Di Indonesiakan atau Tetap Bahasa Inggris : Pro Kontra Penerjemahan

Salah satu topik pembicaraan yang cukup banyak memancing pro-kontra adalah pembicaraan mengenai proses penerjemahan istilah bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya ke bahasa Indonesia, khususnya mengenai istilah-istilah komputer.

Masing-masing pihak memiliki argumentasi masing-masing mengapa mereka lebih pro atau kontra pada salah satu pendapat. Bagi yang pro penerjemahan misalnya, penerjemahan bisa dianggap sebagai pintu masuk pengenalan ilmu dan pengetahuan. Penerjemahan akan membuka peluang cakupan yang lebih luas karena pengguna bahasa Indonesia tentu jauh lebih banyak dibandingkan pengguna berbahasa asing. Penerjemahan juga dapat dianggap sebagai bentuk nasionalisme dan kecintaan pada tanah air.

Bagi yang kontra, penerjemahan dianggap sebagai tindakan yang selfish, esklusif dan kurang mendidik. Penerjemahan kadang bukan membantu pemahaman menjadi lebih baik melainkan justru mempersulit pemahaman. Banyak istilah hasil terjemahan yang justru lebih asing dibandingkan kata asing yang ingin diserap.

Bagi yang kontra penerjemahan, istilah tetikus untuk mouse, berkas untuk file, unduh untuk download, daring (dalam jaringan) untuk online, luring (luar jaringan) untuk offline, perkakas untuk tools dan berbagai contoh lainnya justru membuat suatu artikel menjadi lebih sulit dipahami.

Sekarang, seberapa banyak orang yang paham bahwa surel itu sama dengan email. Surel berasal dari kata surat elektronik. Mas Ivan Lanin bahkan sempat menuliskan usulan penggunaan kata menyurel sebagai terjemahan dari mengirim email. Tulisan ini menuai komentar yang cukup beragam.

Bagi saya pribadi, sikap saya soal pro-kontra ini relatif moderat (jee, moderat kok ngaku-ngaku…)

Maksudnya begini. Bagi saya, soal pro-kontra dikembalikan pada pribadi masing-masing. Saya setuju pada nilai-nilai positif penerjemahan, karena adik-adik dan keponakan saya lebih akrab pada interface berbahasa Indonesia di Blog, Facebook, Google, Yahoo dan lain-lain, meski saya sendiri justru merasa asing dengannya 🙂 . Disisi lain saya sendiri merasakan perlu adaptasi mengenai istilah-stilah bahasa Indonesia yang kurang saya pahami. Saya sendiri menggunakan bahasa lain sebagai bagian dari pembelajaran, bukan karena ingin meniadakan eksistensi bahasa Indonesia.

Berkaca pada pengalaman itu, saya mengambil posisi yang netral bagi saya pribadi. Saya tidak problem dengan tampilan berbahasa Indonesia yang ada pada berbagai website namun saya pribadi masih lebih prefer untuk tampilan berbahasa Inggris. Bukan soal tidak nasionalis melainkan karena saya sudah sedemikian terbiasa pada tampilan itu. Saya juga tidak merasa terintimidasi harus selalu menulis dengan gaya bahasa yang baik dan benar karena kecenderungan saya pribadi biasanya menulis dalam bentuk cerita dan bahasa sehari-hari.

Kecenderungan saya ini terbawa pada sikap saya soal sosialisasi sistem maupun yang lainnya. Saya tidak mempermasalahkan metode dan cara yang digunakan (sepanjang itu merupakan cara yang positif) asalkan substansi yang ingin dicapai sama. Mungkin saya dianggap sebagai peragu, gamang atau bagian dari generasi yang tidak punya pendirian, tak masalah. It’s my life 😛

Diluar pro-kontra penerjemahan, saya cenderung setuju mengenai penggunaan bahasa Indonesia untuk acara di Indonesia dengan target orang Indonesia pula. Menggunakan bahasa asing untuk sekedar gaya, apalagi ditambah dengan salah tulisan dan salah grammar tentu akan jadi sangat memalukan.

