Resensi Buku : Selimut Debu, Catatan Perjalanan Agustinus Wibowo

Saya mengenal Agustinus Wibowo pertama kali melalui cerita-cerita dan catatan perjalanannya keliling dunia yang dimuat oleh Harian Kompas. Ketika awal pekan lalu mampir ke toko buku Gramedia di Metropolitan Mall Bekasi, saya tidak perlu berpikir dua kali untuk membeli buku catatan perjalanananya, “Selimut Debu”

Selimut Debu adalah kisah perjalanan mendebarkan yang dilakukan oleh Agus, didaerah yang penyebutan namanya sama dengan menyebut kata “perang”. Ya, ini buku tentang perjalanan Agus di sebuah negara bernama Afghanistan. Bayangkan, ini perjalanan yang dilakukan oleh Agus, yang notabene non muslim di sebuah negara yang terkenal karena fundamentalismenya. Perjalanan ini tentu tidak bisa dilepaskan dari segala identitas yang melekat pada Agus, namun dengan piawai ia mampu merangkum bagaimana sebuah agama  bisa menjadi pendamai sekaligus pemicu pertengkaran. Agus dengan handal mampu meramu kisah dan pengalamannya tanpa terkesan menggurui, tanpa terkesan menyalahkan atau memihak salah satu pendapat.

Agus memang petualang hebat. Ia juga jurnalis yang handal. Ceritanya mengalir naik turun dan membawa pembacanya menelusuri kepulan debu gunung-gunung tandus di Afghanistan, berdesakan naik mobil melintasi gurun, ditipu, dibohongi atau ditolong oleh orang berbagai suku dan latar belakang.

Ini bukan perjalanan yang naif. Ini buku tentang catatan perjalanan sejujurnya. Agus bahkan sempat bercerita, bagaimana seorang warga Afghanistan menyambutnya dengan ramah, mengajaknya ke rumahnya dan memperlakukannya sebagai tamu terhormat. Saat malam menjelang, tiba-tiba penyambutnya itu sudah berdiri dihadapannya, tanpa busana. Sontak Agus menjerit dan kabur. Homoseksual merupakan ancaman lain diluar perselisihan antar suku, teror Taliban versus penguasa serta ancaman dari para perampok dan bandit.

Apakah semua perjalanan ini membawa pengalaman negatif? Tentu saja tidak. Agus juga bercerita saat ia terkesima mendengar ucapan bijak pemuka Islam Ismaili, yang dengan santun mengatakan kalimat yang mencerahkan batin. Pengalaman Agus disambut sebagai tamu terhormat, diistimewakan karena ia adalah orang asing hingga cerita-cerita bagaimana penduduk Afghanistan menolongnya ditengah kekurangan mereka sendiri. Andaikan saya jadi Agus, tentulah hati saya penuh sesak dengan segala pengalaman yang ada.

Catatan perjalanan ini memang merupakan buku pertama, meski juga bukan cerita pengalaman pertama. Agus belum membukukan kisah perjalanannya di India dan Nepal. Cerita di Afghanistan kemungkinan dibukukan karena negara ini memang tengah menjadi sorotan. masih ditunggu buku Agus yang lain, seperti nanti cerita di India, Nepal, Tajikistan, Turkmenistan dan seterusnya.

Agus memulai kisah perjalanannya dari Pakistan melalui celah Khyber atau Khyber pass yang terkenal itu, melintasi Tribal area dimana Senapan dan senjata api dijual seperti rokok kretek di Indonesia, melintasi gunung-gunung di pedesaan Afghanistan, menyeberang hingga ke Iran, untuk kemudian kembali ke Kabul dan bersiap masuk ke Tajikistan.

Jika anda penggemar kisah petualangan, inilah buku yang wajib anda miliki. Saya malah terpikir, mungkin Agus ada baiknya membuka halaman donasi, dimana teman-teman yang ingin memberikan support padanya bisa mengirimkan donasi untuk biaya perjalanannya. Appreciate banget melihat galeri foto yang ada di websitenya.

Doa saya untuk kesehatan dan keselamatan Agus. Semoga bisa terus membawa manfaat bagi para pembaca kisah-kisah perjalanannya.

Pin It

10 thoughts on “Resensi Buku : Selimut Debu, Catatan Perjalanan Agustinus Wibowo

  1. wah, saya belum pernah membaca buku tersebut mas vavai, setelah baca dari resensi mas vavai ini ada ketertarikan untuk memiliki dan membacanya secara lengkap 😉

  2. Benar-benar berjiwa petualang sejati.Coba lagi dengan petualangan yang lain,yg lebih seru misalnya; menjelajahi Afrika. Gbu

  3. Sudah keluar tuh yang buku kedua, tentang kisah petualangannya di negara2 berakhiran STAN (Turkmenistan, Tajikistan dll). Judulnya Garis Batas.

  4. tadinya ada teman saya,cerita tentang celah pada jebolnya suatu kain di sebuah kursi,lalu saya tringat pada pelajaran sekolah dulu tentang celah kaiber,saya iseng googling..dimanakah celah kaiber?..eehh sy browsing nemu blog ini,isinya mantap juga ada seorang yang rela berpetualang dan menjadikannya sebuah buku..penasaran juga saya untuk mencari bukunya…trima kasih mas agus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*