali dalam bentuk profit, bukan sebagai pemborosan. Hemat salah tempat justru membuat kita jadi pelit, yang justru sulit mengeluarkan uang meski untuk keperluan sebagaimana mestinya.

Saya pribadi bukan hanya menggunakan domain dan hosting melainkan juga template berbayar. Bukan karena kelebihan uang melainkan karena saya menganggapnya pantas untuk dikeluarkan dan yakin  dapat break event point (BEP) untuk menutup biaya tersebut yang berasal dari pendapatan yang saya hasilkan melalui blog.

Saat pertama kali melakukan monetisasi blog, target utama saya adalah untuk membayar langganan domain dan hosting selama 1 tahun. Setelah beberapa waktu, ternyata pendapatan dari website/blog saya bukan hanya mampu membiayai domain dan hosting melainkan juga membiayai akses internet setiap bulannya.

Dalam konteks lain, saya pernah menghabiskan uang 500 ribu untuk membeli buku, nilai yang cukup besar bagi saya pribadi. Seorang teman pernah berkata bahwa ia rasanya tidak mungkin mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk membeli buku. Saya sampaikan padanya bahwa pembelian buku yang saya lakukan merupakan investasi. Selain karena hobby, buku yang saya beli itu mendukung pekerjaan yang saya lakukan. Saya bisa menutup biaya membeli buku dari pekerjaan yang saya lakukan tersebut.

Jadi jangan pelit melakukan investasi yang sudah kita pikirkan dan pertimbangkan, apalagi jika investasi tersebut dapat kita kembalikan dalam rentang waktu yang  memungkinkan dan investasi tersebut akan memacu perkembangan usaha kita.

Pin It

11 thoughts on “Tips Wirausaha Pribadi : Perbedaan Antara Hemat dan Pelit

  1. Pingback: Konfigurasi Mail Client Zimbra dengan SMTP Authentication untuk Akses Melalui Jaringan Publik-Bagian 1 | Migrasi Windows Linux

  2. @Syach Ilham,
    Kalau masih aktif sih (dalam arti, biasa dibaca feed-nya) nggak apa-apa, namun kalau si Google habis-habisan membenci .co.cc sebaiknya menyiapkan ulang website baru.

    Lebih baik kerja dari awal daripada kerja sia-sia 🙂

  3. Benar sekali, Mas..

    Sering kejadian pada teman-teman blogger. Disaat traffic domain co.cc nya sudah ramai, sub domainnya gak bisa diperpanjang dan dijual sama pengelola. Apakah Pengelola itu salah? tentu tidak.. Karena itu adalah hak mereka. Apakah tidak sayang jika kita mengalami hal serupa?

    Saya tidak pernah menggunakan Hosting yang Gratis. Untuk sub Domain co.cc memang pernah, namun itu hanya untuk latihan saja.. 😀

    Sekarang? Semua domain dan Hosting saya bukanlah yang murahan lagi.. Apakah saya sombong? Bukan, karena ini sudah memperhitungkan untuk BEP saya.. Lho, kok idem karo Mas Bro Vavai? Hahaha

  4. Makasih pencerahannya mas.

    Saya pakai blog berbayar dan gratisan dengan berbagai alasan.
    Alasan memakai blog berbayar sudah mas Vavai ceritakan.
    Alasan memakai domain co.cc juga sudah sedikit disinggung, yaitu untuk belajar saja

    Alasan memakai blog gratisan ya jelas dari sisi keamanan lebih nyaman, sudah ada banyak insinyur yang njagain dari virus dan gangguan lain, hehehe…

    Salam sehati

  5. Betul sekali, saya juga sudah merasakan bagaimana pahitnya menggunakan hosting yang gratisan serta layanan blog yang gratis.

    Blog yang sudah saya update bertahun2 ilang dalam sekejap tanpa saya sempat melakukan backup.

    Sekarang semua website dan blog saya sudah pake yang bayar, tidak sekali kali lagi pake yang gratisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*