Rencana Mengelola Toko

Sewaktu masih bekerja sebagai operator produksi beberapa tahun yang lalu, saya selalu beranggapan bahwa saya adalah salah satu anak orang tua saya yang tidak cocok bekerja secara wiraswasta. Bapak saya tadinya adalah pedagang keliling sedangkan ibu saya adalah ibu rumah tangga biasa, yang kemudian beralih membuka usaha rumah makan. Saya merasa lebih pas kerja sebagai karyawan atau pegawai. Biarlah adik atau kakak saya yang meneruskan usaha dan jiwa dagang dari kedua orang tua saya.

Sekarang ini situasinya terbalik. Kecenderungan saya justru hendak berwirausaha. Saya menikmati upaya saya membangun usaha dari nol, dengan modal kecil dan dengan kerja keras sepenuh hati. Saat ini saya memang masih amfibi, apalagi usaha yang saya lakukan dalam bentuk warnet masih bisa ditangani oleh adik saya. Meski demikian, saya punya rencana bahwa tahun 2010 ini merupakan tahun terakhir saya bekerja pada orang lain. Saya merasa jauh lebih enjoy bekerja membangun usaha sendiri, tentunya dengan persiapan yang matang.

Usaha warnet merupakan usaha offline yang mulai berjalan meski belum terlalu pesat. Paling tidak, usaha ini sudah menghentikan pendarahan pengeluaran biaya dan mulai proses turn over atau recovery melalui pemasukan harian. Warnet juga mampu membiayai pengeluaran, baik biaya sehari-hari, biaya listrik-telepon-internet maupun untuk menggaji adik saya yang menjadi operator warnet.

Fokus saya akan sedikit beralih. Masih ada tanggungan saya pada orang lain sebesar lebih kurang 5 juta rupiah. Setelah tanggungan ini tertutup paling lambat pada akhir Februari 2010, saya akan mulai bergerak pada pengambilalihan operasional toko milik orang tua saya.

Toko ini menjual keperluan sehari-hari, mulai dari sembako, gas hingga utility kecil lainnya. Saya tertarik melihat foto toko yang diambil oleh rekan saya sesama blogger Bekasi, mas Rawi Wahyudiono seperti gambar dibawah ini (klik untuk memperbesar). Mas Rawi adalah sosok wirausahawan yang pola pemikirannya menarik untuk diikuti karena ia tipikal pengusaha dengan mindset wirausaha sejati.

Untuk tahap awal, toko seperti itulah yang hendak saya buat. Rencana saya mestinya lebih mudah saya realisasikan karena bangunannya sudah ada, tokonya juga sudah ada. Yang saya perlukan adalah merapikan layout interior dan menata etalase agar toko kelihatan penuh dan lengkap.

Saat ini modal toko merupakan modal orang tua saya. Karena menggunakan model manajemen tradisional dimana modal dipakai untuk keperluan lain-lain (misalnya uang sekolah, biaya makan dll), sering sekali timbul kejadian isi toko terlihat kosong dan pembeli kecewa karena tidak mendapatkan barang yang ingin dibeli.

Niat saya membangun toko bukan untuk hak milik saya, melainkan untuk memberikan lapangan pekerjaan buat family atau keponakan saya yang belum bekerja. Saya akan memberikan support dalam bentuk modal dan manajemen, sementara orang tua saya akan naik ke posisi penasihat. Saya belum tahu berapa kira-kira omset harian untuk toko seperti ini, namun buat saya pribadi, keuntungan beberapa puluh ribu rupiah sudah cukup menyenangkan karena bisa membantu pendapatan warnet dalam membiayai pengeluaran hidup orang tua dan keluarga saya di Tambun.

Saya sedikit berhitung, dengan asset berupa ruang toko dan etalase yang sudah ada, uang 5-10 juta rupiah sudah bisa saya gunakan untuk menjalankan rencana ini. Untuk mendapatkan uang ini, saya akan memaksimalkan usaha training dan project-project IT yang saya lakukan sehingga tidak akan mengganggu cash flow isteri.

Doakan agar segalanya berjalan lancar dan sukses.

Pin It

20 thoughts on “Rencana Mengelola Toko

  1. Amiiin. Rencana yang menarik, kebetulan saya juga sedang turun tangan dalam bisnis toko Ibu saya. Saat ini sedang bikin software untuk penjualan, mungkin Pak Vavai juga butuh? 😀

  2. @SeaGate,

    Thanks boss. Mungkin bisa saling share pengalaman nih 😀

    Saat ini software-nya belum perlu karena memang bukan model swalayan gitu. Kalau nanti berkembang kemungkinan akan butuh.

    Sukses selalu.

  3. keluarga saya juga adalah keluarga wiraswasta dan petani, sekarang pun saya malah lebih tertarik sama wira usaha, apapun bidang usahanya, saya sudah coba kemarin bekerja sebagai orang “kantoran” di Unpad, saya hanya sanggup bertahan 2 bulan, padahal bidang yang digeluti cukup saya minati, itung2 sambil belajar banyak dari para leluhur disana, tapi tetap saja tidak betah. saya malah lebih enjoy bantu2 di warnet kakak saya, hehe… *kok kayaknya kita mirip ya mas? hehe..*

  4. Iya Mas.. semoga

    setelah membaca pemikiran mas vavai saya juga ngebet pengen wirausaha.

    cuma selalu ragu2.. dan masih mikir dana untuk nikah 🙂 kl di pake buat bisnis tar takut gak nikah2

  5. @Ahmad, semoga sukses mas

    @Jonathan,
    Jangan ambil dana untuk nikah, nanti kalau meleset dari perkiraan bisa runyam. Lebih baik cari alternatif pembiayaan lain, misalnya mengajar, memberikan les privat atau yg lainnya.

  6. Selamat dan sukses mas Vavai, untuk usaha warnet lebih bagus lagi ditambahkan feature pembayaran online listrik dan telkom, bila tertarik saya fasilitasi free instalasi

  7. sebbenarnya orang tuaku juga pedagang tapi selalu merugi, jadi aku takut untuk meneruskannya.tapi pada dasarnya aku pengen usaha sendiri dan minatku tetep pada wirausaha sendiri

  8. @Tri Yanto, Eko Didik, Tina Puji, Kheri AS,

    Terima kasih all. Appreciated. Untuk Tina, sepanjang kita sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya kita tidak perlu khawatir pada hasil akhir.

  9. Mas vavai.. saya saat ini masih ngodok (amfibi) rencana tahun 2012 adalah tahun terakhir saya kerja tetap sama orang. Sebenarnya pekerjaan saya sekarang cukup nyaman sih.. tapi saya yakin lebih nyaman kalo wirausaha.. klien2 besar dan kecil sudah ada, tapi gak sempat garap secara serius.. mohon dukungannya ya kalo nanti saya perlu ikut training atau mau konsultasi. Semoga sukses selalu..

  10. Pingback: Mulai Wirausaha : Membuka Toko & Warung Kecil | Migrasi Windows Linux

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*