Reuni Akbar SMPN 1 Tambun-Bekasi

Bagi rekan-rekan alumni SMPN 1 Tambun-Bekasi, akan ada reuni akbar dari angkatan tahun 1960-2005. Reuni ini rencananya akan diadakan pada hari Minggu tanggal 4 Juli 2010. Keterangan lengkap mengenai rencana dan diskusi reuni ini bisa dibaca pada Facebook group : Reuni Akbar SMPN 1 Tambun, Alumni 1960-2005.

Saya pribadi merupakan alumni SMPN 1 Tambun-Bekasi tahun 1992. Masuk di kelas 1A tahun 1989, kemudian kelas 2H dan 3 G sebelum akhirnya lulus di tahun 1992 dan melanjutkan sekolah ke SMAN 2 Bekasi Tapper 1 Belstad.

Tahun 1989 Tambun masih merupakan kota kecamatan yang relatif sepi. Macet masih merupakan barang langka. Saya sering berangkat dan pulang sekolah menggunakan sepeda menempuh jarak sekitar 7 KM. Naik sepeda justru lebih menyenangkan daripada naik angkutan karena tidak usah menunggu penumpangnya penuh. Bersepeda berdua menggunakan jalu (injakan kaki di bagian belakang sepeda) merupakan hal yang biasa.

Di SMPN 1 Tambun saya sempat menjadi Pemred Mading, sempat pula dipanggil pembina OSIS karena mempublikasikan artikel yang memuat kritik keras pada guru yang terlambat datang atau terlambat mengajar. Pengalaman sebagai pemred mading sangat bermanfaat bagi saya dalam pekerjaan maupun hobby yang saya tekuni. Saya bisa belajar cara membuat artikel yang menarik, mempublikasikan suatu laporan, membuat cerpen, cerita dll. Nama Muhammad Rivai muncul saat saya menjadi Pemred mading di SMPN 1 Tambun.

Saya tidak tahu seberapa banyak rekan-rekan satu angkatan yang saya kenal jika bertemu saat ini. Beberapa diantaranya memang saya ingat dengan baik karena ada lintasan peristiwa yang berkaitan dengan saya, namun untuk yang lain mungkin saya lamat-lamat mengingatnya. Bagaimanapun, 18 tahun telah berlalu sejak saya lulus SMPN 1 Tambun, bentuk wajah dan sikap juga mungkin sudah berbeda. Yang dulu kurus sekarang sudah jadi gemuk. Yang dulu kurang menarik 😛 sekarang jadi cantik jelita. Yang dulu ganteng, sekarang tambah ganteng 😀 dll.

Oh ya, ada pengalaman lucu dan konyol yang pernah saya alami di SMPN 1 Tambun. Saat itu saya kelas 3G. Ketua kelasnya adalah sesosok preman, kalau tidak salah namanya Abu. Dia satu angkatan dengan kakak saya dan pernah tinggal kelas. Meski kelihatan sebagai preman, dia baik pada teman-teman 1 kelasnya. Untuk mengubah perilakunya, wali kelas dan teman-teman satu kelas bersepakat menunjuknya sebagai ketua kelas agar ia memiliki tanggung jawab yang besar.

Satu waktu kelas kami kebagian tugas menjadi petugas upacara bendera Senin pagi. Petugas upacara bendera ini biasanya dilakukan secara bergilir oleh masing-masing kelas. Teman-teman sudah diset untuk bertugas pada bagian tertentu dan Abu diset sebagai komandan upacara. Posisi komandan upacara ini termasuk posisi paling penting, karena jarang ada rekan-rekan yang berani menjadi komandan upacara.

Saat Abu ditunjuk, entah mengapa saya punya firasat ia bakal tidak datang. Ia memang menerima penunjukkan itu, tapi ia kelihatan tidak terlalu happy. Tanggung jawab sebagai komandan upacara terlalu besar sehingga ia kelihatan nervous dan gugup meski ia kelihatan baik-baik saja.

Benar saja, Senin pagi kami (satu kelas) kalang kabut karena Abu tidak masuk sekolah. Anak-anak mencaci makinya tapi apa mau dikata, ia tidak datang. Tak ada rekan-rekan yang mau menjadi komandan upacara dan resikonya, kelas kami akan dihukum berjemur karena gagal menyelenggarakan upacara bendera.

Dalam suasana kritis itu saya mengajukan diri jadi komandan upacara. Rekan-rekan heran dengan keberanian saya, meski disisi lain mereka senang karena ada yang mengambil tanggung jawab itu dan kelas kami terhindar dari hukuman. Buat saya pribadi, keputusan saya tidak mengherankan. Saya sudah siap menjadi komandan upacara sejak pekan sebelumnya, saat saya melihat Abu tidak terlalu happy ditunjuk menjadi komandan upacara.