Tren penerjemahan yang semakin populer dan diadaptasi  keberbagai media (mesin pencari, tampilan website dan otomatisasi redirect) tampaknya menjadi indikasi awal bahwa penerjemahan akan semakin populer dimasa mendatang. Sekarang saja sudah kata unduh dan narablog sudah cukup banyak digunakan untuk menggantikan kata download dan blogger.

Pada hemat saya, penerjemahan bukan berarti segala istilah harus diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Untuk kata-kata yang sifatnya baku dan umum, saya lebih suka untuk menyerapnya kedalam bahasa Indonesia.

Bagaimana menurut anda ?

Catatan : Foto ilustrasi dari sini.

Pin It

12 thoughts on “Di Indonesiakan atau Tetap Bahasa Inggris : Pro Kontra Penerjemahan

  1. IMHO sebaiknya apa saja, semua hal diterjemahkan saja ke bahasa Indonesia. Memberi kesempatan seluas luasnya kepada orang yang tidak bisa berbahasa asing untuk menyerap ilmu dan informasi sebanyak banyaknya.
    Tapi kalo saya sih kalau materialnya dalam bahasa Inggris ya tidak akan menggunakan variant terjemahan tersebut karena tujuan saya bersaing secara internasional, jadi tidak mau terkungkung dalam bahasa Indonesia saja.
    Tapi kalo menemukan material bukan dalam bahasa Inggris, dan ada yang menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ya senang senang saja, kan sesuai ide awal, memberi kesempatan seluas luasnya kepada orang yang tidak bisa (suatu) bahasa asing untuk menyerap ilmu dan informasi sebanyak banyaknya.

  2. menurut saya, alangkah baiknya kita punya perbendaharaan yang enak diucapkan dan dituliskan terhadap istilah-istilah yang sering dihadapi.

    *haduh, kok jadi baku yah?*

    nggak masalah kok mas, menurut saya terserah saja mau mengajukan istilah padanan selama penggunaannya tidak dipaksakan (orang dipaksa menggunakan). toh, bahasa pun produk budaya yang senantiasa berubah seiring waktu.

    lama kelamaan saya juga jadi suka dengan istilah surel, unduh, unggah, daring, dan luring karena transkripsi dari ucapan ke tulisan yang masih menggunakan kaidah yang ‘alami’. *misalnya pada situasi memberitahukan URL via suara (telepon)*

  3. Saya juga moderat untuk hal ini. Tapi ada satu kelebihan menggunakan bahasa asalnya (inggris) yang belum disebut di artikel yaitu kita lebih terbiasa dengan istilah tersebut manakala kita harus membaca dokumen di internet.

    Bayangkan kalau kita tidak terbiasa dengan istilah komputer dalam bahasa Inggris lalu disuruh membaca Javadoc.

  4. Sebenarnya kekikukan menggunakan Bahasa Indonesia terjadi karena keterlambatan penerjemahan.
    Coba kalau dulu begitu komputer mulai booming (doh, saya kok ya jadi pake boso enggres nih) di Indonesia, mouse langsung diterjemahkan tetikus, file langsung disebut berkas, maka semua akan terbiasa.
    Nampaknya butuh 1 generasi untuk bisa murni menggunakan Bahasa Indonesia dalam dunia teknologi. Itupun kalau 2012 tidak jadi kiamat :p

  5. iya.. sama nih Om, saya malah bingung waktu instal tambahan bahasa indonesia untuk mirkosop.. “SEGARKAN(F5)”.. heu..tapi tetep pake bahasa indonesia yg diusahakan BAIK dan BENAR.. dan sangat benci terhadap bahasa yg banyak digunakan para remaja saat ini (alay..dan lain2).. masih mendingan pake bahasa asing dah daripada pake bahasa yg SATU ini.. hiwhiww..

  6. @dedhi,

    Thanks buat pandangannya yang mencerahkan.

    @Ben,
    Thanks. Cocok buat jadi proof reader 🙂

    @Pebbie,
    Memang tidak dipaksakan, namun tren-nya akan kearah itu karena sebagian website besar menggunakan model redirect otomatis sesuai asal negara, meski kita tetap punya pilihan mengubahnya. Saya setuju bahwa bahasa senantiasa memiliki banyak faktor dalam pemasyarakatannya. Kalau kita tidak terlalu akrab pada suatu istilah, kita bisa memilih untuk tidak menggunakannya, tidak menyerapnya atau mengajukan kata pengganti.

