Wirausahawan IT dan Rutinitas Keseharian : Rutinitas Transportasi

Melanjutkan cerita sebelumnya mengenai keseharian seorang wirausahawan pemula dibidang IT, terutama lingkup pekerjaan konsultan, kali ini saya cerita soal keseharian dalam hal penggunaan moda transportasi.

Sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan penggunaan alat transportasi antara pekerja kantoran dengan seorang wirausahawan. Perbedaan terbesar adalah dari sisi fleksibilitas.

Mengingat waktu kerja yang lebih beragam, seorang wirausahawan bisa lebih mudah menentukan alat transportasi yang akan digunakan.

Pilihan utama memang kendaraan sendiri, baik mobil ataupun sepeda motor. Hanya saja saya biasanya malah jarang menggunakan keduanya. Taksi adalah pilihan utama. Saya kerap memilih angkutan umum public seperti bus patas AC sampai suatu lokasi tertentu, baru kemudian menyambungnya dengan taksi.

Misalnya jika saya ke klien di daerah Tangerang, saya biasanya naik bus Agra Mas Bekasi-Tangerang sampai di lokasi tertentu, misalnya daerah BSD atau Kebon Nanas baru kemudian melanjutkannya ke lokasi klien dengan Taksi. Jika klien ada di daerah Sudirman, saya berangkat via Patas AC-05 dari Bekasi dan turun di Komdak atau di daerah Ratu Plaza. Jika klien ada di daerah Proklamasi Jakarta Pusat, saya naik bus ke Senen atau ke Pasar Baru dan kemudian melanjutkan perjalanan ke lokasi dengan taksi.

Pilihan ini menjadi pilihan utama jika range waktu pertemuan di kantor klien cukup waktunya. Biasanya untuk daerah Jakarta, Tangerang dan Bogor waktu perjanjian adalah pukul 10 WIB dan saya berangkat dari Bekasi sekitar pukul 7 WIB. Jika tidak ada hal yang luar biasa, biasanya saya sampai di kantor klien sekitar pukul 9 WIB. Masih ada waktu untuk mempersiapkan diri.

Tantangan terbesar dari pilihan ini adalah cara pandang. Mobil bagi sebagian kalangan di Indonesia masih dianggap sebagai simbol kemewahan, bukan sekedar alat transportasi semata. Kalau seorang konsultan datang dan pergi menggunakan alat transportasi publik ada kemungkinan dianggap kurang bonafid. Dianggap konsultan kere dan bisa mengurangi performance dimata klien 🙂

Padahal cara diatas bukan sekedar upaya penghematan semata yang saya tempuh. Jika saya mengendarai kendaraan sendiri, saya tidak memiliki waktu untuk membaca buku atau mengerjakan pekerjaan lainnya. Belum lagi jika terkena macet yang merupakan keseharian umum di Jakarta. Naik kendaraan umum memang sama-sama terkena macet namun saya bisa menyiasatinya dengan mengerjakan pekerjaan lain misalnya menulis artikel seperti sekarang ini 😀

Dalam buku “The Lenovo Affair”, para petinggi Lenovo kerap berhemat dengan cara persis seperti diatas. Datang ke suatu pertemuan naik angkutan umum, berhenti tidak terlalu jauh dari tujuan dan kemudian naik taksi agar tidak terlalu kentara ciri tidak bermodalnya, hehehe… Sebagai sebuah perusahaan China yang dibangun dari bawah, Lenovo cukup mengegerkan dunia saat mengakuisisi divisi PC dari IBM, salah satu perusahaan tertua dibidang komputer.

Moda transportasi lainnya yang saya sukai adalah kereta api, seperti yang selama 2 minggu ini saya jalankan karena kantor klien ada di dekat stasiun Gambir. Cepat, mudah dan murah. Dalam kondisi normal, Bekasi-Gambir hanya butuh waktu 30-40 menit. Karcisnya hanya Rp. 9.000,- untuk kereta api Bekasi Express.

Moda transportasi travel biasanya saya pilih jika hendak keluar kota, paling sering jika saya berkunjung ke kantor klien di Bandung. Meski demikian, saya lebih cenderung memilih bus untuk pulang meski waktu tempuhnya lebih lama. Bus memiliki keunggulan karena selalu ada setiap saat (kecuali larut malam) dan jalannya lebih santai, tidak ngebut seperti mobil travel city shuttle.

Dari sisi konsultasi bisnis, biaya transport harus selalu diperhitungkan jika kita memberikan penawaran kepada pihak klien. Jika tidak, jangan-jangan nilai biaya implementasi akan tergerus oleh biaya transportasi, apalagi jika transportasi memerlukan biaya yang cukup besar seperti biaya tiket pesawat. Beberapa klien memang memberikan pilihan bahwa biaya transportasi dan akomodasi akan mereka tanggung namun kita sebaiknya selalu menyertakan point ini agar tidak terlupa. Soal disediakan pihak klien atau secara reimburse tidak menjadi masalah.

Meski nilainya relatif kecil, kita juga harus memperhitungkan biaya transportasi di lingkungan Jabodetabek sekalipun. Hal ini penting terutama jika kita memberikan masa garansi dimana biaya transportasi sudah masuk kedalam proposal awal.

Apapun pilihan transportasi yang digunakan, selalu utamakan kepentingan klien jangan sampai niat berhemat malah telat berjam-jam saat memenuhi undangan pertemuan dengan pihak klien.

Pin It

2 thoughts on “Wirausahawan IT dan Rutinitas Keseharian : Rutinitas Transportasi

  1. Setuju Om Vavai, karena kondisi jalan yang sulit ditebak, baik kemacetan ato faktor cuaca..
    Lebih nyaman bila pake kendaraan umum , selaras dengan ternd IT sekarang orang banyak ngomongin Cloud Computing.
    Untuk transportasi kita juga Cloud juga menjadi pilihan…:D

    Salam Sukses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*