Hanya saja, ada masalah kecil. Hari Senin itu saya memulas rambut saya dengan pomade sehingga bentuknya kaku dan sayang jika topi saya harus merusak bentuk rambut yang sudah saya sisir rapi (jadi ganteng atau tidak, wallahu alam, kayaknya sih begitu-begitu saja, hehehe…). Agar tidak merusak bentuk rambut, saya hanya sekedar menaruh topi diatas kepala saya, sesuatu yang menjadi bencana saat upacara dimulai.

Upacara dimulai, masing-masing komandan regu pasukan (masing-masing kelas) menyiapkan pasukannya, disusul dengan ucapan lantang, “Komandan upacara memasuki lapangan upacara, pasukan disiapkan”

Saya langsung bersiap. Berdasarkan kebiasaan, komandan upacara memasuki lapangan upacara dengan menghentakkan kaki kiri, kemudian berlari kedepan podium yang ada ditengah peserta upacara. Sayapun menghentakkan kaki dan berlari ketengah podium, dan… topi saya terbang dari kepala saya, diikuti tertawa terbahak-bahak peserta upacara yang melihatnya. Bayangkan, peserta upacara 1 sekolah tertawa serempak gara-gara topi yang terbang dari kepala saya saat saya berlari.

Saya berbalik, mengambil topi dan memberi kode pada MC untuk mengulang upacara. Anehnya (ini saya ingat sampai sekarang), saya tidak merasa malu, gugup atau nervous. Mungkin karena perasaan saya mengatakan, saya hanya seorang pengganti dan saya tidak perlu malu hanya gara-gara topi terbang.

Saat MC mempersilakan komandan upacara memasuki lapangan upacara, saya membenamkan topi ke kepala saya, persetan dengan bentuk rambut yang sudah saya tata dengan pomade baik-baik. Saya tidak mau kejadian topi terbang terulang.

Kali ini tugas saya sukses. Saya tiba di depan podium ditengah peserta upacara dengan selamat. Saya berbalik menghadap komandan regu dan berkata lantang, “Komando saya ambil alih. Komandan pasukan dapat kembali ke pasukannya masing-masing. Laksanakan !”.

Saat itu saya membayangkan sosok saya sebagai komandan upacara militer seperti yang biasa dilihat di TV saat upacara hari Kemerdekaan 17 Agustus. Tugas saya bisa saya jalankan secara sukses. Adalah kebetulan bahwa peserta upacara dibelakang saya adalah kelas dimana salah seorang gadis manis yang saya sukai (saat itu( berada, jadi saya bersikap tegak sempurna sehingga teman saya yang ada di depan nyeletuk, “Santai aza Vai, jangan kayak robot”, hehehe… Padahal saya juga santai kok, hanya saja tidak bisa sesantai rekan-rekan yang jadi peserta upacara.

Selesai upacara, pak Slamet Soeprijadi yang menjadi pembina OSIS turun menghampiri saya sebelum ia meninggalkan podium. Ia menyalami saya dan berucap, “Selamat ya, sukses!”. Ini belum pernah terjadi di upacara sebelumnya dan mungkin dilakukan oleh pak Slamet karena topi saya terbang sebelumnya. Saya mengapresiasi ucapan pak Slamet itu, suatu tindakan kecil, spontan namun berarti banyak buat saya untuk proses kehidupan yang saya jalani berikutnya. Terima kasih pak.

Itulah sekelumit cerita saat saya di SMPN 1 Tambun Bekasi tahun 1992. Cerita lain akan saya posting dilain kesempatan, misalnya saat saya harus mencuri bunga kembang sepatu untuk praktikum Biologi dan ternyata pemilik rumah bunga yang saya curi merupakan guru bahasa Inggris saya, atau kisah teman-teman yang BM (menumpang mobil tanpa bayar, biasanya mobil bak terbuka) dan ternyata mobil itu merupakan mobilnya pak Herman Satibi, kepala sekolah SMPN 1 Tambun 😛 atau kisah saat kami saling berkomunikasi via kode dengan anak-anak asrama putri pesantren Yapink (Yayasan Pendidikan Islam Nur El Kasyaf) yang lokasinya berseberangan dengan gedung SMPN 1 Tambun. Komunikasi via kode ini nantinya berlanjut dengan janjian saat upacara bersama di Stadion Mini Tambun atau saat kami ada acara bersama.

Link terkait : SMPN 1 Tambun-Bekasi di Facebook

Pin It

5 thoughts on “Reuni Akbar SMPN 1 Tambun-Bekasi

  1. Ha…ha…kocak abis…:-)

    Saya juga sering tuh pake jely rambut supaya bisa diatur, dan kesel banget karena pas pake pake helmnya sangat tidak nyaman, jadi pake helm cetok yang suka terbang gara-gara takut merusak bentuk rambut yg sudah maco buat ngapel……..

    Thanks for sharing mas!

  2. Halo…saya alumni yang lulus th 1989.. dulu juga pernah ngisi Mading karena kayaknya seumur2 tu mading nggak pernah diisi apa pun. Kepala sekolahnya juga masih pak Herman Satibi…:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*