    @Nanda,
    Thanks buat tambahannya. Untuk pemahaman dokumen spesifik seperti javadoc atau berkas lain dalam konteks tertentu memang membutuhkan penyesuaian, analoginya sama saja dengan meminta penerjemah umum untuk menjadi penerjemah pertemuan industri.

    Saya pernah mengikuti pertemuan yang menghadirkan pihak manajemen dari Jepang dengan pekerja di Indonesia, hasil terjemahannya banyak yang tidak tepat karena istilah industri yang sudah baku (seperti TQM, QCC, Just in Time) diterjemahkan mentah-mentah ke bahasa Indonesia.

    @Oom Yahya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali 🙂
    Sekarang mungkin penerimaannya sudah lebih baik ketimbang beberapa tahun lalu Om, soalnya saya masih ingat dulu ada Winbi (Windows berbahasa Indonesia) yang layu sebelum berkembang, CMIIW.

    @Budijoi,
    Penerjemahan yang kurang pas memang menjadi kendala, itulah mengapa saya menghargai para penerjemah yang cukup kreatif dalam memilih kata terjemahan yang lebih simple dan mudah dipahami (seperti contoh luring dan daring).

    Bahasa alay ? Jadi ingat bahasa prokem saat masih seumuran SMP 😀

  7. Ironisnya, belajar bahasa baku seperti mempelajari bahasa asing satu lagi.

    Masalahnya kalau belajar bahasa Inggris, banyak materialnya di Internet, banyak yang bisa. Tidak yakin sesuatu bisa diskusi sama teman, beres.

    Kalau belajar bahasa baku? Punya 20 teman, semuanya sama sama bingunggg.

  8. @Kris,
    Hehehe, pengalaman pribadi ya 🙂

    Materi-materi tutorial atau artikel berbahasa Indonesia memang mesti terus diperbanyak dan menjadi tantangan untuk memperbanyaknya. BTW, saat ini materi-materi berbahasa Indonesia sudah cukup banyak di internet.

    Sama-sama bingung mungkin karena sudah sangat terbiasa dengan bahasa yang selama ini digunakan 🙂

  9. Jujur saja, saya sering ragu kalau menulis e-mail dalam Bahasa Indonesia. Kalau tidak pakai tanda pisah, takutnya nanti tertukar dengan email yang berarti lapisan gigi :D.

    Surel lebih indah. Tetapi kawan saya mengatakan, PT Pos Indonesia menggunakan kata ratron, bukan surel. Nah lo.

    Kata “mengunduh” juga terlihat lebih enak dibandingkan kata “men-download” apalagi “ngedonlot”.

    Yang belum terbiasa buatku adalah kata-kata seperti jaring dan luring. 😀

  10. Saya setuju jika istilah2 yg memang bisa dibahasaindonesiakan diteruskan, tapi jangan maksa. Apalagi istilah2 komputer. Coba saja bikin terjemahan ini dalam bahasa indonesia :

    Array (senarai?)
    Hardware Abstraction Layer
    Regular Expression
    Static Typing Compiled Languange
    dst..

    Niscaya pemrograman akan menjadi sulit dipelajari..

    *di jepang setahu saya tidak semua istilah diterjemahkan.., tetapi tetap dibiarkan seperti aslinya..

  11. Ini masalah selera. Kalau topik yang berkenaan dengan selera, pasti susah ketemu ujungnya. Ada yang suka antarmuka bahasa Indonesia, silakan. Ada yang suka antarmuka bahasa asing, ya, silakan juga. Yang penting, tidak saling menggigit.

    (Kalau ada kesempatan, atau sedang usil, saya ubah antarmuka komputer saya dengan bahasa India atau Thailand)

    Yang patut diketahui, proses translasi ini susah-susah gampang, bikin gregetan. Nyakitin hati tapi bikin senang. Saya sudah beberapa kali ikut menerjemahkan program kode terbuka (open source), dan memang itu yang saya rasakan. Heheheee^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*